Tim Falak UNISNU Lakukan Pengamatan Pada Fenomena Hari Tanpa Bayangan

Tim Falak UNISNU Lakukan Pengamatan Pada Fenomena Hari Tanpa Bayangan

Matahari akan berada tepat di atas sejumlah wilayah di Pulau Jawa hari ini, Senin 11 Oktober 2021. Yang menyebabkan fenomena hari tanpa bayangan terjadi pada siang hari, hal ini pun terjadi di berbagai wilayah mulai dari Bandung, Semarang, hingga Surabaya, tak terkecuali juga Jepara.

Hari tanpa bayangan merupakan fenomena ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Fenomena ini terjadi pada saat matahari tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit, yang membuat bayangan benda tegak akan terlihat menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri.

Penelitian dan pengamatan langsung juga dilakukan oleh Lembaga Kajian Ilmu Falak Fakultas Syariah UNISNU Jepara, dengan menggunakan pengamatan teropong dan visual mata lewat objek benda berdiri.

Hudi, ketua tim Falak UNISNU menjelaskan bahwa fenomena ini memang lumrah terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia. “Bahkan untuk tahun ini bisa berlangsung dua kali dalam setahun, yakni pada akhir Februari hingga awal April 2021. Sedangkan yang kedua akan terjadi antara 6 September hingga 21 Oktober 2021 ini,” terangnya.

Lembaga Kajian Ilmu Falak UNISNU Jepara, lakukan pengamatan bertempat di lapangan basket kampus pada Senin (11/10/2021) (Dok : Foto Humas Jepara)

Fenomena ini berlangsung terjadi saat matahari tepat berada pada posisi paling tinggi di langit. Di saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut dengan Kulminasi Utama. Matahari saat itu akan tepat berada di atas kepala pengamat atau pada titik zenit.

Hal tersebut mengakibatkan, bayangan benda tegak akan terlihat “menghilang”, karena mengalami penumpukan atau bertumpuk dengan benda itu sendiri.

Ia juga menjelaskan untuk mengecek hilangnya bayangan saat tengah hari ketika “Hari Tanpa Bayangan”, siapkan benda tegak seperti tongkat, tiang, spidol, botol. Letakkan benda di permukaan yang rata. Jika tidak ada, dapat menggunakan bandulan dalam keadaan setimbang.

Pengamatan ini sendiri dilakukan oleh sejumlah mahasiswa UNISNU dengan dibantu alat teropong digital serta praktik memanfaatkan benda tegak diatas keramik.

Selain itu masyarakat yang ingin melakukan pengamatan, disarankan untuk mengkalibrasi jam yang akan digunakan untuk menandai waktu melalui https://jam.bmkg.go.id. Kemudian amati bayangan yang dihasilkan oleh benda pada tanggal dan jam yang sudah ditentukan, untuk di wilayah Jepara yakni pukul 11.24 WIB.

Dikutip juga dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa fenomena Matahari tepat di atas Pulau Jawa akan terjadi selama pekan ini hingga 14 Oktober. Dan fenomena hari tanpa bayangan disebut hanya dapat diamati ketika cuaca cerah.

Selain itu Fenomena hari tanpa bayangan disebut tidak berlaku saat tutupan awan cukup besar yang menyebabkan suhu permukaan Bumi cenderung menurun, meskipun hawa gerah tetap dapat dirasakan akibat berkurangnya kelembaban.

Mengapa terjadi hari tanpa bayangan?

Fenomena matahari tepat berada di atas Pulau Jawa yang menyebabkan hari tanpa bayangan dapat terjadi lantaran sumbu rotasi Bumi yang miring 66,6 derajat terhadap ekliptika. Hal ini membuat Matahari tidak selalu berada di atas garis katulistiwa (lintang 0°) melainkan berada di lintang 23,4°LU (garis balik utara) hingga 23,4°LS (garis balik selatan).

Sehingga sejumlah wilayah yang terletak di antara dua garis balik tersebut mungkin mengalami fenomena Matahari di atas pulau Jawa. Fenomena ini disebut terjadi sebanyak dua kali setahun. Fenomena bisa dirasakan ketika tengah hari.

“Pulau Jawa terletak di antara lintang 6°-8°LS atau berada di sebelah selatan garis katulistiwa. Sehingga, Matahari akan berada di atas pulau Jawa beberapa hari setelah Ekuinoks September dan beberapa hari sebelum Ekuinoks Mare,” kata Hudi.