Puasa Memaksimalkan Enersi Moral

Puasa Memaksimalkan Enersi Moral

Oleh : Sa'dullah Assa'idi Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara   Matahari mulai landai hendak tenggelam. Hilal pun segera tampak, waktu beralih jadi satu Ramadhan, puasa diwajibkan atas orang beriman. Tantangan muncul di dalam pribadi manusia, antara sikap ekstrim sebelum Ramadhan dan sikap ekstrim berpuasa, yang disibukkan dengan anjuran memperbanyak ibadah (qiyam) di waktu malam. Peluang meraih langit keutamaan dan pahala, yang Allah janjikan terbuka luas. Shalat tarawih atau qiyamul-lail, membaca ayat-ayat al-Qur'an, shalat tahajjud, makan sahur dan ibadah-ibadah lainnya, menggoreskan kelembutan spiritual "lain" dan khas. Sejak terbit fajar shiyam dimulai sampai maghrib. Makan, minum dan hubungan seksual suami-istri ditahan (imsak) selama sekitar tiga belas jam. Aktivitas keseharian tetap jalan, justru dinilai ibadah jika transendensinya semata-mata karena Allah seperti "diam" sekalipun. "Diam" (shumut) sangatlah berarti dan berpengaruh dinamis, karena seseorang yang berpuasa atau diam itu, adalah tidak mengolok-olok, tidak memperguncingkan, tidak adu-domba, tidak hasut kepada orang lain, intinya dia tidak berucap yang berakibat negatif. Puasa itu menyehatkan kepribadian manusia yang goyah, yaitu suka beralih dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya. Tensi-tensi moral dan sikap-sikap ekstrim yang saling bertentangan-berkecamuk menjadi "masalah" manusia itu, harus "dihadapi dengan puasa", jika ia ingin menjadi manusia yang benar-benar religius atau hamba Allah yang sejati. Itulah sebabnya al-Qur'an menyatakan harapan bagi orang berpuasa, adalah nemaksimalkan enersi moral, atau diperolehnya taqwa. Puasa terutama, dan ibadah-ibadah lainnya dalam bulan Ramadhan, mempunyai potensi menghadapi, mengatasi dan menyelesaikan "masalah", karena di dalamnya termuat "mengingat Allah" (dzikr Allah). Dzikr Allah itu adalah "power", kekuatan mengokohkan kepribadian. Apalagi dzikr Allah, mengaktifkan hati, lisan dan perilaku mengenai kisi-kisi peribadatan detik per-detik selama Ramadhan, adalah jalan terbaik, jalan tengah dan satu-satunya. Jalan tengah sebagai upaya memaksimalkan enersi moral itu, adalah sebuah organisme dari aksi-aksi moral yang integral, seperti ibadah-ibadah dalam Ramadhan. Keseimbangan aksi-aksi moral yang integral, itu dikatakan al-Qur'an sebagai taqwa, istilah yang terpenting di dalam al-Qur'an. Taqwa pada tingkatan tertinggi menunjukkan kepribadian manusia yang benar-benar utuh dan integral, ini semacam "stabilitas" yang terjadi setelah semua unsur-unsur positif dari berbagai ibadah diserap masuk ke dalam diri manusia. Allahu A'lamu bish-shawab.