Tahun Baru 2021, Menuju Kesatupaduan Realitas Absolut

Tahun Baru 2021, Menuju Kesatupaduan Realitas Absolut

Masa, waktu berlalu bertemu padu masa, waktu kini, mendatang, tahun baru 2021 dan seterusnya adalah kita Insan ciptaan Allah Yang Maha Pengasih, Penyayang. Kita hadir dan kembali dari pengembaraan potensial menuju puncak luhur di dalam relung "realitas absolut". Setidaknya di puncak itu kita telah menempuh penjajagan-penjajagan pendahuluan --anggap saja setahun kemarin. Kita harus mampu menemukan dan memetik susunan benar yang baik nan indah dari hasil penjajagan tersebut, yang memadukan keanekaragaman realitas relatif (opini keberagamaan) dengan realitas mutlak (ajaran agama) ke dalam suatu Kesatupaduan Realitas Absolut –ruang waktu transenden penuh ridha Ilahi.

Ternyata konsep "Kesatupaduan Realitas Absolut" memiliki komponen-komponen yang bersesuaian dengan konsep-konsep ontologis jagat alam semesta dan terbaca di dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Inilah fithrah yang menyarankan kita untuk membuat kesatupaduan  tersebut sebagai konsep dasar bagi filsafat (hikmah) hidup kita, baik kolektif maupun masing-masing individu, ibda' binafsik, mulailah pada diri Anda untuk peka diri, kenal dan mengerti diri sendiri sampai menyesali diri sendiri karena salah, gagal, angkuh guna menuju sadar, berbagi kasih untuk kehidupan harmonis dalam ridha Allah.

Berdasar kesesuaian-kesesuaian di atas, "kesatupaduan" berguna sebagai media filosofis yang memperlihatkan paralelitas kebenaran yang termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur'an dengan kebenaran ayat-ayat Alam Semesta. Sikap koherensi ini, yang merupakan cermin perspektif Islam Ahlussunnah wal-Jama'ah, adalah hasil usaha peradaban  keilmuan ulama. Banyak filosof Muslim dan para mujtahid dalam merumuskan model ideal teladan Rasulullah Muhammad SAW.

Perspektif ini berguna menyerasikan kebenaran Qur'aniyyah yang suprarasional, yakni Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dengan kebenaran ilmiah yang prarasional berupa produk ijtihad para intelektual Muslim yang tekun menelaah ayat-ayat Allah di alam lingkungannya --terutama lingkungan pendidikan. Perlu disadari, bahwa penyerasian itu dicapai dengan menelisik kelembutan rasa yang tajam terhadap tanda-tanda yang ada pada dirinya (ayat basyariyah) berupa aturan-aturan logika untuk memperoleh pengertian pokok, kebenaran falsafiyah, yang serasi dengan dua jenis kebenaran yang disebut terdahulu.

Kita sebagai insan yang hidup dan beraktivitas di lingkungan dunia akademis patut mengerti, bahwa pemikiran Islam tradisional telah menghubungkan kebenaran Qur'aniyyah dengan kebenaran ilmiah yang diperoleh ilmu-ilmu pengetahuan tradisional. Untuk menuju "kesatupaduan realitas absolut", mari ruang waktu kita sekarang ini kita gunakan untuk mengejar berkembangnya ilmu pengetahuan tradisional menjadi ilmu pengetahuan modern.

Mari kita mewarnai pemikiran Islam tradisional --yang menghubungkan ilmu pengetahuan Yunani Hellenistik dengan Al-Qur'an-- dengan suatu pemikiran Islam modern model Ahlussunnah wal-Jama'ah. Pemikiran Islam modern model Ahlussunnah wal-Jama'ah dikonstruksikan dengan koherensi antara ilmu pengetahuan Islam modern dengan prinsip ajaran Al-Qur'an berbasis teladan Sunnah Nabi Muhammad SAW, Sahabat Nabi dan pandangan ulama yang mu'taqad wa mu'tabar (populer committed).

Selamat Tahun Baru 2021 untuk kita semua, alhamdulillah kita patut bersyukur, ruang waktu Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara milik kita sekarang menjadi penghubung ke ruang waktu UNISNU yang akan datang. Ternyata dilihat dari sudut penyerasian,  "Kesatupaduan Realitas Absolut" dapat dipandang sebagai rekonstruksi pemikiran Islam Ahlussunnah wal-Jama'ah modern, dengan menunjukkan posisinya di antara pemikiran kaum Muslimin dan kecenderungannnya, di samping menekankan kehidupan akademis Cendekia dan Berakhlaqul Karimah bagi peradaban dunia Islam. Tentunya hal ini memerlukan banyak telaah konseptual ragam kesatupaduan yang menjadi pesan suci Al-Qur'an, seperti kesatupaduan Tuhan-alam-manusia, diri-cakrawala-kebenaran, anfus-afaq-haqq dan lain sebagainya.

Memasuki tahun baru dan masa baru, kita insan akademis perlu memiliki spektrum dan cara pandang jauh ke depan berbasis potensi fithrah, cakrawala atau horizon perlu dikenali. Horizon yang paling dekat dengan diri pribadi manusia adalah lingkungan sosial atau lingkungan kultural, yaitu alam buatannya sendiri. Di luar buatan manusia, adalah alam ciptaan Tuhan yang merupakan lingkungan natural, yakni cakrawala --yaitu As-samaawaat wa al-ardl wama fihaa (langit bumi seisinya) yang melingkari diri manusia.

Belum juga habis unsur-unsur yang harus masuk ke dalam "kesatupaduan realitas", belum juga muncul ilham-ilham ilmiah, dan bahkan belajar pun belum tamat, sering kita berkata: "para ilmuwan Muslim telah mampu menggali kandungan makna dalam Al-Qur'an guna dikembangkan sebagai penemuan ilmiah. Bukan sebaliknya, seperti selama ini bahwa ayat-ayat Al-Qur'an dicari-cari untuk menjelaskan penemuan ilmiah atau teknologi baru, kemudian digembar-gemborkan bahwa "semuanya sudah ada di dalam Al-Qur'an".

Selama sikap yang disebut belakang ini yang diambil, tentu akan tetap menjadi tertawaan dunia ilmu pengetahuan modern, karena tidak bisa menyumbangkan apa-apa kecuali perkataan "semua sudah ada dalam Al-Qur'an". Ya, ini untuk menutupi kompleks rendah diri. Tapi untunglah, dunia akademis semakin maju berkembang, artinya kita memiliki peluang untuk merubah, meneliti, memperbaiki, mencipta dan menampilkan temuan baru, pada posisi yang diridhai Allah.

"Kesatupaduan Realitas Absolut" dari dunia nyata perlu berpedoman pada firman "Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka Kami arahkan engkau ke qiblat yang engkau senangi (ridhakan). Maka hadapkankah wajahmu ke arah Masjidil-Haram.." [QS al-Baqarah/2: 144] Pesan Al-Qur'an ini bagi kita umat Islam hidup beraktivitas di bumi harus memiliki satu orientasi spasial (keruangan) yang sama atau satu padu, yaitu pada satu titik Ka'bah, hal ini sekaligus melambangkan satu spiritual yaitu diri manusia --lahir-batin-- terarah kepada Allah. Jadi ruang waktu kita secara individu harus berpedoman pada dua orientasi spasial dan spiritual, di mana pun dan kapan pun.

Allahu A'lamu bish-shawab

Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag.

Rektor Unisnu Jepara