Wujudkan Kampus Responsive Gender, PSGA UNISNU JEPARA Bedah Indikator PTRG

Wujudkan Kampus Responsive Gender, PSGA UNISNU JEPARA Bedah Indikator PTRG

Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU JEPARA) turut serta berpartisipasi menghadiri undangan Workshop Operasionalisasi Indikator Perguruan Tinggi Responsive Gender yang diselenggarakan oleh Rumah Kitab, We Lead (Women’s Voice and Leadership), Hivos Shoutheast Asia, JASS (Just Associates) dan berkolaborasi dengan PSGA UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai tuan rumah.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari mulai Selasa-Kamis, 18-20 Januari 202, bertempat di Sunan Hotel Solo dengan dihadiri oleh 9 Tim PSGA dari berbagai Perguruan Tinggi yaitu UIN Raden Mas Said Surakarta, UIN Walisongo Semarang, IAIN Metro Lampung, IAIN Pekalongan, IAIN Ponorogo, UIN Riau, IAIN Samarinda dan PSGA UNISNU Jepara.

Workshop ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk merancang dan mengimplementasikan kampus responsive gender. Ada 9 indikator Perguruan Tinggi Responsif (PTRG) yang akan dibedah, meliputi indikator adanya PSGA, Profil Gender, dan SK Rektor tentang PUG di Perguruan Tinggi, standar mutu pendidikan yang responsif gender, Standar Mutu pengabdian masyarakat yang responsif gender, Tata kelola perguruan tinggi yang responsif gender, peran serta sivitas akademika dalam perencanaan – evaluasi tindak lanjut Tri Dharma Perguruan Tinggi yang responsif gender, dan zero tolerance kekerasan terhadap perempuan dan laki-laki.

Dengan indikator yang terukur, diharapkan dapat menuju Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) yang mana bertujuan untuk memastikan seluruh warga kampus agar dapat memahami konsep, prinsip, dan strategi pengarusutamaan gender yang dijalankan. 

Ketua PSGA UNISNU JEPARA, Santi Andriyani, M.Pd., berharap melalui forum ini, PSGA Unisnu Jepara mampu berproses dalam upaya mewujudkan kampus yang responsive gender. “Terwujudnya kampus responsive gender ini tentunya akan mendukung kampus menjadi tempat yang sehat, aman, dan nyaman bagi warganya dalam belajar maupun bekerja tanpa adanya tindak kekerasan bentuk apapaun”, tuturnya.

Kegiatan workshop ini dikemas sangat apik dan menarik, terbukti dengan antusiasnya para peserta sehingga dalam pembedahan indikator ini benar-benar sangat mendalam dan dikaji menggunakan feminist approach dalam membangun pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman nyata dan terjadi di lapangan. Selain itu, para peserta juga berkesempatan untuk berdiskusi dan berdialog langsung untuk menyampaikan hasil FGD dari workshop ini secara virtual kepada Ibu Lies Markoes sebagai Direktur Rumah Kitab dan Ibu Leni dari KPPA.

Melalui workshop ini diharapkan dapat menghadirkan persamaan persepsi tentang permasalahan gender yang terjadi pada perguruan tinggi, menumbuhkan sensitivitas gender, tersusunnya dokumen PUG, terekstraksinya pengalaman menjadi sebuah pengetahuan, kebijakan responsive gender dan terwujudnya lingkungan ramah gender serta zero tolerance terhadap kekerasan dan pelecehan seksual. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini adalah adanya deklarasi bersama para peserta workshop sebagai bentuk komitmen dalam mengimplementasikan indikator perguruan tinggi yang responsif gender.