Puasa sebagai Sarana Revolusi Mental

Puasa sebagai Sarana Revolusi Mental

Muhammad Husni Arafat, Lc., M.S.I.*
Setiap tahun, umat Islam di segala penjuru dunia melaksanakan ibadah puasa yang dilaksanakan di bulan suci Ramadan. Indonesia tidak terkecuali juga melaksanakannya, meskipun didalamnya juga terdapat bumbu-bumbu perdebatan antar sebagian kalangan seputar problem awal dan akhir bulan Ramadhan dan hari raya Ied l-Fitri. Di Indonesia, umat Islam menghidupkan bulan suci Ramadhan dengan ibadah-ibadah praktis. Di masjid-masjid dan pondok-pondok pesantren dari kota-kota besar hingga desa-desa kecil, umat Islam di Indonesia memeriahkannya dengan mengadakan acara-acara keagamaan seperti pengajian/tadarrus Al-Qur’an, pengajian kitab kuning, ceramah-ceramah keagamaan, dan santunan untuk kalangan yang lemah (fakir-miskin dan yatim piatu), dan lain-lain. Namun demikian, penulis memiliki banyak pertanyaan tentang efek, dampak, dan pengaruh puasa terhadap orang-orang yang melaksanakannya. Sebab, di satu sisi, puasa merupakan perintah agama yang bersifat wajib dan positif, tapi, di sisi lain, para pengamalnya tidak sedikit yang melakukan perilaku-perilaku negatif yang bertentangan dengan esensi dan hakikat puasa itu sendiri. Terlebih, akhir-akhir ini, kita menyaksikan berita-berita negatif seperti kasus persekusi, kelaparan, politisasi bertopeng agama, ketidakadilan terhadap kaum lemah, ketumpulan hukum, rekayasa dan konflik politik di Timur Tengah (Palestina, Irak, Iran, Turki, Yaman, Libya, Suriah, Lebanon, Mesir, dan terakhir Qatar) hingga mengakibatkan ribuan bahkan jutaan nyawa melayang. Bahkan, yang mengherankan, semua itu dilakukan oleh antar umat Islam sendiri dengan rekayasa atau provokasi dari pihak-pihak lain. Dalam literatur-literatur keagamaan Islam, khususnya hukum Islam, puasa, secara kebahasaan, berarti “menahan diri”. Secara khusus, puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang dilarang seperti makan, minum, dan bersetubuh, dari fajar hingga terbenamnya matahari. Menahan diri untuk makan, minum, dan bersetubuh, semuanya, adalah bersifat fisik. Ia melupakan wilayah non fisik yang bersifat transenden, yakni qalbu. Ia tampak dari akar sejarah puasa itu sendiri. Ini, di satu sisi. Di sisi lain, nabi Adam as. adalah orang yang pertama kali melaksanakan puasa di muka bumi ini. Persisnya, setelah nabi Adam as. terhukum dan turun di bumi ini, nabi Adam as. menyesal atas kesalahan yang dilakukannya dan bertobat segera. Bentuk pertobatan atas kesalahan yang dilakukannya, selain mengucapkan kalimat istighfar, adalah dengan berpuasa selama 3 hari di setiap pertengahan bulan dimana puasa ini disebut dengan “puasa putih” (shaum al-baydl). Puasa tersebut dimaksudkan tidak hanya untuk menahan lapar, dahaga, dan bersetubuh tetapi, lebih dari itu, menahan dorongan syahwat negatif yang terdapat di dalam kalbu agar dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan terhapus dan tidak terulang kembali. Dalam konteks puasa di bulan Ramadhan, umat Muhammad bukanlah umat yang pertama kali diperintahkan untuk melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan. Tapi, jauh sebelumnya, umat Nasranilah yang pertama kali melaksanakannya terlebih dahulu berdasarkan perintah Tuhan. Perintah tersebut ditujukan kepada mereka pertama dengan melaksanakannya selama 1 bulan penuh, tapi mereka membantah perintah tersebut dan menundanya. Akhirnya, perintah tersebut bertambah menjadi 40 hari, kemudian 47 hari hingga akhirnya 50 hari penuh sebab dalih-dalih atau sanggahan-sanggahan mereka terhadap Tuhan-Nya hingga akhirnya mereka dipersulit akibat perbuatan mereka sendiri. Inilah potret dari esensi dan hakikat puasa yang tercermin dari teladan para nabi dan utusan Allah SWT yakni menyeimbangkan diri untuk menahan diri baik secara fisik maupun non fisik (transenden). Ibadah puasa merupakan sarana untuk revolusi mental. Sebab, puasa tersebut selain bersifat duniawi juga bersifat ukhrawi. Ia bersifat vertikal juga horisontal. Dengan berpuasa di bulan suci Ramadhan, kita bisa sama-sama merasakan penderitaan kalangan yang tidak mampu hingga mereka tidak mampu membeli kebutuhan-kebutuhan pangan yang bersifat pokok. Dengan berpuasa di bulan suci Ramadhan tercipta kesetaraan dan persamaan umat manusia di hadapannya dimana tolak ukurnya adalah ketakwaan yang dalam hal ini adalah kalbu (isi/esensi) bukan sekadar hal-hal lahiriah (kulit). Pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan yang kita laksanakan di bulan dan tahun ini adalah bulan dan tahun kesekian yang umat Islam di Indonesia jalani. Jika kita menjalaninya tanpa memahami hakikat dan esensinya, maka puasa kita ibarat kulit tanpa isi. Mari, kita mengoptimalkan momentum puasa di bulan suci Ramadhan ini dengan melatih diri dan jiwa kita melalui pengendalian syahwat-syahwat negatif yang sering kita biarkan tanpa batas agar tercipta keharmonisan, keadilan, dan persatuan di antara umat Islam khususnya di Indonesia. Bukankah tauhid, dan keadilan sosial, serta persatuan dan kesatuan merupakan maksud utama dalam ajaran Islam, bukan!? Ringkas kata, ibadah puasa adalah sarana untuk revolusi mental, bukan!?
* Penulis adalah Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhsiyyah) Universitas Islam Nahdlatul Ulama’ (UNISNU) Jepara, dan Pengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nurul Hijrah, Pecangaan Kulon, Jepara.