Dalam Pancasila Tersirat Tauhid Power

Dalam Pancasila Tersirat Tauhid Power

Oleh : Dr. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag. | Rektor Unisnu Jepara   Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia identik dengan "kalimah sawa’" yang dinyatakan al-Quran: "Wahai ahli-ahli Kitab, mari kita (secara bersama-sama) melakukan program (formula) yang sama (kalimatin-sawa’) di antara kita - bahwa kita tidak akan menyembah sesuatu pun kecuali Allah" (QS. Ali Imran/3:64). "Tidak menyembah sesuatu pun kecuali Allah", itu adalah statement dari platform untuk kerjasama di dalam membangun semacam tata etika-sosial dunia dan tidak seperti bentuk-bentuk "ekumenisme" kontemporer. Bagi kita Muslim Indonesia saat jelang kemerdekaan menginginkan Indonesia yang merdeka berlandaskan Islam (arahnya Islamic State of Indonesia). Tetapi nasionalis sekuker, yang mayoritas justru pemeluk Islam sendiri dan non-muslim menolak. Tampil Soekarno, nasionalis sekuler paling terkemuka, menawarkan kompromi dengan merujuk secara bersama-sama pada unsur-unsur kecenderungan ideologi manusia, dan Sukarno lah yang memperkenalkan ide Pancasila, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Nasionalisme, Demokrasi dan Keadilan Sosial. Pada saati itulah dianggap Pancasila lahir. Namun, pada 22 Juli 1945 Pancasila baru menemukan bentuknya yang paling sempurna yang dikenal dengan Piagam Jakarta, di antara tokoh yang mewarnai adalah KH. A. Wahid Hasyim, bahwa Indonesia berdasarkan: 1) Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan Syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3) Persatuan Indonesia, 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonedia. Piagam Jakarta ini sebenarnya dimaksudkan sebagai teks deklarasi kemerdekaan, tetapi Soekarno dan Hatta tidak memasukkan ke dalam Mukaddimah Konstitusi, justru merumuskan dokumen baru yang kemudian menjadi teks proklamasi, dan dibaca pada 17 Agustus 1945. Keesokan harinya, pada 18 Agustus 1945, rapat PPKI merumuskan konstitusi, ada informasi menyatakan bahwa orang-orang Kristen yang berasal dari Sulawesi Utara, tanah kelahiran A.A. Maramis, secara serius menolak satu ungkapan dalam piagam tersebut yang menyatakan "Ketuhanan, dengan 'ketetapan tertenyu' kewajiban menjalankan Syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Muhammad Hatta yang memimpin rapat, setelah berkonsultasi kepada Teuku Muhammad Hasan dan Kasnan Singodimejo, menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta, kemudian atas usul Ki Bagus Hadikusumo, ditambah ungkapan baru menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Pada hakekatnya ungkapan ini bagi orang-orang Islam mengandung tekanan khusus menyangkut kualitas monotheistik prinsip ke-esaan Tuhan yang sesuai dengan ajaran Islam, yaitu tauhid. Bagi mayoritas rakyat Indonesia, konstitusi ini dipandang dari sudut agama, cukup netral (untuk tidak mengatakan sekuler), bahkan merupakan statement of platform untuk kerjasama di dalam membangun tata etika-sosial Indonesia. PPKI mengadopsi versi piagam yang telah direvisi ini sebagai Mukaddimah Konstitusi, sejak itu konstitusi dikenal Undang-Undang Dasar 1945, dan sila-sila Pancasila dimuat di dalam Pembukaan UUD 1945. Momen hari kelahiran Pancasila bagi bangsa, harus menyadarkan kita umat Islam akan arti kerjasama, terutama mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam dalam membangun tata etika-sosial bagi rakyat/bangsa Indonesia.