Taqwa Itu Memedomani Sifat-Sifat Allah

Taqwa Itu Memedomani Sifat-Sifat Allah

Oleh : Sa'dullah Assa'idi Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara   Seorang filosof bernama Abu Ali Husein Ibn Abdillah Ibn Sina lahir tahun 980 di Afsyana, daerah dekat Bukhara Rusia, wafat tahun 1037 di Isfahan Iran, pernah mengatakan bahwa orang bertaqwa itu mempedomani sifat-sifat Allah. Ia bebas dari ikatan raganya. Di dalam dirinya ada "kekuatan" yang tersembunyi, meski nyata apa adanya. Ia selalu gembira dan tersenyum. Hatinya penuh kegembiraan, sejak mempedomani sifat-sifat-Nya. Yang dilihatnya di mana-mana hanya krbenaran dan Yang Mahasuci. Ia nilai makhluk Allah sama-sama mendapat rahmat, baik yang taat maupun yang bergelimang dosa. Ia tidak mengintip kelemahan orang lain, tidak mencari kesalahan, tidak akan marah dan tersinggung, meski melihat yang munkar, karena rahmat kasih sayang-Nya meliputi jiwanya. Ia memandang "sirr Allah" (rahasia Tuhan) membentang di dalam kidrat-Nya. Tapi ia selalu mengajak pada kebaikan, dengan cara lemah-lembut tanpa kekerasan, kecaman atau kritik. Ia tampil dermawan, tapi cintanya pada materi tidak berbekas. Ia selalu nemaafkan, karenanya ia menampung kesalahan banyak orang, dan tidak mendendam. Seluruh ingatannya tertuju kepada Yang Esa. Sebelum Ibn Sina, ada orang 'alim-zuhud berwibawa bernama Abu Sa'id al-Hasan Ibn Yassar al-Bashri al-Tabi'i lahir 21 H (647) dan wafat 110 H (728) di Bashrah, menggambarkan orang yang mempedomani sifat-sifat Allah sehingga mencapai taqwa yang sebenarnya: "Anda akan menjumpai orang itu, teguh keyakinannya, teguh nan bijaksana, tekun nenuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa semakin bijaksana, tampil wibawa di muka khalayak umum, nyata syukurnya di kala beruntung, menonjol qana'ah (kepuasan)-nya dalam menerima rizeki, meski miskin selalu berhias, tampil cermat, meski kaya tidak boros, murah hati dan murah tangan, tidak menghina, tidak menyia-nyiakan waktu dalam bersantai, tidak membawa fitnah saat berjalan, disiplin dan berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugas, tidak nenuntut yang bukan haknya, tidak menahan hak orang lain, selalu memelihara identitasnya. Jika ditegur ia menyesal, jika salah ia istighfar, jika dimaki ia tersenyum sambil berkata: "Jika makianmu benar, aku memohon semoga Allah mengampuniku; tapi jika makianmu salah maka aku memohon semoga Allah mengampunimu". Semoga kita mampu mempedomani sifat-sifat Allah.