Spirit Pendidikan Ayat Qur'aniyyah

Spirit Pendidikan Ayat Qur'aniyyah

Tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan. Kita sadari unsur-unsur pendidikan: asas sebagai dasar, tujuan, subjek, objek, materi, metode, alat atau media, waktu dan evaluasi adalah perlu, secara universal dibaca dengan eksistensi  alam raya, cakrawala dan diri manusia itu sendiri.

"Akan Kami (Allah) perlihatkan kepada mereka (umat manusia) tanda-tanda kebesaran Kami di berbagai cakrawala dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga akan jelas bagi mereka bahwasanya Dia lah Yang Maha Benar. Tidak cukupkah dengan Tuhan-mu bahwa Dia itu Saksi atas segala sesuatu?!" (QS 41:53). Ayat ini jelas sekali menjanjikan masa depan umat manusia, yang menyaksikan dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah di seluruh cakrawala (makrokosmos) dan diri manusia (mikrokosmos). Manusia tidak boleh sedikit pun meragukan masa depan dirinya, karena ayat itu menegaskan bahwa janji Allah itu pasti terjadi, sebab Allah adalah Saksi atas segala sesuatu.

Status dan fungsi ilmu pengetahuan dan informasi ilmiah terutama di era informasi, pengertian Qur'ani tentang "ayat" itu perlu dipahami dengan baik dan direnungkan secara mendalam. "Ayat" sering diterjemahkan dengan "tanda-tanda" atau "tanda-tanda kebesaran", dan menurut para ahli memang itulah makna yang dimaksudkan. Tapi dalam telaah lebih lanjut, kata "ayat" juga mengandung makna "sumber pelajaran" atau "sumber mencari dan menemukan kebenaran", seperti jika perkataan itu digunakan dalam frase "ayat Al-Qur'an", dari sini para ahli mengatakan bahwa "ayat" itu ada "ayat Qur'aniyyah" dan ada "ayat kawniyyah".

Ayat Qur'aniyyah ialah bagian-bagian dari firman Allah yang merupakan unsur lengkap bagian dari wahyu yang kini terhimpun dalam mushhaf. Ayat-ayat itu kita baca, kita usahakan memahaminya, dan mungkin kita tafsirkan guna lebih memantapkan dan memuaskan faham kita. Mengerti akan ayat itu tidak cukup hanya dengan pendekatan ilmiah-kognitif, tetapi harus juga dengan perasaan halus (dzawq), dalam sikap kejiwaan yang penuh penghayatan disertai kerinduan partisipatif pada pesan suci ayat Qur'aniyyah.

Itu sebabnya dilukiskan dalam Al-Qur'an: salah satu indikasi orang beriman ialah "jika ayat-ayat dibaca maka imannya bertambah seraya bertawakkal kepada Allah" (QS 8:2). Juga digambarkan kaum beriman itu, jika ayat-ayat Allah dibacakan, segera bersujud dan menangis karena terharu dengan adanya kebenaran yang terkandung di dalamnya (QS 19:58).

Semua itu tidak mungkin jika persepsi dan apresiasi terhadap Al-Qur'an hanya bersifat kognitif-ilmiah semata. Jejak pengalaman seperti digambarkan Al-Qur'an itu bersifat ruhaniyah, menuntut adanya disposisi tertentu dalam ruhani (spirit) kita yang lebih dari sekadar disposisi rasional-intelektual semata, akan tetapi harus meningkat pada disposisi spiritual. Disposisi ruhaniyah yang mendalam itu membuat seseorang memiliki kemungkinan mendapatkan ilmu ladunni, yakni pengetahuan yang langsung dianugerahkan dari Hadlirat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allahu A'lam.



Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag

Rektor Unisnu Jepara