Maulid Nabi: Momen Refleksi Memaknai Rahmatan Lil ‘Alamin

Maulid Nabi: Momen Refleksi Memaknai Rahmatan Lil ‘Alamin

Maulid Nabi, begitu masyarakat menyebut momen bahagia memperingati bulan kelahiran Rasulullah SAW. Budaya menggemakan shalawat, salam, pembacaan barzanji dilakukan di berbagai penjuru selama dua belas hari pada bulan Maulid. Budaya tersebut bukan hanya ritual semata, tetapi menyimpan harapan serta do’a seluruh ummat. Harapan agar termasuk umat yang memperoleh syafa’at Rasulullah SAW. Selain itu ada pula kerinduan seluruh umat akan sosok Rahmatan Lil ‘Alamin.

Ketika menelusur data manusia yang dideskripsikan dalam al-Qur’an memiliki sifat Rahmatan Lil ‘Alamin, hanya ada satu yakni Rasulullah Muhammad SAW. Pada surat al-Anbiya’ ayat 107, dijelaskan “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. Istilah rahmatan lil ‘alamin kemudian menjadi spirit yang didengungkan sebagai misi ajaran Islam.

 

Makna Rahmatan Lil ‘Alamin

Rahmatan lil ‘alamin bila diurai berasal dari kata rahmah, li, dan ‘alamin. Secara ushul kata rahmah berarti kasih sayang, lemah lembut. Sehingga bila sifat ini dilabelkan pada manusia, tentu hal itu menggambarkan lembutnya hati manusia sehingga mendorong pada perilaku baik dan penuh kasih sayang.

Lil ‘alamin, pada redaksi terjemah diartikan bagi seluruh alam. Kata ‘alamin tersebut merupakan bentuk jamak dari ‘alam (alam), yang memiliki akar kata sama dengan ‘alamah (tanda) dan ‘ilmu (pengetahuan). Pada beberapa literatur diuraikan bahwa kata ‘alam mencakup seluruh makhluk Allah, dan alam raya. Dimana wujud seluruh alam seisinya merupakan tanda serta menjadi sarana pengetahuan akan adanya Dzat Penguasa Alam. 

Menguraikan tentang Rasulullah sebagai rahmatan lil ‘alamin, menurut Prof. Quraish Shibah menunjukkan bahwa totalitas wujud diri serta kalbu Rasulullah adalah rahmat untuk alam semesta seisinya. Bagaimana sikap kasih sayang Rasulullah begitu luas, tidak hanya pada manusia, tetapi juga pada binatang, tumbuhan, dan makhluk tak bernyawa (Shihab, 2011).

 

Refleksi Rahmatan Lil ‘Alamin di Era Millenial

Rahmatan lil ‘alamin yang kemudian didengungkan sebagai misi Islam, mengandung spirit serta ajakan agar umat Islam meneladani sikap kasih sayang Rasulullah SAW. Pribadi yang memiliki hati lembut, penuh kasih sayang, dengan kecerdasan emosional tinggi. Sehingga membekas pada kesantunan segala sikap, tutur kata, dan keputusan yang beliau berikan untuk umat. Sosok pribadi dengan kesantunan penuh kasih sayang itulah yang dirindukan umat di tengah hingar bingar zaman ini.

Pada momen maulid Nabi ini, kita perlu menelaah kembali bagaimana ruh rahmatan lil ‘alamin itu tetap live dan membumi di era millenial ini. Menata dan mengisi hati dengan kelembutan, dan rasa kasih sayang. Tidak menyimpan kebencian, kedengkian, kemarahan, dendam, dan segala rasa yang tidak mencerminkan kasih sayang. Sehingga tercermin pada kesantunan baik secara oral, verbal, maupun dalam komunikasi virtual. Menghindari penyebaran hal yang memantik kebencian maupun perpecahan. Menghargai kesetaraan, menebar kedamaian dan persatuan. Salam takdhim kami Ya Rasulallah, kami rindu padaMu.

- Azzah Nor Laila, S.Th.I., M.S.I. (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UNISNU Jepara I Sekretaris PC Muslimat NU Kab. Jepara)