Puasa Lahir Batin


Abdul Wahab*
Ibadah puasa merupakan wahana strategis untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertaqwa. Memang, belum tentu orang yang berpuasa kemudian secara otomatis akan lolos menjadi pribadi yang bertaqwa. Hal ini dipahami dari redaksi ayat yang menggunakan kata “la’alla” yang berarti “agar supaya” serta masih berupa kemungkinan-kemungkinan. Sehingga, dalam menjalankan ibadah puasa tentu harus memperhatikan banyak hal agar ibadah puasa kita tidak hanya memenuhi syarat sahnya, tetapi juga memenuhi syarat diterimanya, hal ini tentunya meniscayakan integrasi antara raga dan jiwa, atau meminjam istilah Gus Mus, puasa yang kita lakukan seharusnya tidak hanya puasa “daging” tetapi juga puasa “ruh”. Sebagaimana telah maklum, bahwa syarat wajib dan sahnya puasa meliputi orang Islam, berakal dan mampu kemudian berniat dan mampu menahan diri [al-imsak] dari hal-hal yang membatalkan puasa [al-Minhaj al-Qawim, 243-249]. Dan untuk memenuhi syarat wajib dan sah semacam ini tentu tidak begitu sulit selama kita memiliki tekad kuat berpuasa. Akan tetapi, ibadah puasa bukan sekedar ibadah yang diukur dari ukuran lahir [memenuhi syarat wajib atau sahnya saja], tetapi diukur pula kualitas kejiwaan [ruhiyyah] dari pelakunya, sehingga dalam hal ini Rasul menceritakan tentang Firman Tuhan bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, puasa adalah untuk Allah dan Allahlah yang akan memberi pahalanya. Hal ini sangat wajar, mengingat ibadah puasa merupakan ibadah yang tidak bisa dideteksi atas pelaksanaannya. Artinya, seseorang yang melakukan puasa bukan diukur dari lemasnya badan atau keringnya bibir, tetapi puasa merupakan wujud komitmen antara seorang hamba dengan Tuhannya. Kemudian, balasan ibadah puasa juga bukan hanya diukur dari kuantitasnya, tetapi juga kualitas ibadah tersebut secara proporsional. Apakah ia seorang awam yang hanya mampu melakukan puasa dengan menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual. Apakah ia orang khusus yang disamping mampu menahan makan, minum dan hubungan seksual ia juga mampu menahan semua anggota badan untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Tuhan. Ataukah orang super khusus yang disamping mampu menahan semua larangan orang awam dan khusus tadi, ia juga mampu menahan hati untuk tidak berambisi negatif, berpikir yang hanya berotrientasi dunia serta berpaling dari mengingat Allah. [Mukhtashar Ihya’ Ulumiddin, 61]. Nabi telah mengingatkan “banyak sekali orang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. Dengan demikian, kualitas puasa merupakan hal yang juga sangat penting diperhatikan guna memenuhi syarat diterimanya puasa tersebut. Puasa lahir batin inilah yang dapat menjadi wahana strategis membangun ketaqwaan, karena ketaqwaan lahir dari inspirasi-inspirasi dan kesadaran jiwa dan bersifat ruhaniyyah, bukan “pencitraan”. Mengenai makna taqwa, terdapat dialog yang menarik antara Khalifah Umar Ibn Khatthab dan sahabat Ubay Ibn Ka’b. Dalam perbincangan itu Ubay bertanya kepada Khalifah Umar, wahai Amir al-mu’minin, apakah taqwa itu, kemudian Sang Khalifah menjawab dengan pertanyaan pula, wahai Ubay, pernahkan kamu berada di tempat yang banyak durinya? Ubay menjawab, sering wahai Khalifah, lantas Umar bertanya kembali, lantas apa yang kamu lakukan? Ubay menjawab, tentu saya akan menghindari duri-duri tersebut sehingga saya terhindar dari tusukan duri-duri itu, dan sayapun selamat dari malapetaka, kemudian Umar berkata, itulah taqwa. Artinya bahwa taqwa merupakan upaya maksimal bagaimana menghindari “duri-duri” kehidupan agar kita terhindar dari berbagai bahaya, baik bahaya duniawi maupun ukhrawi, sehingga kita akan menuju selamat dan bahagia dunia dan akhirat (sa’adatuddarain). Semoga Allah menerima ibadah puasa kita, dan kita juga diperkenankan untuk belajar dan berupaya menjadi insan bertaqwa melalui ibadah puasa ini. Amin...
* Penulis adalah Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisnu Jepara