Pancasila dan Hubbul Wathan Minal Iman

Pancasila dan Hubbul Wathan Minal Iman

Pancasila dan Hubbul Wathan Minal Iman

Oleh : Muhammad Zainuddin, SH., MH. (Dosen Unisnu Jepara, Pengampu Mata Kuliah Pancasila)

Terbentuknya bangsa Indonesia tidak lepas dari unsur masyarakat, bentuk masyarakat yang pluralisme baik suku bangsa, bahasa, budaya, hingga agama yang kemudian diikat kuat dengan sebuah ideologi yang disebut dengan Pancasila. Keragaman unsur menjadikan bangsa Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan bangsa yang lain, kehidupan yang termuat di dalamnya memiliki banyak keunikan, sehingga bangsa Indonesia tidak luput dari tantangan dan ancaman.

Sebagai falsafah bangsa Indonesia, Pancasila memiliki makna bahwa seluruh unsur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara wajib berlandasakan pada nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan. Selain sebagai falsafah, ideologi serta pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila kerap dikaitkan dengan nasionalisme bangsa Indonesia.

Rasa nasionalisme tentu tidak lepas dari rasa cinta terhadap tanah air, sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam maka untuk menjaga eksistensi Pancasila ini tidak dapat dilakukan hanya menggunakan bidang nasionalis saja, namun juga perlu diimbangi dengan aspek religius yang memiliki pandangan luas tentang hukum kehidupan bermasyarakat.

Implementasi cinta tanah air yang diwujudkan oleh umat Islam khusunya warga nahdliyin dengan jargon Hubbul Wathan Minal Iman. Secara bahasa, Hubbul Wathan Minal Iman memiliki makna cinta tanah air sebagian dari iman. Gagasan Hubbul Wathan Minal Iman tidak pernah lepas dari peran ulama dan kiai Nusantara khususnya NU ketika masa perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Sejarah mencatat, proses pendirian Republik Indonesia tidak lepas dari kaum nasionalis dan religius yang mampu bersinergi dengan baik dengan berpedoman pada dasar yang tepat dan tidak ada unsur yang menyimpang. Pilihan pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa secara mendasar menjadi titik awal untuk menyatukan baik kaum nasionalis dan kaum religius. Ikatan dalam penggunaan ideologi Pancasila menjadi hal ideal yang penting bagi individu dan warga negara untuk tetap memiliki iman yang kokoh dan tetap meyakininya sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Tantangan

Salah satu bentuk ancaman dan tantangan untuk menjaga eksistensi pancasila khususnya rasa cinta tanah air pada saat ini adalah pengaruh globalisasi. Pengaruh global bila tidak direspon dengan baik dan seimbang oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia tentunya akan berdampak lunturnya rasa kebanggaan terhadap bangsa nya sendiri, akibatnya masyarakat akan berkurang rasa cinta terhadap tanah air.

Bentuk yang dapat dijadikan indikator lunturnya rasa nasionalisme dan cinta tanah air dapat dilihat dari prilaku masyarakat sekarang. Masyarakat yang lebih bangga terhadap kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa lain, lebih menyukai produk impor dibandingkan produk dalam negeri, serta lebih percaya kepada bangsa lain daripada bangsanya sendiri.

Implementasi Era Sekarang

Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat apabila dengan hidup belandaskan Pancasila serta seluruh elemen masyarakatnya berupaya untuk meningkatkan sikap cinta tanah air. Aspek ini perlu dilakukan agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitasnya yaitu ciri khas dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri yang mampu menjadi karakter bangsa Indonesia.

Wujud cinta tanah air dapat di implementasikan masyarakat sekarang tentunya tidak lagi berjuang dimedan pertempuran, melainkan cukup diwujudkn dengan mencintai budaya sendiri dibandingan dengan budaya bangsa lain, membeli produk dalam negeri dan lebih percaya kepada bangsa sendiri daripada bangsa lain.

Sedangkan untuk mewujudkan pengamalan sila pertama Pancasila dapat dilakukan dengan meningkatkan rasa toleransi terhadap sesama bangsa Indonesia. Toleransi baik dalam beragama, berbudaya, berpendapat, bahkan berpolitik. Melalui peningkatan rasa toleransi tentunya dapat mengurangi perselisihan bahkan konflik dalam masyarakat. Rasa toleransi pula dapat dijadikan sebagai indikator implementasi cinta tanah air dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.