Merindu Gus Dur: Melanggengkan Pemikiran Gus Dur di Masa Kekinian

Merindu Gus Dur: Melanggengkan Pemikiran Gus Dur di Masa Kekinian

Jum`at 28 September 2018, Tim Pengabdian Dosen Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara bermitra dengan Jaringan Gusdurian Jepara menyelenggarakan bedah buku “MERINDU GUS DUR; Antologi Esai Pemikiran Sang Guru Bangsa”, buku ini merupakan kumpulan tulisan tentang ekstraksi pemikiran dan perjuangan Gus Dur semasa hidupnya. Kegiatan tersebut terselenggara dalam rangka Hari Perdamaian Internasional dan Diseminasi Hasil Pengabdian Masyarakat oleh Tim Pengabdian Unisnu Jepara yang diketuai oleh Fathur Rohman, M.Pd.I., dan dua anggotanya, Ahmad Saefudin, M.Pd.I. serta Yushinta Eka Farida, M.Pd.

Kegiatan yang bertempat di Auditorium Pascasarjana Unisnu Jepara tersebut secara resmi dibuka oleh Rektor Unisnu Jepara, Dr. H. Sa`dullah Assaidi, M.Ag., yang juga merupakan salah satu Narasumber pada kegiatan bedah buku. Pada sambutan pembukaan, Rektor menyampaikan terima kasih kepada Jaringan Gusdurian Jepara serta Tim Pengabdian Dosen terkait kegiatan ini dan hadirin yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri bedah buku Merindu Gus Dur.

Selain Rektor, kegiatan bedah buku yang menyedot antusias 120 pengunjung itu menghadirkan narasumber Inayah Wahid (Putri Gus Dur); Greg Vanderbilt (akademisi asal Amerika Serikat, CRCS UGM Yogyakarta) serta Kalis Mardiasih (penulis, Media Kreatif Jaringan Nasional Gusdurian).

Inayah Wahid dalam paparannya mengungkapkan rasa Syukur karena bisa mengunjungi Jepara dan Unisnu, Inayah juga mengungkapkan syukurnya karena adanya buku “Merindu Gus Dur”. Harapannya, lahirnya buku tersebut menambah minat baca masyarakat Indonesia. “Pada masyarakat yang sekarang tampaknya begitu lebih senang berbicara dibanding membaca, maka kegiatan dialog, forum kajian diskusi yang dilakukan Gusdurian sehingga mampu melahirkan sebuah buku merupakan suatu yang luar biasa dan perlu diapresiasi,” imbuhnya. Inayah juga menuturkan bagaimana kemuidian teman-teman penulis “Merindu Gus Dur” dari berbagai sudut pandang dengan berbagai macam pengalamannya meperlihatkan bahwa Gus Dur itu adalah sosok pembaharu dan pendobrak, ada banyak sekali yang di dobrak Gus Dur.

Salah satu amalan Gus Dur sebagaimana diungkap Inayah pada acara tersebut, bahwa Gus Dur tidak capek-capek untuk berziarah karena ziarah sangat penting. Hal tersebut dikatakan Inayah saat menjawab pertanyaan dari salah satu peserta bedah buku, Arif dari Jepara. Putri Gus Dur tersebut juga menambahkan, jika ayahnya termasuk tipikal orang yang “open” (merawat - Red) apa pun diopeni, dirumat (baca: dirawat). “Bapak nggak gengsi, antimainstream, sudah blusukan dan sudah pengajian ke mana-mana,” jelasnya.

Fathur Rohman, M.Pd.I., ketua Tim Pengabdian Dosen Unisnu menuturkan bahwa Terbitnya buku "Merindu Gus Dur" ini adalah upaya untuk “ngalap” keramatnya Gus Dur demi kedamaian negeri ini. “Gus Dur itu wali yang dengan keramatnya bisa mendamaikan negeri ini. Meski Gus Dur sudah  tiada, tapi keramatnya masih tetap ada. Kalau keramatnya wali-wali itu sering diidentikkan dengan hal-hal gaib, Gus Dur tidak begitu. Keramatnya Gus Dur bukan pada kegaiban, tetapi pada pemikirannya yang tidakk  pernah habis  meski sudah ditulis & dikaji beribu kali,” imbuhnya.