Pesan Moral Ibadah Puasa

Pesan Moral Ibadah Puasa

Pesan Moral Ibadah Puasa

Oleh: Shodiq Abdullah*)


Pada suatu hari Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para Sahabatnya; "Tahukah kalian, siapa orang yang bangkrut itu?" Para Sahabat menjawab; "Menurut kami, orang yang bangkrut adalah orang yang kehilangan hartanya dan seluruh miliknya". "Tidak", demikian Rasulullah menimpali jawaban para Sahabat. Kata Rasulullah selanjutnya; "Yang bangkrut adalah orang yang pada Hari Kiamat datang dengan membawa pahala dari puasanya, pahala shalatnya, pahala zakat dan hajinya, tetapi ketika pahala-pahala itu ditimbang dan dihitung, datanglah orang-orang mengadu. Orang pertama mengadu; Ya Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui, dahulu orang itu pernah menuduhku berbuat sesuatu padahal aku tidak pernah melakukannya. Maka, Allah pun menyuruh orang yang diadukan itu untuk menebus dosa tuduhan palsunya itu dengan sebagian pahalanya dan menyerahkannya kepada orang yang mengadu tersebut.

Kemudian, datang orang kedua yang mengadu; Ya Allah Tuhan Yang Maha Adil, dahulu orang itu pernah merampas dan mengambil hakku dengan sewenang-wenang. Maka, Allah pun menyuruh lagi orang yang diadukan itu untuk menebus dosa kesewenang-wenangannya dengan pahala amal salehnya, dan menyerahkannya kepada orang yang mengadu. Dan datang lagi orang yang mengadu, sampai akhirnya seluruh pahala shalat, zakat, haji dan puasanya habis  untuk  menebus dosa orang-orang yang mengadu; yaitu, orang yang pernah disakiti hatinya, orang yang pernah dirampas haknya, dan orang yang pernah dituduh tanpa alasan yang jelas. Semuanya dia bayarkan sampai tidak tersisa lagi pahala amal salehnya. Bahkan, ketika pahala amal salehnya sudah habis, masih juga datang kepadanya orang yang mengadu. Maka, Allah pun kemudian memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang yang diadukan itu. Itulah orang yang bangkrut, yaitu orang yang rajin menjalankan ritus-ritus agama, orang yang rajin menunaikan shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, haji dan ibadah-ibadah lainnya, akan tetapi dia tidak memiliki akhlak yang luhur”, demikian kata Rasulullah SAW. Mereka berhasil membangun hubungan yang baik dengan Tuhan, tetapi gagal membangun hubungan sosial yang baik dengan sesamanya.

Dari kisah simbolik tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam setiap ibadah terkandung "pesan moral" sebagai makna instrumental dari ibadah tersebut. Semua ibadah mahdlah, seperti shalat, zakat, puasa dan haji, disamping memiliki nilai intrinsik juga memiliki nilai instrumental sebagai pesan moral. Bahkan, begitu pentingnya pesan moral ini, sampai-sampai Rasulullah SAW menilai suatu ibadah dari sejauhmana kita mampu menjalankan pesan moralnya. Jika ibadah yang dilakukan seseorang itu tidak meningkatkan kualitas akhlak dan moralnya, maka Rasulullah menganggap bahwa ibadah tersebut sia-sia dan tidak bermakna. Karena diutusnya Rasulullah SAW tidaklah semata-mata hanya untuk mengajarkan do'a, wirid dan dzikir, tetapi misi utamanya adalah liutammima makarimal akhlaq, untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Oleh karena itu, seluruh ajaran Islam diarahkan untuk menyempurnakan akhlak, tidak terkecuali ibadah-ibadah mahdlah

Jika demikian, apa yang menjadi pesan moral ibadah puasa yang sedang kita kerjakan? Setidaknya ada tiga pesan moral yang terkandung dalam ibadah puasa. Pertama, puasa mendidik para pelakunya untuk dapat menahan diri dari berbuat hal-hal yang tidak bermanfaat, menahan diri dari melakukan perbuatan tercela, menahan diri dari melakukan tindakan yang merugikan orang lain atau merugikan masyarakat dan bangsa. Misalnya, menahan diri dari mengumpat, memfitnah, mencaci-maki, memprovokasi, korupsi, kolusi dan perbuatan tercela lainnya. 

