Puasa Untuk Kebahagiaan Hidup

Puasa Untuk Kebahagiaan Hidup

Fathur Rohman*
Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah jasmaniyah rohaniyah. Ibadah jasmaniyah artinya ibadah yang pelaksanaannya membutuhkan kinerja fisik, sedangkan ibadah rohaniyah berarti ibadah yang menuntut adanya keterlibatan sisi ruhaniyah dalam menjalaninya. Jadi, ibadah puasa adalah ibadah yang tidak hanya melulu berurusan dengan fisik saja, tapi juga menekankan aspek non fisik, yakni mental dan spiritual. Dalam istilah jawa, puasa atau poso berarti ngeposno roso yang berarti berusaha menghentikan segala nafsu dan hasrat lahir batin. Sebagaimana arti kata puasa itu sendiri, bisa dikatakan bahwa inti ajaran puasa adalah pengendalian diri. Pengendalian diri ternyata merupakan masalah mendasar, dan klasik dalam problematika kemanusiaan. Masalah keti­dak­mampuan mengendalikan diri, seba­gaimana diilustrasikan Al-Quran, adalah titik permulaan terjadinya Drama Kejatuhan Manusia dari surga ke bumi ini. Nabi Adam dan Hawa, sebagai simbol nenek moyang manusia, terbukti tidak mampu menahan dan mengendalikan dirinya dari godaan iblis sehingga akhirnya me­reka digelincirkan ke dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt. Drama ini memberikan pelajaran berharga bahwa segala permasalahan kemanusiaan sejatinya bermula dari ketidakmampuan mengendalikan diri. Dalam kamus psikologi, pengendalian diri atau self control didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengarahkan tingkah laku sendiri dan mengelola setiap hasrat yang ada (JP Chaplin; 2008). Kemampuan pengendalian diri akan mendorong seseorang untuk membuat keputusan yang lebih baik sehingga tidak mudah terjatuh dalam kesalahan. Pengendalian diri juga dapat menghindarkan seseorang dari segala tindakan yang dapat memicu konflik, baik pribadi maupun dengan orang lain. Bahkan, berbagai studi menyatakan bahwa kemampuan self control ternyata menjadi salah satu kunci untuk menjalani kehidupan yang bahagia. Pasalnya, orang yang mampu mengendalikan diri akan berpikir jauh sebelum mengambil keputusan. Ia tidak akan ceroboh dan gegabah dalam bertindak. Dengan begitu, kehidupan akan terhindar dari berbagai masalah sehingga hidup juga menjadi lebih tenang. Puasa Ramadhan merupakan salah satu moment untuk memperkuat kemampuan mengendalikan diri kita. Puasa mengajarkan kita untuk menahan segala hasrat  dan keinginan untuk sementara, tidak untuk sepanjang masa. Hal ini dimaksudkan agar kita mampu mengelola keinginan dan hasrat dengan baik, mengerti kapan harus menahan atau menyalurkan keinginan. Puasa bukanlah untuk  membinasakan syahwat manusia, tapi mendidik manusia agar memiliki kemampuan mengendalikan diri yang baik. Dengan kemampuan itu, manusia akan menjadi lebih hati-hati dan mawas diri untuk tidak terperosok ke dalam lobang kesalahan. Semakin kecil kesalahan yang dilakukan, semakin lapang pula perjalanan manusia menggapai kebahagiaan. Wallahu A’lam bi Al-Shawab  
* Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara