Penguatan Aliansi Dosen Nahdlatul Ulama

Penguatan Aliansi Dosen Nahdlatul Ulama

"Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial kemasyarakatan terbesar di Indonesia yang mempunyai sumber daya manusia (dosen) yang hidup di kampus, sudah saatnya ikut bergerak membentengi paham radikalisme yang sudah terpapar di kampus-kampus"

AJARAN Islam garis keras dan radikalisme, sudah merambah ke kampus-kampus. Mereka, penganut paham ini terus menerus menyuarakan dan terus berjihad mencari pengikut, terutama generasi muda yang masih menjalani proses belajar untuk mencari jati diri.

Target sasarannya adalah pelajar dan mahasiswa yang masih labil dalam pengamalan agama. Mereka didoktrin melalui pencucian otak untuk meyakini apa yang diajarkan mereka. Paham radikalisme mengklaim bahwa merekalah yang paling benar. Seolah-olah, kebenaran menjadi hak kelompoknya, orang lain salah.

Pemerintah dianggap tidak bisa menjalankan tugas sebagai pemimpin dan tidak bisa berlaku adil. Klaim dari mereka yang dangkal, ajaran Islam hanya dipahami sebagai alat jihad memerangi kemungkaran.

Semua orang harus sama dengan keyakinannya. Orang yang tidak seiman dengannya dianggap salah dan wajib diperangi. Yang lebih ekstrem lagi, perang untuk melawan yang tidak sepaham dengannya dianggap sebagai jihad fii sabilillah (di jalan Allah SWT).

Doktrin dari nalar yang salah ini, ternyata ampuh bagi pengikut-pengikut yang pikirannya labil dan kosong tentang keimanan Islam yang sebenarnya. Fenomena ajaran radikalis tersebut seperti gelombang masuk ke kampus-kampus, yang ini tentu harus kita bendung bersama- sama.

Kehidupan kampus, dari civitas academica harusnya sudah mulai tanggap dan mencari solusi agar paham radikal tidak terus berkembang. Dosen-dosen dan para aktivis mahasiswa harus bisa membentengi diri, dengan cara penguatan ajaran agama yang benar, penguatan nilai-nilai kebangsaan dan sikap patriotisme yang tinggi.

Lahirnya ADN

Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial kemasyarakatan terbesar di Indonesia yang mempunyai sumber daya manusia (dosen) yang hidup di kampus, sudah saatnya ikut bergerak membentengi paham radikalisme yang sudah terpapar di kampus-kampus.

Rasa kepedulian untuk menjaga kemurnian ajaran agama yang rahmatal lil alamin, dan sekaligus ikut menjaga keutuhan bangsa yang terbentuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang kini terus digoyang oleh mereka (kelompok Islam garis keras), maka sepakat untuk menyatukan langkah guna membentuk perkumpulan dosen di kampuskampus yang bernama Aliansi Dosen Nahada (Nahdlatul Ulama) yang disingkat ADN.

Organisasi ini dideklarasikan Jumat, 21 Februari 20120 di Wisma Perdamaian Semarang. Kelahiran ADN tidak berbau politis praktis, tetapi murni untuk penguatan dan pemberdayaan SDM NU, yang diharapkan bisa membentengi paham yang dianggap menyimpang dari ajaran agama yang sebenarnya.

Organisasi di lingkup Nahdlatul Ulama di kampus ini, berfungsi untuk mengaktualisasikan potensi para dosen Indonesia yang bermanhaj Ahlussunnah Waljamaah. Tugas utamanya sebagai tenaga fungsional akademik di perguruan tinggi tersebar di seluruh lndonesia dan juga di luar negeri.

Jika organisasi ini bisa berfungsi secara optimal akan mampu melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi, baik di bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian masyarakat. Muara akhirnya adalah meningkatkan mutu dosen untuk ikut menjaga kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penulis yang diserahi amanat untuk menjadi ketua umum ADN Wilayah Jateng dan DIY ini, untuk mengemban visi, yaitu menjadikan organisasi ADN yang berwawasan global dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Ahlussunnah Waljasmaah dan budi luhur bangsa Indonesia. Hal ini akan bisa berjalan sesuai dengan garis organisasi, jika didukung oleh seluruh komponen bangsa, terutama teman-teman dosen yang mempunyai komitmen besar terhadap jamiyah Nahdlatul Ulama dan kejayaan bangsa Indonesia.

ADN dalam mencapai visi harus didukung dengan misi yang sesuai, yaitu: Pertama, menyelenggarakan kerja sama internal dosen Indonesia yang bermanhaj Ahlussunnah Waljamaah lintas kompetensi dalam rangka memberikan kontribusi dan manfaat kepada masyarakat dan anggota.

Kedua, mengembangkan penguatan dan diseminasi manhaj Ahlussunnah Waljamaah kepada masyarakat dan anggota dalam memperkuat kapasitas bangsa dan negara dalam menghadapi era globalisasi dan disrupsi.

Ketiga, melakukan kegiatan pengkajian dan pengamalan kepada masyarakat sesuai dengan nilai-nilai manhaj Ahlussunnah Waljamaah dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Keempat, melakukan kerja sama internasional dalam penguatan organisasi dan pengabdian masyarakat. Untuk mencapai tujuan organisasi ini dalam menjalankan usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan, di antaranya adalah menghimpun para dosen yang memiliki sifat sesuai dengan kepribadian, sifat, dan tujuan organisasi.

Melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang sesuai dengan tujuan organisasi. Penguatan organisasi dan keanggotaan, riset, pengkajian strategis, pengembangan ilmu dan publikasi ilmiah. Kemudian pengabdian kepada masyarakat dan pelayanan halalan thayyiban.

Pengembangan teknologi infornasi komunikasi, dan diseminasi, pendidikan, dakwah dan ikut memperkokoh pejuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan NKRI. Dengan kehadiran aliansi dosen NU ini, agar lebih solid, perlu mendapat dukungan dari semua pihak.

Karena kehadirannya diharapkan bisa memberi kontribusi kepada pemerintah Republik Indonesia, terutama dalam upaya peningkatan sumber daya dosen untuk bisa berperan sesuai dengan kompetensi masing-masing dosen. Kita tahu bahwa para professor atau guru besar, para doktor akan mampu memberikan sumbangsih pemikiran dan bergerak, bagaimana upaya- upaya untuk ikut menangkal paham radikalisme di kampus-kampus. 

—Drs. Maswan, M.M., Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara, Ketua ADN wilayah Jateng dan DIY, dan anggota Dewan Pendidikan Jateng.

(Artikel ini juga dimuat di laman suaramerdeka.com / 21 Januari 2020) 

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/218271/penguatan-aliansi-dosen-nu#.Xk8JD6oCyFk.whatsapp