Shalat: Dzikrullah yang Mengokohkan Kepribadian

Shalat: Dzikrullah yang Mengokohkan Kepribadian

Pada dasarnya elan vital dari Al-Qur'an adalah semangat moral dan tercermin pada pelaksanaan shalat oleh orang Islam, yang beriman kepada Allah. Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku (QS Thaha/20: 14). Mengingat Allah atau dzikrullah menjamin keutuhan pribadi manusia, yang seluruh detail kehidupan dan aktivitasnya mengalami integrasi dan sintesa sebagaimana yang semestinya. Dzikrullah atau God's remembrance merupakan proses berkohesinya pribadi (nafs) dengan spirit (ruh) secara aktif dinamis.

Sebagai upaya mengingat Allah, maka seorang yang beriman mendapat semangat dari firman: Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (berupa shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah lain), Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS al-'Ankabut/29: 45). Jadi shalat yang identik dengan dzikrullah bisa melahirkan "kekuatan dalam" atau internal power, yaitu kekuatan untuk mencegah berbuat keji dan mungkar.

Karena itu shalat juga merupakan media untuk memohon. Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (QS al-Baqarah/2: 45-46). Agar shalat berhasil menumbuhkan "power", seorang beriman perlu menyadari bahwa dirinya hendak menghadap Allah Al-Ma'bud, Tuhan Dzat Yang Disembah, tentu dirinya harus suci dari hadats dan bersih dari najis termasuk pakaian dan tempat shalat.

Ketika takbiratul-ihram masuk shalat, orang beriman tersebut harus melakukan hudlurul-qalb (hati hadir) agar tidak terkesan main-main, tapi fokus menghadap Allah. Berikut syuhudul-'aqli  (kesaksian akal) agar jauh dari lupa tapi terus sadar-diri bahwa ia sedang shalat, lanjut ke khudlu'ul-arkan (tunduk akan sendi-sendi shalat) agar tidak mudah timpang tapi justru pasti patuh, dan terakhir khusyu'ul-jawarih (patuh tenang dengan gerak-gerik shalat) agar terhindar tingkah yang salah.

Ibadah yang bernilai sangat utama dan berat, maka shalat dijalani oleh orang beriman yang harus sabar. Seorang beriman melakukan ibadah shalat dengan sabar itu, tampak pada pribadinya yang menahan diri, kesiapan jiwa yang kukuh dan diselimuti mental yang kuat, hal ini mengantarkan dirinya mencapai derajat terpuji dan keutamaan yang tinggi. Tidak lain karena .. Aqimis-shalah li dzikriy .. , laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku. Jadi "mengingat Allah" sajalah yang dapat mengokohkan kepribadian.

Allahu A'lamu bish-shawab

Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag.

Rektor Unisnu Jepara