NU, Fenomena Ilmu Menyejukkan Umat

NU, Fenomena Ilmu Menyejukkan Umat

Keputusan Raja Saudi Arabia menonjolkan hegemoni faham Wahabi, justru memicu para kiai dan ulama pesantren berhaluan Ahlussunnah wal-jama'ah (Aswaja) tergerak. Diawali Kiai A. Wahab Hasbullah tampil mengundang para kiai dan ulama terkemuka Jawa dan Madura untuk hadir pada pertemuan di Forum Tashwirul Afkar di Ampel Surabaya.

Beberapa tokoh kiai sangat gandrung, mendambakan munculnya wadah atau organisasi tempat bernaungnya para ulama untuk mengkaji dan membahas ilmu yang menyejukkan umat, sekaligus memberi jalan keluar dan perlindungan bagi umat Islam Aswaja di seluruh dunia termasuk yang tinggal atau muqimin di Hijaz atau Saudi Arabia.

Fenomena ilmu yang menyejukkan umat ini berawal dari bangkitnya kesadaran keilmuan ulama, yang tidak menyukai keberagamaan intoleran Wahabi yang disebarkan oleh Kerajaan Saudi Arabia. Kiai Mas Alwi Abdul Aziz mengawali utak-atik nama wadah yang serasi dengan muatan aktivitas dan tujuannya, tentu karena ilmu-ilmu berdasar Wahyu Ilahi yang tertera dalam Al-Qur'an dan Hadis Nabi serta segala yang dapat diambil dari keduanya. Juga ilmu-ilmu yang dicari sendiri oleh para kiai, sebagai acquired knowledge termasuk pengalaman dan terapannya, tentunya yang selaras dengan Syari'ah sebagai sumber nilai.

Kiai Mas Alwi memberi nama wadah itu dengan Nuhudlul Ulama yang dalam bahasa Indonesianya "Bangkitnya Ulama". Usaha yang bersifat subyektif-transendental ini juga diikhtiarkan oleh Kiai Wahab Hasbullah dengan melakukan istikharah, memohon petunjuk langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian hasilnya diperoleh: Kiai Wahab bermimpi bertemu Raden Rahmat (Sunan Ampel) memberi beliau sebuah blangkon (tutup kepala versi Jawa) dan sapu bulu ayam dengan gagang panjang --yang biasa digunakan membersihkan langit-langit.

Ikhtiar Kiai Mas Alwi dan hasil mimpi Kiai Wahab dilaporkan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Tepat tanggal 31 Januari 1926 sesuai dengan 16 Rajab 1345 Hijriyah, bertepatan Hari Kamis pertemuan yang sungguh diharapkan diridlai Allah Ta'ala dengan bertempat di Forum Tashwirul Afkar, yaitu di Lawang Agung Ampel, Surabaya. Pada pertemuan itu pula organisasi baru bernama Jam'iyyah Nahdlatul Ulama lahir yang berarti organisasi Kebangkitan Ulama.

Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy'ari ternyata memilih Nahdlatul Ulama --yang disingkat NU, jika dilihat dari rentetan kegiatan ulama Aswaja di Forum Tashwirul Afkar tentu merupakan kelanjutan dan peningkatan Komite Hijaz. Karena sudah lahir dan menjelma NU, maka dengan sendirinya Komite Hijaz meski masih menyisahkan tugas kegiatan dibubarkan, semuanya dilimpahkan kepada NU.

Fenomena ilmu yang menyejukkan umat dari NU sebagai wadah kiprah ulama, adalah centrum perekat dunia pendidikan bahkan pondok pesantren Aswaja. Dari sekian ribu pondok pesantren, yang patut dicatat adalah Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi'iyyah Tebuireng Jombang, didirikan dan diasuh oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, seorang 'alim besar, 'allamah sangat luas pandangan dan ilmu pengetahuannya, serta memiliki kekuatan keruhanian yang mempesona (magnetic spirituality power) hingga banyak pihak sangat menghormatinya. Beliau mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian kebudayaan Indonesia, agar tidak dicampuri dan disusupi kebudayaan Barat yang bisa menghancurkan tradisi dan budaya Islam.

