Memaksimalkan Enersi Moral

Memaksimalkan Enersi Moral

Memaksimalkan Enersi Moral

Oleh : Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag. (Rektor Unisnu Jepara)

Terasa dibutuhkannya "petunjuk", saat keadaan manusia goyah, labil dan bingung. Padahal memang, "Sesungguhnya manusia memiliki sifat yang goyah. Jika mendapatkan kemalangan ia pun berkeluh kesah tetapi jika mendapatkan kebaikan ia berusaha agar kebaikan itu tidak sampai kepada orang-orang lain" (QS Al-Ma'arij/70: 19-21). Karena itu menurut Al-Qur'an kelemahan manusia yang paling dasar adalah dla'f: kepicikan (pettiness) dan qathr: kesempitan pikiran (narrowness). Karena sifat picik dan sempit pikiran itu, tampak manusia mementingkan diri sendiri namun tidak dirasa malah merugikan dirinya sendiri, makin tamak, tingkah-lakunya ceroboh serta panik, kurang mempercayai diri sendiri, dan kekhawatiran terus menghantuinya.

Karakter atau sifat manusia yang selalu beralih dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya, disebabkan kesempitan akal dan kepicikannya. Tentu ini menunjukkan pelbagai tensi moral yang dasar terkait tingkahl akunya harus berfungsi, jika ia ingin menjadi kokoh dan berhasil (to be stable and fruitful). "Sikap-sikap ekstrim yang bertentangan" diposisikan sebagai "tensi-tensi yang harus dihadapi", jika ingin jadi manusia yang benar-benar religius atau hamba Allah yang sejati. Singkatnya, "perasaan yang benar-benar negatif" dan "anggapan bahwa dirinya adalah amat kuat" merupakan sikap-sikap ekstrim yang membentuk tensi-tensi natural perlu diarahkan menuju shalahul-basyar, yaitu tingkahlaku manusia yang sepatutnya.

Jadi kerangka amal perbuatan sebagai God given (yang diberikan Allah) kepada manusia sangat jelas, bertujuan utama memaksimalkan enersi moral. Tujuan terkait puasa Ramadhan agar bertaqwa, adalah "…(bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil)" (QS Al-Baqarah/2: 185). Yang sangat penting dari "petunjuk bagi umat manusia", adalah ajaran moral yang memuat baik dan buruk dari Wahyu Allah selalu melekat ke dalam diri pribadi menjadi iman-dalam-amal. Karena jika pandangan moral manusia menjadi sempit dan manusia tidak lagi memiliki dimensi transendental, maka dari sudut pandangan moral yang objektif: merasakan jadi sulit… apakah dirinya yang beriman, apa sudah bertaqwa, sudahkah jadi religius atau shalih, sementara kejujuran dan etika moral tidak "mempribadi" ke dalam dirinya.

Ternyata sikap picik dan pikiran sempit hanya membuat partikularisasi subyektif (menyempitkan pandangan) terhadap kebenaran, baik oleh diri pribadi individual maupun kelompok. Urgensi memaksimalkan enersi moral (to maximize moral energy) harus diterapi dengan dzikrullah yaitu "mengingat Allah" (remembrance of God) apa pun bentuk ibadahnya, shalat, puasa, qira’atul Qur'an, shadaqah, shilaturrahim, belajar, mengajar dan sebagainya. Partikularisasi subjektif itu "melupakan Allah" yang berarti menghancurkan kepribadian individu dan kelompok. Dengan terapi dzikrullah akan berada di jalan tengah (the middle road), adalah satu-satunya jalan yang terbaik. "Tengah" yang dimaksudkan, tengah yang positif dan kreatif, adalah organisme moral yang integral, yang hanya dapat dicapai dengan mengerahkan seluruh keuletan dan kekuatan dalam taat beribadah (al-tha'ah bil-istiqamah). "Tengah" menurut ajaran Al-Qur'an adalah keseimbangan di antara sisi-sisi yang ada dan integral, bukan di antara sisi-sisi yang tidak ada dan ditiadakan.

Artinya keseimbangan unik yang terjadi aksi-aksi moral yang integral inilah yang disebut taqwa, yang biasa diterjemahkan "takut kepada Allah" (khasyyatullah) atau "kesalehan". Aksi moral bisa menyentuh mental manusia, yaitu rasa malu, bahkan ada sabda Rasulullah Shalla-llahu 'alaihi wa sallama, "Sesungguhnya sebagian dari ucapan nubuwwah (kenabian) pertama yang diperoleh manusia ialah ‘’Bila engkau tidak malu, maka berbuatlah semaumu’’”.

Rasa malu merupakan sikap mencegah diri dari perilaku nista, menahan diri untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan karena takut akan makian yang muncul sesudahnya, lalu seruan untuk berakhlak malu adalah untuk mencegah maksiat dan kejahatan. Rasa malu juga merupakan elemen kebaikan yang selalu diinginkan oleh manusia. Rasa malu yang sudah dibawa sejak lahir, akan mengantar seseorang memiliki akhlak paling mulia, yang diberikan Allah. Maka wajar kalau Rasulullah lebih malu dari seorang gadis dalam pingitan. Diriwayatkan dari Umar bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa yang merasa malu maka akan bersembunyi, barangsiapa yang bersembunyi maka akan berhati-hati, dan barangsiapa yang berhati-hati maka ia akan terjaga."

Rasa malu diupayakan untuk dimiliki, berawal sangat teliti hingga menumbuhkan rasa malu. Usaha ini melalui ma'rifatullah, mengenal Allah dalam sifat-sifat-Nya, menyadari kedekatan Allah dengan makhluk-Nya, meyakini bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-hamba-Nya dan mengetahui apa yang dan yang tersembunyi, meskipun dalam hati. Meraih rasa malu ini, adalah kesungguhan manusia hendak menjelmakan nilai iman yang luhur dan nilai ihsan yang agung. Rasa malu ini akan mengantar seseorang piawai dalam menangkap nikmat Allah sekecil apa pun, seraya mendorong dirinya untuk selalu bersyukur kepada Allah, ini semua karena malu kepada-Nya. Rasa malu akan membuahkan kesucian diri ('iffah). Barangsiapa yang memiliki rasa malu, hingga mampu menaklukkan setiap perbuatan buruk yang akan ia langgar, maka ia benar-benar telah menjaga kesucian dirinya. Rasa malu juga membuahkan sikap selalu menepati janji (wafa'). Marilah kita jujur pada diri kita sendiri. Mari maksimalkan enersi moral kita melalui ibadah di dalam bulan Ramadhan.

Allahu A'lamu bish-shawab