Mengembalikan Orientasi Tradisi-Tradisi Luhur di Bulan Ramadhan


Abdul Wahab Saleem
Bulan Ramadhan disebut sebagai bulan suci penuh berkah, penyebutan semacam ini tentunya bukan tanpa alasan, karena pada bulan tersebut berbagai macam aktifitas “suci” dilaksanakan dan segala bentuk amal dilipatgandakan balasannya. Bulan Ramadhan memiliki posisi istimewa terutama di kalangan umat Islam, sehingga bulan ini diperlakukan secara istimewa pula, mulai cara penyambutannya, meramaikan malam-malamnya, mendamaikan hari-harinya dan juga mengakhirinya. Bulan ini ditunggu-tunggu dan disambut kehadirannya dengan rasa suka-cita dengan berbagai tradisi yang melingkupinya, penetapannya dilakukan dengan sidang itsbat oleh pemerintah, di kampung-kampung dilaksanakan berbagai tradisi luhur semisal nyadran, drandangan, eder dan lain sebagainya, sehingga secara praktis hal-hal tersebut juga memiliki efek tersendiri terhadap “rasa” batin umat Islam yang memang sedang menunggunya. Dalam meramaikan malam-malamnya juga dipenuhi dengan aktifitas-aktifitas mulia semisal shalat tarawih, gerakan tadarrus al-Qur’an, i’tikaf, sampai pada kegiatan semacam tongtek dan sejenisnya. Landasan teologis yang menginspirasi masyarakat salah satunya adalah Hadis Nabi “Barang siapa yang “mendirikan” (sebagian riwayat, puasa) Ramadhan dengan disertai iman dan keikhlasan mencari ridha Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Berbagai macam tradisi luhur yang ada, satu sisi memang harus diapresiasi, karena tradisi-tradisi tersebut dimunculkan dalam rangka “menghidupkan” serta mengistimewakan bulan Ramadhan. Akan tetapi di sisi lain, tidak dapat dipersalahkan pula kala terdapat sebagian orang yang mulai mempersoalkan bahwa belakangan memang telah terjadi semacam disorientasi terhadap tradisi-tradisi luhur dalam bulan Ramadhan. Shalat tarawih yang semula ditradisikan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah sekaligus meramaikan malam ramadhan menjadi kehilangan nilai manakala tujuannya adalah yang penting ramai dan yang penting cepat. I’tikaf seharusnya dimaksudkan untuk meramaikan masjid-masjid di kampung-kampung agar syi’ar Ramadhan semakin terlihat, tetapi belakangan terdapat tren i’tikaf yang dilakukan hanya di masjid-masjid pusat kota, atau masjid-masjid “keramat”, sehingga masjid-masjid kampung tetap sepi peminat. Kegiatan tongtek dan sejenisnya semula bertujuan membantu membangunkan masyarakat untuk mempersiapkan kegiatan sahur, tetapi belakangan dipersoalkan karena praktiknya dianggap “menyimpang” dari tujuan awal, mulai dari alat musik yang digunakan, lagu-lagu yang dinyanyikan, dijadikan sebagai ajang begadang dan ngobrol sana-sini yang dianggap tidak pantas dilakukan di malam Ramadhan. Serta masih banyak contoh yang lain. Yang digambarkan di atas hanyalah contoh kecil dan hanya menurut pandangan sebagian orang, tentunya dipaparkan hanya dalam rangka muhasabah bukan mengkritisi, artinya, bahwa tradisi luhur yang selama ini berjalan dan bahkan praktinya disesuaikan dengan perkembangan dan dinamika (tempat, pelaku dan zaman) tentu harus diapresiasi, akan tetapi orientasi awal dimunculkannya tradisi-tradisi luhur tersebut juga harus tetap digelorakan, yaitu “menghidupkan” bulan Ramadhan dengan melakukan berbagai aktifitas ibadah, tulus dan ikhlas mencari ridha Allah dengan tetap menjaga kesucian dan keberkahannya.
* Penulis adalah Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisnu Jepara