Al-Qur'an adalah wahyu Allah untuk menjelaskan hakikat wujud-Nya dengan mengaitkan tujuan akhir, yaitu ta'abbud pengabdian kepada-Nya, maka alam raya termasuk dunia dan negeri Indonesia ini --sebagai ciptaan-Nya-- harus berfungsi (yufidu) sebagaimana fungsi Al-Qur'an yaitu menjelaskan hakekat wujud ini hingga transformasi ukhrawi. Demikian ini cara-cara ulama NU mengajar santri di pesantren. Ilmu dalam pengertian sempit sekalipun, seperti ungkapan ballighu 'anni wa lau ayatan (sampaikan dariku meski hanya satu ayat), harus harus diberi makna, "Pengenalan dan pengakuan terhadap tempat-tempat yang benar dari tatanan penciptaan yang utuh sehingga membimbing manusia ke arah pengenalan dan pengakuan akan maqam atau ' tempat ' sesuai Masyi'atullah (Kehendak Allah) yang ' tepat ' di dalam tatanan wujud dan keperluan". Konsep tentang "tempat yang tepat" ini berhubungan dengan dua ranah penerapan. Satu pihak mengacu pada wilayah ontologis yang mencakup manusia dan benda-benda empiris, dan lain pihak pada wilayah teologis yang mencakup aspek-aspek keagamaan dan etis. Fenomena ini mudah ditemukan di warga NU atau Nahdliyyin, baik karena belajar di dalam negeri maupun di luar negeri.

Hal itu menjadi dokumen atau manuskrip yang ditulis oleh para kiai, tentunya dengan memperhatikan bagaimana Al-Qur'an mengaitkan perintah yang berhubungan dengan makrokosmos sebagai perintah pengenalan dan pengakuan atas keagungan dan kekuasaan-Nya. Ilmu pun --dalam pengertiannya yang umum sekalipun-- menurut wahyu pertama, yang diajarkan para kiai Aswaja memberi pengertian bahwa "ilmu tidak dijadikan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengorbankan kepentingan lainnya".

Ungkapan al-'ilmu bitta'allum lillahi rabbi ilmu pengetahuan itu dipelajari karena Allah Yang memeliharaku, sehingga harus dapat memberikan manfaat kepada pemiliknya, warga masyarakat dan bangsanya. Juga bagi  umat manusia pada umumnya, bahkan harus membawa kebahagiaan dan cahaya ke seluruh penjuru dan sepanjang masa. Pesan Al-Qur'an yang terkait makrokosmos dan seluruh isinya adalah intelligible, dapat dijangkau oleh akal dan daya manusia, juga menggarisbawahi segala sesuatu yang ada di alam raya uji telah dimudahkan untuk dimanfaatkan manusia.

Faham Ahlussunnah wal-Jama'ah mendasari ilmu pengetahuan yang menyejukkan, sehingga tumbuh kesadaran tentang keharusan mengaitkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai moral keagamaan. Dulu telah diprediksi akan muncul cultural relations for the future, hubungan kebudayaan di kemudian hari, akhirnya ternyata dalam kenyataannya ada reconstituting the human community, yang simpulannya antara lain, "untuk menetralkan pengaruh teknologi yang menghilangkan karakter kepribadian manusia (human personality), maka nilai-nilai keagamaan dan spiritual harus digali".

Pada Hari Lahir NU Ke-95 mengingatkan warga Nahdliyyin dan masyarakat luas untuk menghayati, memikirkan dan berpihak kepada Jam'iyyah Nahdlatul Ulama, sebagai fenomena ilmu selalu menyejukkan umat. Mari kita tingkatkan kesadaran kita, bahwa eksistensi kemanusiaan dewasa ini membutuhkan penafsiran spiritual atas alam raya --sadari di sekitar kita ada fitnah, musibah dan bencana, emansipasi spiritual atas individu --bebaskan keberagamaan spiritual individu, dan keutuhan spiritual tauhid universal mengatasi evolusi masyarakat.. Innama yakhsyal-laha min 'ibadihil-'ulama , di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Bagaimana pun warga NU dari berbagai kalangan santri, pembelajar, guru maupun intelektual dituntut selalu belajar, berimajinasi rasional, berimajinasi Qur'ani seperti Ibnu Sina, memperkaya ilmu pengetahuan selanjutnya diekspresikan secara lisan, tulisan, perbuatan dan pertemuan.

Karena berdimensi spiritual maka ilmu itu  menyejukkan, dan mengantar umat manusia mudah menangkap keindahan, pengorbanan, cinta-kasih,  kesetiaan, pemujaan dan sebagainya. Ahlussunnah wal-Jama'ah mengenalkan dimensi spiritual untuk mengantarkan manusia menghayati Sang Realitas Yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas dan tanpa akhir: wa inna ila rabbika al-Muntaha --sesungguhnya kepada Tuhan-mu-lah berakhirnya segala sesuatu. Berpegang pandangan ini, kita manusia akan berada dalam satu alam yang hidup, bermakna, yang dimensinya menurut material-diri individu dan sekitarnya, sesuai bekal dari Allah yaitu potensi dan kekuatan positif untuk mengubah corak kehidupan di dunia ke arah yang lebih baik. Mari masing-masing warga Nahdliyyin meningkatkan prestasi khidmat-nya untuk Jam'iyyah Nahdlatul Ulama agar makin bermakna bagi negara, bangsa dan masyarakat dunia.

Allahu A'lamu bish-shawab

Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag.

Rektor Unisnu Jepara