Ramadan dan Spirit Literasi

Ramadan dan Spirit Literasi

Oleh: Ahmad Saefudin, M.Pd.I. l Dosen Unisnu Jepara I Pengurus Lembaga Dakwah NU (LDNU) Kabupaten Jepara

 

Baru saja kita memperingati Hari Buku Nasional, 17 Mei kemarin. Sementara pada level dunia, Hari Buku ditetapkan setiap tanggal 23 April. Sebegitu pentingnya buku sehingga harus ada hari khusus untuk merayakannya. Bagi Remy Sylado, buku adalah simbol pembeda antara kita sebagai manusia dengan binatang. Dalam Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa, ia mengatakan, “... Lantas, kalau cuma pakaian, binatang juga punya bulu. Buku, bisa membaca, itulah yang membuktikan manusia punya kebanggaan, punya kebudayaan, punya peradaban”. Saking cintanya terhadap buku, tidak heran jika Mohammad Hatta, Bapak Proklamator RI, rela dipenjara, asalkan bersama buku. Sebab, dengan buku itulah hakikatnya ia menggenggam kebebasan.

Ramadan, dimana ayat Alqur’an yang berisi seruan dari Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. agar “membaca” turun untuk pertama kalinya, selayaknya jadi wahana bagi kita, khususnya muslimin-muslimat, untuk menumbuhkan spirit literasi, berusaha mencintai buku. M. Quraish Shihab dalam buku Secercah Cahaya Ilahi memberikan catatan khusus mengenai lafal iqra’ yang diulang sampai dua kali oleh Allah Swt. pada QS. Al-alaq ayat 1-5. Kata ini tidak boleh kita artikan sebagai perintah “membaca” secara sempit. Lebih dari itu, iqra menyiratkan makna telitilah, dalamilah. Apalagi, Allah Swt. tidak menyebutkan secara eksplisit, obyek apa yang harus kita baca. Sehingga, kita bebas mendalami diskursus apapun dan meneliti fenomena yang topiknya tidak terbatas. Dengan begitu, perlahan namun pasti kita sedang membangun sebuah peradaban.

Sayangnya, spirit literasi di balik iqra’ belum begitu membumi. Data-data tentang keaksaraan menyuguhkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Hasil penelitian Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2017 yang diungkap Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, misalnya, menggambarkan bahwa daya tahan membaca orang Indonesia per hari rata-rata hanya kisaran 30-59 menit. Buku yang dibaca pun sangat sedikit. Per minggunya tidak lebih dari 3-4 buku. Maka, dalam konteks perilaku literasi yang mengacu kepada lima indikator kesehatan literasi negara, yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer, tak lagi mengejutkan ketika Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015 menempatkan Indonesia pada ranking 62 dari 70 negara.

Di sisi lain, praktik bibliosida atau pemberangusan terhadap buku masih kerap dipertontonkan. Kasus paling fresh terjadi akhir tahun 2018 lalu di Kediri saat aparat keamanan merazia dan mengamankan sejumlah buku yang diduga menjadi alat propaganda ideologi komunisme. Seharusnya, sebagai bangsa yang beradab, tindakan semacam ini tidak bisa kita toleransi. Perbedaan gagasan dalam bentuk apapun hendaknya kita sikapi dengan penuh kearifan. Alih-alih melakukan pemusnahan, penyensoran, dan pelarangan, kalau memang tak sepakat dengan konten buku tertentu, sepatutnya energi kita dicurahkan untuk menyusun buku tandingan sebagai kontra wacana. Hanya melalui pembiasaan perang pemikiran (ghazwul fikr) yang konstruktif, bangsa kita akan berdiri kokoh sebagai negeri adiluhung yang berperadaban tinggi. Wejangan Milan Kundera layak kita camkan, “jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah”.

Semoga Ramadan kali ini mampu menjadi iktibar melonjakkan mutu literasi kita. Amin.

 

* Sumber : Suara Merdeka| Tulisan ini telah dimuat di Koran Suara Merdeka edisi 21 Mei 2019, halaman 21