SANTRI DAN JIHAD KESEHATAN

SANTRI DAN JIHAD KESEHATAN

Pesantren menjadi salah satu tempat atau komunitas yang belakangan ini banyak disorot media.  Pasalnya, pesantren telah menjadi klaster baru penyebaran covid-19 semenjak diterapkan masa normal baru. Salah satu media, hingga menganggap kasus covid-19 di pesantren sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Atas pemberitaan tersebut, beberapa pihak sampai melayangkan surat keberatan ke salah satu channel TV. Alasannya, TV itu telah menyebarkan berita tentang pesantren yang sungguh terlalu.

Tetapi bagaimanapun juga, kasus covid di pesantren memang bukan hanya isapan jempol atau sekedar blow up media saja. Nyatanya Kemenag pernah merilis, setidaknya saat ini ada 27 pesantren di seluruh Indonesia yang memiliki kasus positif covid-19. Jumlah santri yang terkonfirmasi positif covid-19 sudah mencapai 1.489 orang. Dari jumlah tersebut, 969 santri dinyatakan sembuh, 519 dalam perawatan dan hanya ada satu kasus meninggal dunia. Maka, melayangkan protes kepada media atas pemberitaan tersebut juga agak berlebihan.

Bukan hal yang mengherankan jika pada akhirnya, pesantren menjadi klaster baru penyebaran covid-19. Selain karena kerumunan dalam jumlah besar di pesantren, pola kehidupan di beberapa pesantren, sebagaimana dimaklumi, juga tidak begitu memperhatikan kebersihan. Jangankan cuci tangan pakai sabun, santri-santri itu mandi saja sering tidak pakai sabun kok. Baju pakai seminggu baru dicuci juga sudah biasa. Belum lagi budaya “satu milik semua” di antara santri yang sudah mendarah daging. Satu sabun mandi untuk bersama, satu baju untuk dibuat gantian, hingga pakaian dalam “plat kuning” untuk semua.

Pola pikir santri tentang makna bersih dan suci (thahir) juga tampaknya perlu dikaji. Kebiasaan santri, asalkan sesuatu itu tidak najis berarti dianggap suci dan bisa dipakai. Maka jangan heran kalau santri agak mengabaikan faktor kebersihan, karena memang ukuran yang mereka gunakan adalah suci bukan bersih. Sementara ukuran suci sendiri berbeda dengan bersih. Debu atau tanah misalnya yang tidak tercampur najis statusnya adalah suci, tapi bukan berarti debu itu bersih. Sementara alkohol yang dijadikan sebagai cairan pembersih, menurut sebagian pendapat adalah najis.

Jihad kesehatan santri

Munculnya corona virus yang juga melanda pesantren, bagaimanapun harus disikapi dengan bijak dan berlandaskan akal sehat. Pola pikir dan pola hidup santri yang sudah mengakar kuat itu, mau tidak mau memang harus dirubah. Meski itu berat, tetapi santri sejati yang telah menancapkan nilai-nilai pesantren dalam dirinya tentu kuat menghadapi semua itu.

Nilai-nilai yang telah menjadi dasar hidup pesantren adalah benteng kokoh pertahanan santri dalam menghadapi berbagai permasalahan, tak terkecuali dalam melawan Covid-19. Semenjak memasuki gerbang pesantren santri tidak hanya diajarkan beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman baru, tetapi juga lapar, kurang tidur, hingga penyakit endemic berupa gudig. Santri juga dibiasakan untuk hidup disiplin mentaati aturan pondok dan dawuh Kiai. Uniknya, banyak santri yang betah dengan kondisi pesantren yang serba terjepit itu, bahkan orang kaya sekalipun akan merasa rindu dengan kehidupan pesantren.

Maka, untuk sekedar menyesuaikan diri dengan kehidupan normal baru dan menjalin persahabatan dengan sahabat baru bernama Corona, bagi santri kiranya bukanlah hal sulit. Kemampuan beradaptasi dan ketahanan mental itulah yang pada gilirannya bisa dicopy paste untuk diterapkan dalam menghadapi kehidupan baru bersama covid-19. Prinsip kebersamaan dalam kehidupan pesantren tentu harus tetap dijaga dengan baik, tetapi tradisi “satu untuk semua” seperti join sabun, baju, hingga pakaian selama masa pandemi ini harus dihilangkan. Begitu pula, pola pikir santri tentang kebersihan dan kesucian juga harus digeser. Santri jangan hanya memandang kesucian sebagai ukuran, tetapi harus mengutamakan kesucian lagi kebersihan.

Akhirnya, Semangat resolusi jihad yang digelorakan Mbah Hasyim, tidak boleh hanya dimaknai sebagai jihad keagamaan atau keilmuan, apalagi sekedar jihad fisik melawan penjajah. Jihad bagi santri saat ini tidak melulu urusan keagamaan dan keilmuan, tetapi juga kesehatan. Di mulai dari diri sendiri, santri di manapun berada, harus mampu melawan kebiasaan-kebiasaan tak sehat yang selama ini sudah mentradisi. Jauh lebih baik, jika santri mampu menularkan semangat jihad kesehatan itu kepada masyarakat. Santri harus menjadi teladan masyarakat dalam berjuang melawan penjajah bernama Corona. Sudah saatnya image miring bahwa santri itu jorok dan kumuh harus dibuang jauh-jauh. Karena itulah jalan satu-satunya untuk untuk berjihad melawan gudik, lebih-lebih Corona.

Santri sehat, Indonesia kuat 

Fathur Rohman, M.Pd.I. (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara)