Ramadlan dan Spirit Penguatan Keluarga

Ramadlan dan Spirit Penguatan Keluarga

Mayadina Rohmi Musfiroh*
Bulan Ramadlan telah memasuki sepertiga terakhir, sudah berapa undangan buka bersama (bukber) Anda datangi? Dari undangan bukber kolega kerja, teman semasa kuliah, SMA, atau sekadar buka bersama bersama keluarga. Ya, bulan Ramadlan sangat dinanti banyak orang. Sebagian orang merindukan kemesraan mendekat kepada Allah. Sebagian menikmati momen-momen bersama orang yang disayangi yang hanya mungkin terjadi di bulan Ramadlan. Apapun motif orang terhadap datangnnya bulan Ramadlan, kehadirannya membawa momen puitik dengan cara yang unik. Ramadlan berasal dari kata ar-ramdlu yang berarti sengatan terik mentari yang teramat panas. Dinamakan bulan Ramadlan karena pada bulan tersebut dapat membakar dosa-dosa dengan amal-amal kebaikan, demikian kata Imam az Zamakhsyari dalam tafsir al Kasyaf dan Raghib al Ashfahani pengarang kitab Mufradat alfadz al Qur’an. Puasa dalam terminologi Islam berarti berniat menahan diri dari makan, minum, dan faktor-faktor yang dapat menimbulkan terjadinya hubungan seksual mulai fajar sampai terbenam matahari. Kata puasa berasal dari bahasa Jawa Kuna upawasa (mendekat kepada Hyang mahakuasa). Salah satu tujuan puasa yang tersurat dalam al Qur’an adalah untuk memperoleh ketaqwaan. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan menghayati esensi puasa. Memahami dan menghayati arti puasa memerlukan pemahaman terhadap 2 hal pokok menyangkut hakikat manusia sebagai hamba Allah dan kewajibannya dimuka bumi sebagai khalifah.  Hakikat manusia sebagai wakil tuhan di muka bumi memiliki fungsi mengelola dan mendinamisasi kehidupan agar selalu on the right track selaras dengan peta yang digariskan Tuhan. Dalam konteks sosial, puasa adalah wahana merekatkan kembali hubungan perkawinan dan keluarga. Bagaimana tidak, selama bulan puasa tercipta momen kebersamaan antar anggota keluarga lebih dari hari-hari lain. Mulai dari sahur, sholat berjamaah dan buka puasa hampir dilakukan secara bersama. Bagi kebanyakan orang, intensitas  bersama keluarga lebih banyak dibanding waktu lainnya. Selama puasa kita menahan atau membatasi diri dari rutinitas bisnis semata mengejar kenikmatan materi. Lalu mengalokasikan waktu untuk lebih banyak bersama keluarga yang mungkin tanpa kita sadari terabaikan karena menganggap rumah tangga adalah rutinitas belaka. Kehidupan perkawinan tak bisa dianggap sebagai bussines as usual. Seperti halnya tanaman, ia membutuhkan perawatan dan pupuk penyubur. Perkawinan adalah komitmen emosional dan hukum dari dua orang untuk membagi kedekatan emosional dan fisik, berbagi bermacam tugas dan sumber-sumber ekonomi. (Olson and deFrain, 2006) Salah satu tujuan utama pernikahan yang tersurat dalam al Qur’an yaitu mewujudkan sakinah, mawaddah dan rahmat antara suami istri dan anak-anak. (QS. Ar Rum: 21). Para mufassir mengartikan sakinah dengan ketenangan atau ketentraman setelah sebelumnya bergejolak. Tiap keluarga pasti memiliki masalah dengan skalanya masing-masing. Seringkali kesalahpahaman terjadi sehingga timbul gejolak. Hal tersebut akan segera tertangani bila tuntunan agama dipahami oleh anggota keluarga. Prof. Quraisy Syihab mengenalkan istilah ketenangan dinamis. Sakinah bukan sekedar ketenangan lahir yang tergambar dalam raut wajah namun juga disertai dengan kelapangan dada (salamatus shadr), pergaulan dan tutur kata yang baik (Mu’asyarah bil ma’ruf) sehingga menimbulkan ketenangan batin akibat adanya pemahaman (good understanding), kebeningan hati serta visi yang sama untuk menciptakan sakinah dalam keluarga. Mawaddah seringkali diartikan cinta meski sesungguhnya maknanya lebih dalam dari itu. Mawaddah mengandung makna mengabaikan kepentingan diri sendiri dan mengutamakan kepentingan orang yang kita cintai. Dapat pula dimaknai, tidak menginginkan sesuatu yang buruk menimpa orang tercinta. Beberapa unsur yang dapat melahirkan mawaddah dalam perkawinan adalah, perhatian, tanggungjawab dan penghormatan. Tanpa ketiga hal tersebut maka mustahil tumbuh mawaddah. Sakinah dan mawaddah dalam keluarga butuh