Tajribah Rabbaniyah

Tajribah Rabbaniyah

Tajribah Rabbaniyah

Maksud tema tersebut ialah pengalaman dan kesadaran keruhanian yang sangat tinggi. Dalam wujudnya yang sempurna, pengalaman ketuhanan adalah "kasyf" dan "tajalli", sebagaimana lazim dalam dunia kaum sufi. "Kasyf" diartikan "menyingkapan", yakni pengalaman tersingkapnya tabir (hijab) pancaran Ilahi. Dalam keadaan demikian pancaran Ilahi menyatakan diri pada seseorang (tajalli=theophany), suatu pengalaman misterius (tajribah sirriyyah) subjektif yang diperoleh seseorang yang telah mencapai (karena memang suluk) tingkat yang tinggi (madraj 'aliy) dalam perkembangan kehidupan ruhaniyah melalui proses "olah ruhani" ( riyadlah ruhaniyah ) dalam deret ibadah-ibadah.. dari fardlu hingga sunnah.

"Tajribah rabbaniyah" menghendaki penghayatan kepada wujud Ilahi sebagai Yang Serba Dekat atau Maha Hadir (Omnipresent). Ini  pandangan Islam: bahwa Allah dalam Wujud Yang Maha Dekat dijelaskan, "Dan bila para hamba-Ku bertanya kepada engkau (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah Maha Dekat. Aku menjawab seruan orang yang berseru, jika ia memang berseru/memohon kepada-Ku" (QS 2:186). Allah Yang Maha Hadir tanpa terikat ruang dan waktu, dapat dipahami dari firman, "Dia beserta kamu sekalian di mana pun kamu berada, dan Allah Maha Melihat segala sesuatu yang kamu kerjakan" (QS 57:4), "Milik Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadapkan wajahmu, di sanalah Wajah Allah" (QS 2:115), "Kami (Allah) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya" (QS 50:16), "Ketahuilah olehmu sekalian bahwa Allah menjadi sekat antara seseorang dengan hatinya sendiri" (QS 8:24), dan seterusnya.

Pesan Al-Qur'an tentang  dekatnya Allah kepada manusia menunjukkan bahwa manusia tidak dapat menghindar dati Hadlirat-Nya. Kesadaran akan Hadlirat Ilahi itu pokok dan merupakan inti hakikat kemanusiaan, yang telah mengikat perjanjian primordial dengan Allah, berwujud persaksian bahwa Allah Satu-satunya Dzat yang boleh dan wajib disembah (QS 7:172).

Jadi manusia adalah makhluk ketuhanan, yang menurut tabiat dan alam hakikatnya sendiri sejak masa primordialnya selalu mencari dan merindukan Allah. Ilahiy Anta Maqshudiy wa ridla mathlubiy a'thiniy mahabbataKa wa ma'rifataKa.. inilah fithrah kejadian asal suci nya, dan dorongan alami nya untuk selalu merindukan, mencari dan menemukan (rahmah dan hidayah) Allah itu disebut hanif. Sampai di sini cara menghubungkan diri dengan Allah perlu ikhtiar dan mujahadah, sehingga bimbingan (irsyad) ke arah perilaku yang baik dan terpuji, termasuk ucapan, laku-lampah dan jalan hidup sangat diperhatikan untuk diperbaiki. Allahu A'lamu.


Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag

Rektor Unisnu Jepara