Dalam sebuah Hadis diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW mendengar seorang perempuan sedang mencaki-maki pembantunya, padahal perempuan itu sedang berpuasa. Maka Rasulullah SAW menyuruh seseorang membawa makanan dan memanggil perempuan itu, kemudian Rasulullah berkata kepadanya; "Makanlah makanan ini!" Perempuan itu menjawab; "Saya sedang berpuasa ya Rasulullah." Rasulullah pun berkata; "Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya Allah menjadikan puasa sebagai penghalang bagi kamu dari berbuat hal-hal  yang  tercela. Maa aqallash shawwam, wa maa aktsaral jawwa. Betapa sedikitnya orang yang puasa dan betapa banyaknya orang yang lapar."  Di sini Rasulullah hendak menunjukkan kepada kita bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari berbuat hal-hal yang tercela; menahan diri dari menggunjing, memfitnah, mencaci-maki, korupsi, kolusi dan tindakan lain yang merugikan orang lain ataupun masyarakat.

Kedua, puasa mendidik para pelakunya untuk bersikap jujur dan disiplin. Begitu waktu imsak  tiba, maka harus berhenti memakan segala hidangan sahur  yang ada. Selanjutnya, walaupun tanpa seorang pengawas, sepanjang hari, kita akan tetap menahan diri untuk tidak makan dan minum sebelum waktu berbuka tiba.  Lebih dari itu, ibadah puasa mengajak dan mendidik pelakunya untuk dapat menahan diri dari memakan sembarang makanan, tanpa memperhatikan halal dan haram. Tidakkah ketika berpuasa makanan halal pun tidak boleh (diharamkan) dimakan sebelum datang waktunya yang tepat, apalagi makanan yang jelas-jelas diharamkan Jadi, jangan sembarang makan dan jangan asal makan. Sebagai muslim yang baik, mesti memperhatikan apa yang dimakan. Jangan jadikan perut sebagai tong sampah yang siap menampung apa saja, yang bersih maupun yang kotor, yang halal ataupun yang haram. Puasa mendidik pelakunya untuk tidak menjadi omnivora, binatang pemakan segala tanpa memperhatikan halal dan haram. 

Ketiga, puasa mendidik dan mengajak pelakunya untuk memiliki sikap empati dan perilaku dermawan. Bahwa tidak ada orang yang berpuasa yang tidak merasa lapar dan haus. Lapar dan haus itu tidak enak, bahkan terasa sakit. Sakit yang dirasakan ketika lapar dan dahaga karena berpuasa itu hanya bersifat sementara. Sebab, ketika maghrib tiba, maka rasa lapar dan haus itu akan segera sirna, karena telah dibolehkan makan dan minum. Jika lapar dan dahaga itu tidak enak dan terasa sakit, maka bagaimana rasa sakitnya fakir, miskin dan anak-anak yatim yang tidak tentu jadualnya kapan mereka dapat makan, apalagi menikmati makanan yang lezat dan bergizi. Puasa mendidik pelakunya untuk memperhatikan dan memberi makan orang-orang yang lapar, memberi pakaian orang-orang yang telanjang, menolong dan merawat orang-orang yang sakit. Ibadah puasa mendidik dan mengajak pelakunya untuk memiliki kepedulian sosial kepada kaum yang lemah. 

Ingat dan perhatikan pernyataan al-Qur'an bahwa "bagi orang-orang yang tidak sanggup dan tidak mampu berpuasa, maka hendaklah mereka mengeluarkan fidyah, yaitu memberi makan orang-orang miskin." Di sini Allah hendak menegaskan bahwa kalaupun tidak sanggup menjalankan ritus puasa, maka, paling tidak, laksanakahlah pesan moral puasa, yaitu santunilah fakir dan miskin. Oleh karena itu, ketentuan fikih menetapkan bahwa kifarat bagi sepasang suami-istri yang bersetubuh pada siang hari di Bulan Ramadhan, apabila tidak mampu  berpuasa  dua bulan berturut-turut, adalah memberi makan enam puluh orang miskin. Hal ini tidak lain menggambarkan bahwa salah satu pesan moral ibadah puasa yang sangat penting adalah kesadaran hati dan sikap untuk membantu, menyantuni kaum yang lemah, para fakir, miskin dan anak-anak yatim. 

Akhirnya, mari kita muhasabah atau evaluasi diri; sudahkan kita benar-benar berpuasa? Jangan sampai kita berpuasa tetapi hanya mendapat lapar dan dahaga. Semoga kita diberikan kekuatan untuk menunaikan ibadah puasa dan menggapai makna dan hikmah puasa. Amin


* Dosen Tetap UIN Walisongo Semarang dan Ketua Umum Yaptinu Jepara.