Puasa Menguatkan Kecerdasan Emosional

Puasa Menguatkan Kecerdasan Emosional

Oleh:  H. Mufid., M.Ag. || Wakil Dekan II Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara

Ibadah puasa Ramadlan merupakan madrasah ruhaniah (pendidikan ruhaniah) yang dapat mengantarkan menjadi manusia yang bertaqwa, La’allakum tattaquun (QS-Al Baqarah : 183).

Dengan berpuasa juga, jiwa manusia menjadi tenang dan emosi (nafsu) bisa dikendalikan dengan baik. Jika dalam berpuasa ternyata jiwanya masih tidak tenteram dan emosinya tidak bisa dikendalikan, maka itu berarti ada sesuatu yang salah dalam menjalankan puasa, bisa jadi puasa yang dilakukannya tidak ihlas semata-mata karena Allah SWT atau mungkin sebab lain.

Menjadi manusia yang bertaqwa adalah sangat urgen karena dengan bertaqwa akan memperoleh kemulian dan kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS-Al-Hujurat :13).

Adapun ciri-ciri orang bertaqwa diantaranya telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an:  “Orang-orang yang muttaqin yaitu orang-orang yang menafkahkan(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS: Ali ‘Imran : 134).

Menahan (mumsik) dan mencegah (kaff) marah adalah perbuatan yang mulia. Hal ini sesuai dengan Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Orang yang sangat kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi ia ialah orang yang mampu merajai (memiliki/mengendalikan) jiwanya ketika marah.

Memaafkan kesalahan orang lain juga termasuk perbuatan yang mulia, bahkan jauh lebih sulit dibanding hanya sekedar menahan amarah. Nabi SAW bersabda: “Barang siapa suka dimulyakan Allah dengan (pemberian) bangunan megah (di surga) dan ditinggikan derajatnya bertingkat-tingkat, maka hendaklah ia memaafkan orang yang zalim kepadanya, memberi orang yang menolak/menghalanginya; dan menyambung hubungan silaturrahmi orang yang memutuskannya.

Dengan menjalankan ibadah puasa secara sungguh-sungguh, maka akan menumbuhkan kecerdasan emosional. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan pengendalian diri dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup.

Kecerdasan emosioanl akan mampu mengendalikan sifat marah, sombong, dendam dan beberapa sifat negatif lainnya. Apalagi Sebelum kita menjalankan ibadah puasa bangsa Indonesia telah melaksanakan pesta demokrasi berupa pemilu. Tentunya kita masih menyisakan persoalan-persoalan yang terusik dalam hati kita, mungkin kecewa, jengkel dan merasa tidak puas karena pilihan kita tidak sesuai yang kita inginkan. Untuk itu sebagai warga Negara yang baik, maka pada momen bulan Ramadhan ini marilah kita menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh, sehingga bisa meningkatkan kecerdasan emosioanl kita. Itu artinya kekecewaan, sakit hati yang mungkin pernah terjadi saat pesta demokrasi kita kendalikan dan diihlaskan. Semoga puasa kita diridloi oleh Allah SWT. Aamiin.