Padi Semi Organik Binaan Unisnu Jepara dipanen.

Padi Semi Organik Binaan Unisnu Jepara dipanen.

[caption id="attachment_3914" align="aligncenter" width="445"]Panen PHBD FSH Unisnu Jepara BERDOA, Para petani dan tim pendamping dari PHBD FSH Unisnu Jepara berdoa sebelum panen.[/caption]

Padi semi organik hasil program binaan tim Program Hibah Bina Desa (PHBD) Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara dipanen secara massa, Rabu (22/2) kemarin. Padi ditanam di area persawahan Damaran Desa Mindahan Kidul Batealit Jepara seluas 1 hektar pada Nopember 2016. Tim PHBD menggandeng beberapa pihak, seperti Kemristekdikti, UPT Pertanian Kecamatan Tahunan, UPT Pertanian Kecamatan Batealit dan Gapoktan Ngudi Hasil sebagai pelaksana program.

Hadir dalam acara panen tersebut UPT Distanak Kecamatan Batealit beserta PPL Pertaian Desa Mindahan Kidul, para petani dan beberapa Mahasiswa. Joko Suprihantono, perwakilan UPT Distanak Kecamatan Batealit menyampaikan bahwa pola penanaman padi dengan menggunakan teknik semi organik merupakan teknologi baru yang diterapkan di desa Mindahan Kidul. Dengan teknologi ini harapannya para petani dapat beradaptasi, sehingga para petani tidak kaget dengan munculnya beberapa teknologi akhir-akhir ini. “Setelah menunggu selama kurang lebih 90 hari pascapenanaman, hari ini para petani bisa panen menikmati hasilnya,” tutur Joko.

Sementara itu, Subakir dari Gapoktan Ngudi Hasil mengucapkan terima kasih terutama kepada para mahasiswa Unisnu yang terlibat dalam penanaman padi tersebut, baik selama masa pratanam, masa tanam hingga para petani bisa panen, “Banyak hal yang dapat kami dapatkan semenjak bekerjasama dengan para mahasiswa, kami telah dibantu benih, diajak membuat pupuk baik padat maupun cair dan pestisida nabati. Terlebih banyak ilmu yang bisa kami serap.” pungkasnya.

Dengan adanya teknologi semacam ini harapannya dapat meningkatkan produktifitas padi. Sehingga ada perbedaannya antara sebelum dan sesudah menggunakan teknologi ini. “Sebelum menggunakan teknologi ini para petani hanya mampu menghasilkan 4,9 ton perhektar. Sementara setelah menggunakan teknologi ini dan setelah kita hitung dengan teknik sampling, para petani akan menghasilkan 6,2 ton perhektar. Artinya ada peningkatan 1,3 ton perhektar” tutup salah satu mahasiswa, Muhammad Iklil. (LPM BURSA)