Takwa: Upaya Melindungi Diri

Takwa: Upaya Melindungi Diri

Takwa: Upaya Melindungi Diri

Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag.

Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU JEPARA)


Takwa adalah upaya melindungi diri dari akibat perbuatan sendiri yang buruk dan jahat. Istilah "takut kepada Allah" memiliki makna takut akan akibat-akibat perbuatan sendiri, baik akibat-akibat di dunia maupun di akhirat nanti adalah sangat tepat. Inilah rasa takut yang timbul karena seorang hamba menyadari bahwa dirinya memiliki tanggung jawab dunia-akhirat.

Takwa itu identik dengan conscience, suara hati atau hati-nurani, yang berarti "kekokohan energi positif dalam tensi-tensi moral", atau di dalam "batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah", yaitu Syari'atullahi Ta'ala, dan tidak menggoyahkan keseimbangan di antara tensi-tensi tersebut. Sehingga menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, imtitsalu awamirillahi wa ijtinabu nawahihi, merupakan amal perbuatan berkualitas dari seorang hamba, yang menyebabkan ia merasa mendapat petunjuk Allah dan menyukai ibadah kepada-Nya.

Daftar Sekarang

Firman Allah, "Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik. Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)" (QS Al-An'am/6: 161-163).

Sebagai "kekokohan energi positif di dalam tensi-tensi moral", takwa kepada Allah adalah kesadaran iman yang tumbuh ketika seorang hamba menyatakan beriman kepada ajaran Wahyu Allah SWT. "Iman" dalam rumusan Ilmu Kalam (Teologi Islam) adalah tashdiq bil-qalbi (pembenaran yang terjadi dengan dan di dalam hati), taqrir bil-lisan (pernyataan dengan ungkapan lisan) dan a'mal bil-arkan (amal perbuatan dengan kenyataan sendi-sendi beragama).

Tiga unsur tersebut mendasari kesadaran iman dan mendeteksi gejala-gejala yang perlu mendapat perhatian yaitu fluktuasi tingkat kesadaran, al-imanu yazidu wa yanqushu (iman itu bisa bertambah dan berkurang). Karena itu pernah seorang sahabat bernama Abu 'Amr atau Abu 'Amra Sufyan Bin Abdillah menyampaikan, "Wahai Rasulullah katakan kepadaku suatu perkataan (wasiat) terkait ajaran Islam, yang saya tidak akan menanyakannya kepada seorang pun selain kepada paduka. Lalu beliau bersabda, "Katakanlah, "Aku beriman kepada Allah", kemudian "pegangi-laksanakan dengan jujur" (HR Muslim).

Bahkan Rasulullah pernah bersabda, "Janganlah anda semua saling menghasud, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi, dan tidak (merebut) jual-beli satu sama lainnya yang saling menjual-belikan dagangan. Jadilah anda semua sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya tidak pantas menzhaliminya, enggan membelanya, mendustakannya dan menghinanya. "Takwa itu di sini" --Beliau menunjukkan tangannya ke arah dadanya tiga kali. Terlalulah kejahatan seseorang sempat menghina saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain haram, yakni terjaga (di sisi Allah) kehormatan darah, harta dan wibawa-kemanusiaannya" (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Gejala naik-turunnya kesadaran iman hingga turun drastis justru tampak dalam kehidupan bermasyarakat, seperti tercermin seseorang dengan mudahnya bernafsu hasud, menipu-daya, membenci, merekayasa transaksi yang ujungnya menzhalimi sesama hamba Allah. Akibatnya kekokohan energi positif menjadi rapuh melemah berganti energi negatif menguasai diri pribadinya karena nafsu hasud, tipu-daya, kebencian dan keburukan lainnya.

Akan tetapi Allah SWT akan mengampuni atau mengabaikan nafsu keburukan hamba-Nya yang sesat itu, asalkan segera keseluruhan amal perbuatannya diperbaiki dan kembali bermanfaat tetap dalam konsep takwa untuk bertaubat. Allah berfirman, "Dan orang yang membawa kebenaran (Nabi Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya. Demikianlah balasan bagi orang yang berbuat baik" (QS Al-Zumar/39: 33-34).

"Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat. Taubat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Mahamengetahui, Mahabijaksana" ( QS. Al-Nisa/4: 17).