Ramadhan dan Kampanye Pendidikan Islam Multikultural

Ramadhan dan Kampanye Pendidikan Islam Multikultural

Ahmad Saefudin*
Salah satu fungsi puasa sebagaimana hadis Rasulullah SAW. ialah sebagai perisai. “… dan puasa adalah tameng. Bila salah seorang dari kalian berada pada hari puasa, janganlah ia berbuat sia-sia dan janganlah ia banyak mendebat. Kalau orang lain mencercanya atau memusuhinya, hendaknya ia berkata, ‘Saya sedang berpuasa.’.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tampak jelas bahwa puasa yang berkualitas mampu menjadi senjata ampuh untuk menghindarkan diri dari konflik komunal di tengah masyarakat. Celaan provokatif dari orang lain, bagi kita yang berpuasa, sudah semestinya ditempatkan sebagai godaan yang harus diredam, sehingga kita tidak terpancing melakukan reaksi destruktif. Sekeji apapun cacian yang datang, cukup kita bendung dengan keampuhan kata, “Inni Shaimun, Saya sedang puasa.” Berarti, tentu tidak terlalu berlebihan, jika kita menawarkan satu hipotesis bahwa puasa mampu membentuk karakter toleran bagi seorang muslim. Dengan penuh keinsafan, muslim yang berpuasa menyadari bahwa substansi ibadah tidak lain ialah menghamba kepada Tuhan dengan cara mengekang segala bentuk laku intoleran. Agama toleran adalah agama yang mengajak pemeluknya untuk menahan diri dari penilaian negatif (negative judgement) terhadap keyakinan agama lain. Kita perlu mendefinisikan toleransi secara proporsional. Toleransi bukan berarti apatisme dengan tidak mau memberikan penilaian apapun terhadap pendapat maupun keyakinan pihak lain karena acuh tak acuh. Toleransi justru memberikan peluang sebesar-besarnya kepada masing-masing individu untuk menilai apapun, baik positif maupun negatif, pendapat orang lain dengan catatan komitmen moral dan kesadaran menghormatinya. Jadi, sifat toleransi tidaklah given dan langsung jadi begitu saja (taken for granted). Akan tetapi, merupakan proses perjumpaan dialektika kritik-empatik dalam bentuk dialog antar masing-masing penganut kepercayaan. Sudah barang tentu, dialog yang dimaksud ialah interaksi simpatik yang tidak berlandaskan rasa kecurigaan, prasangka, dan kebencian.  

Kampanye Pendidikan Islam Multikultural

            Ruang lingkup pendidikan multikultural (multicultural education) cukup luas. Sebagai kajian multidisipliner, pendidikan multikultural mencakup domain ras, etnis, budaya, gender, agama, bahkan warna kulit. Melalui cara pandang ini, para khatib, muballigh, kiai, dan tokoh agama sebagai juru dakwah Islam, menduduki peran sentral dalam memandu jamaahnya untuk memahamkan aneka perspektif yang ada di dalam komunitas agama lain. Sehingga, jamaah pengajian yang mereka ampu berhasil keluar dari jeratan dogmatisme eksklusif, yaitu suatu anggapan tentang ajaran agamanya saja yang paling benar, sedangkan agama lain salah. Mengapa kampanye pendidikan multikultural penting? Tak bisa kita mungkiri bahwa konstruksi pengetahuan juru dakwah sering kali lepas dari kerangka pikir multikulturalisme. Mereka gagal mencairkan kebekuan sekat teologis yang --secara sadar ataupun tidak—pada akhirnya melahirkan ucapan-ucapan diskriminatif, stereotip, dan bentuk-bentuk kekerasan lain dalam penyampaian materi dakwah. Apabila fenomena ini terus berlanjut, saya khawatir dengan kondisi psikologis jamaah pengajian yang selalu terpapar kekerasan simbolik. Oleh Bourdieu, istilah kekerasan simbolik digambarkan sebagai paksaan dalam wujud sangat halus yang dilakukan oleh agen-agen sosial, dalam kasus ini ialah juru dakwah, tanpa mengundang resistensi. Jamaah pengajian tidak sadar jika mereka sedang mengalami tindak diskriminatif. Sebaliknya, mereka merasa nyaman dalam zona konformitas (persesuaian), sebab sudah mendapatkan legitimasi sosial keagamaan. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi koreksi bagi kita untuk selalu waspada terhadap kesombongan diri dalam beragama. Sifat angkuh adalah hak prerogatif Tuhan. Bergagah-gagahan dalam beragama secara otomatis menunjukkan perbuatan congkak yang mencederai nilai-nilai luhur ketuhanan. Wallahu a’lam bis shawab.  
* Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara