Sifat-sifat Allah: Hiasan Ruhani

Sifat-sifat Allah: Hiasan Ruhani

SIFAT-SIFAT ALLAH: HIASAN RUHANI
“Mengenang perjuangan Nabi Ibrahim, membina diri untuk taqarrub ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah).”


Oleh: Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag.
Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU JEPARA)


Ketika Nabi Muhammad merindukan Wahyu turun, maka Allah memalingkan beliau ke arah Ka'bah sebagai qiblat yang beliau ridla (senangi). Karena itu Allah memerintah, "hadapkanlah wajahmu ke arah Masjid Al-Haram --yang di dalamnya ada Ka'bah--, dan di mana pun engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu".

Umat Islam di bumi memiliki satu orientasi spasial (keruangan) yang sama yaitu Ka'bah. Hal ini juga melambangkan satu orientasi spiritual, bahwa diri manusia lahir -batin terarah kepada Tuhan Allah Subhanahu wa Ta'ala saja. Itulah sebabnya Sifat-sifat Allah adalah hiasan ruhani manusia, dimulai dari pengalaman yang diterima oleh Nabi Ibrahim, sang Kekasih Allah atau Khalilullah.

Keyakinan akan keesaan Allah adalah Tauhid, sebagai penemuan manusia yang terbesar dan tidak dapat diabaikan oleh siapa pun. Penemuan Ibrahim --yang tauhid-- ini menyebabkan manusia yang tadinya tunduk pada alam beralih bahwa manusia menjadi mampu menguasai alam, serta dapat menilai baik-buruknya sesuatu. Monoteisme Ibrahim bukan sekadar merupakan hakikat keagamaan yang benar, tetapi sekaligus menjadi penunjang akal ilmiah manusia yang lebih tepat, lebih teliti dan lebih meyakinkan.

Yang dituntunkan oleh Ibrahim 'alaihissalam adalah neraca keadilan Ilahi, yang mengajarkan semua manusia sama di hadapan Allah. Sekuat apa orang di muka, di seputar dan di sekitar Ka'bah sama dengan orang-orang yang lemah. Hakikat kekuatan diperoleh dari Allah, kelemahan pun atas  hikmah kebijaksanaan-Nya.

Dilestarikan dengan ibadah haji, dari sekitar 3.600-an tahun lalu Nabi Ibrahim memulainya. Pada praktik selanjutnya disempurnakan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallama, seperti orang-orang yang merasa istimewa (al-hummas) enggan wuquf di 'Arafah yang memisah wuquf di Muzdalifah. 

Tapi sikap memisahkan diri yang dilatarbelakangi sikap superioritas dicegah oleh Al-Qur'an, "Bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al-Baqarah/2: 199).

Bahkan Ka'bah yang dikunjungi itu memuat pelajaran yang amat berharga dari sudut kemanusiaan. Di dekatnya ada Hijr Isma'il, secara harfiah berarti "pangkuan Isma'il". Konon Ismail putra Ibrahim itu, juga sebagai pembangun Ka'bah tersebut pernah berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang perempuan hitam, budak dan miskin.. konon kuburannya pun berada di dekat Ka'bah. 

Namun demikian, peninggalan Hajar diabadikan oleh Allah di sana, untuk menjadi pelajaran bahwa Allah memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena atau status sosialnya. Akan tetapi karena taqarrub (kedekatan)-nya kepada Allah, dan usaha Hajar hijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban terbukti, Allah pun menerimanya.

Orang-orang berbaur melakukan thawaf, memberi kesan kebersamaan menuju satu titik tujuan yang sama dengan kesadaran ruhani meleburkan diri berada di dalam lingkup Hadlirat Allah, mungkin identik dengan al-fana' fi Allah menurut kaum sufi.

Allah menghiasi ruhani hamba-Nya.. dilakukanlah sa'i, sebagai wujud gambaran usaha manusia mencari hidup --yang dilakukan setelah thawaf -- dan  muncul Hajar, budak perempuan bersahaja sang isteri Nabi Ibrahim.. yang tidak lain adalah mencari air untuk memenuhi asupan bagi Ismail puteranya. Sungguh keyakinan perempuan ini terhadap kebesaran dan kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat kokoh, yang terbukti jauh sebelum pe

Peristiwa usaha mencari air itu. Ketika itu Hajar rela bersedia ditinggal bersama puteranya di suatu lembah yang tandus. Benar ridla-Nya menghiasi ruhani seorang ibu ini.. keyakinannya begitu amat dalam, bahkan tidak menjadikannya berpangku tangan hanya menunggu air hujan turun dari langit. Tetapi ia melakukan sa'i, berusaha dan berusaha mondar-mandir guna mencari kehidupan.

Ibu Hajar itu memulai sa'i dari bukit Shafa (kesucian dan ketegaran) berakhir di Marwa (ideal hamba bersikap murah hati, menghargai dan memaafkan). Sungguh makna-makna suci, tegar, murah hati, menghargai dan memaafkan.. Allah hiaskan ke dalam ruhani hamba-Nya, mampu mengatasi dan melingkupi kehidupan.

Kelembutan makna kemanusiaan dan pengamalan nilai-nilai yang diajarkan Allah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya tidak hanya terbatas pada persamaan nilai kemanusiaan, tetapi mencakup nilai-nilai luhur yang berdasar fithrah (jati diri)-nya serta keniscayaan mampu mengarahkan diri di pentas bumi Lillahi Ta'ala .

Allah adalah Tuhan yang diperkenalkan oleh Nabi Ibrahim itu adalah Tuhan seru sekalian alam, Saya dan Anda pun di sini juga bisa membuat orientasi spasial (keruangan) yang sama menghadap arah Ka'bah. Saya dan Anda sama memiliki Tuhan Allah sebagai tujuan hidup, yang dalam gambaran grafisnya kita menempuh hidup mengikuti jalan lurus (al-shirath al-mustaqim) yang membentang antara diri kita sebagai das sein dan Tuhan sebagai das sollen

Dalam realitas kesehariannya, berarti manusia harus selalu berjuang untuk hidup sejalan dengan bisikan suci nurani (bersifat cahaya, suci-baik) dan hanya menghendaki kesucian dan kebaikan. Jalan lurus itu berhimpit dengan hati nurani, pusat dorongan jiwa manusia untuk liqa' (bertemu) dengan Allah.

Keotentikan hidup yang dihasilkan iman kepada Allah hingga diperoleh hiasan ruhani, tentu didapatkan dengan menempuh jalan lurus (sabilul Haqq) dengan dasar sikap jujur dan "sejati kepada hati nurani" --true to one's conscience-- yakni hidup secara ikhlas (murni). Keikhlasan itu yang membawa kepada keutuhan hidup hamba. 

Selamat ‘Iedul Adha 1443 H. Dengan mengenang perjuangan Nabi Ibrahim 'alaihissalam, semoga Kita dapat membina diri untuk semakin taqarrub ila Allah.