perjuangan, karena ia tidak otomatis hadir setelah perkawinan. Perlu prasyarat untuk menumbuhkan. Jika sakinah dan mawaddah adalah sesuatu yang given, tak mungkin angka perceraian meningkat tiap tahun. Mengapa penting bicara penguatan keluarga?. Karena masalah utama terjadinya pelanggaran hak anak adalah kerentanan ketahanan keluarga. Data menunjukkan, angka perceraian di Jepara cukup tinggi, tahun 2016, cerai gugat 1380 dan talak 498. Sebagian besar karena faktor ekonomi. Di tengah fenomena tingginya angka perceraian di Jepara, ramadlan menjadi momentum untuk merekatkan kembali perkawinan dan relasi orangtua dengan anak, dengan cara melakukan aktivitas bersama keluarga, membangun komunikasi lebih berkualitas, perbanyak ngobrol bersama anak, aktivitas berbuka, sahur dan sholat berjama’ah bersama keluarga akan menguatkan kembali ketahanan keluarga sehingga dapat mencegah kenakalan remaja. Penguatan keluarga memiliki dimensi strategis dan jangka panjang menyangkut generasi. Kita perlu merefleksikan kembali peran-peran keluarga. Keluarga setidaknya memiliki 8 fungsi, yaitu fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, serta fungsi pembinaan lingkungan. Realitas menunjukkan fenomena memprihatinkan, bahwa kita belum bisa menjamin berjalannya fungsi keluarga sebagaimana mestinya, bahkan untuk menjalankan fungsi asasinya, yakni melindungi anggota keluarga yang ada di dalamnya, kita masih kedodoran. Anak merupakan amanat Tuhan yang harus dijaga dan diperlakukan sebaik-baiknya. Mereka adalah generasi penerus keluarga, bangsa dan peradaban, serta pemilik dan penentu masa depan bangsa. Jumlah anak di Indonesia mencapai 85 juta atau 1/3 penduduk  Indonesia.  Dewasa ini persoalan anak menjadi isu penting yang menjadi sorotan banyak pihak dan menjadi perhatian serius pemerintah mulai pusat, daerah sampai tingkat desa dan seringkali menghiasi media cetak maupun elektronik. Hal ini diperkuat dengan data dan fakta pengaduan kekerasan terhadap anak yang diterima oleh Komisi Perlindungan Anak menunjukkan jumlah pengaduan pelanggaran hak anak terus meningkat. Sekitar 58% kasus kekerasan anak merupakan kejahatan seksual, selebihnya kekerasan fisik, penelantaran, penculikan, eksploitasi ekonomi, perdagangan anak serta kasus perebutan anak. Selain itu anak juga rentan mengalami doktrinasi ajaran menyimpang karena berdasarkan data kasus pelanggaran hak anak di bidang agama dan budaya cukup meningkat. Data tahun 2016 sebanyak 262 kasus meningkat sebesar 45 persen dari 2015 dengan 180 kasus di Indonesia. (Data KPAI: 2016). Di antara kasus yang dialami adalah kasus kekerasan, diskriminasi dan ujaran kebencian berbasis agama dan keyakinan, doktrinasi ajaran menyimpang, pengasuhan beda agama, hingga kasus terorisme yang melibatkan anak. Banyak pula permasalahan dalam masyarakat disebabkan oleh kenakalan anak-anak dan remaja. Tawuran, begal, narkoba, dan sebagainya. Ditambah lagi persoalan pernikahan usia anak yang sebagian besar disebabkan karena kehamilan tidak diinginkan. Hal ini diperkuat dengan data pemohon dispensasi menikah sebanyak 125 kasus di Jepara. (Data Pengadilan Agama, 2016) Jika demikian, bagaimana bisa kita mengharapkan keluarga-keluarga yang ada menjadi pilar yang kuat bagi masyarakat dan mencetak generasi hebat untuk estafet kepemimpinan ke depan? Sungguh, kita masih harus bekerja keras untuk memperbaiki.  Tanggung jawab perbaikan bukan hanya diberikan kepada anggota keluarga, orang tua, dan anak, tetapi kepada semua elemen masyarakat, mulai dari lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, tokoh masyarakat, ormas, serta kelompok pemerhati keluarga. Sudah tentu pula peran pemerintah melalui program dan kebijakan yang tepat . Karena itu, Mari jadikan Ramadlan sebagai energi merekatkan sendi kehidupan keluarga, memperkuat pola interaksi orangtua  dan anak, mencegah kenakalan dan perlakuan salah terhadap anak. Semoga, Ramadlan kita sarat makna spiritual, kesalehan sosial dan makin merekatkan hubungan keluarga demi generasi unggul masa depan.  
* Penulis adalah Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum Unisnu Jepara