Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

Dinyatakan di dalam Al-Qur'an, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" (QS Al-Baqarah/2: 183). Ayat ini berisyarat, kita sebagai umat yang beriman kepada Syari'at Islam adalah hamba-hamba Allah yang akan menerima tamu sambil menyambut "Selamat datang Ramadlan". Sepatutnya sikap yang menerima tamu suci nan agung, adalah kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak menggerutu, dan tidak menganggap kehadirannya "mengganggu ketenangan" atau suasana nyaman kita.

Kata "shaa-ma" atau, "sha-wa-ma" seterusnya "shiyam" bermakna "menahan" dan "berhenti" atau "tidak bergerak", yang oleh hukum Syari'at dipersempit hanya untuk "menahan diri dari makan, minum dan upaya mengeluarkan sperma dari waktu terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari". Juga ada kata "shaum" berarti menahan diri untuk tidak berbicara. "Sesungguhnya aku bernadzar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun" (QS Maryam/19: 26). Demikian ucapan Maryam 'alaihassalam yang diajarkan oleh malaikat Jibril, ketika ada yang menyoal kelahiran anaknya (Isa as).

Kalangan sufi merujuk pada hakikat dan tujuan puasa, menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama ibadah puasa. Hal ini meliputi pembatasan atas seluruh anggota tubuh, bahkan hati dan akal pikiran dari melakukan segala macam dosa. Bagaimana pun puasa bagi manusia, hakikatnya menahan atau mengendalikan diri hingga dipersamakan dengan sikap sabar. Dinyatakan dalam Hadis Qudsi "Puasa adalah Hak-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran", ulama mrmpersamakan hadis Qudsi tersebut dengan ayat "innama yuwaffash shabiruna ajrahum bi ghairi hisab"  "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas" (QS Al-Zumar/39: 10). Orang sabar di sini adalah orang yang berpuasa.

Tujuan puasa amat jelas, Al-Qur'an menyatakan tujuan yang hendak diperjuangkan adalah untuk mencapai taqwa, yakni keseimbangan unik yang terjadi karena aksi-aksi moral yang integral, sebagai tampilan kepribadian manusia beriman yang benar-benar utuh, setelah unsur-unsur positif diserap masuk ke dalam diri pribadinya. Dengan taqwa mampu melindungi diri dari akibat-akibat perbuatan sendiri yang buruk dan jahat. Karena itu jika taqwa diartikan "takut kepada Allah", maka sesungguhnya "takut pada akibat-akibat perbuatan sendiri, baik akibat-akibat di dunia maupun di akhirat" nanti. Sudah dapat diresapi bahwa taqwa merupakan kekokohan di dalam tensi-tensi moral atau di dalam "batas-batas yang telah ditetapkan Allah", dan tidak menggoyahkan keseimbangan di antara tensi-tensi tersebut atau "melanggar" batas-batas tersebut.

Karena itu kita sering disadarkan oleh Hadis Nabi, "Banyak di antara orang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga". Jadi menahan diri dari lapar dan dahaga bukan tujuan utama berpuasa. Padahal "Allah menghendaki untuk kamu kemudahan bukan kesulitan", tentu ini misteri. Namun dalam Hadis Qudsi difirmankan, "Semua amal anak cucu Adam untuk dirinya, kecuali ibadah puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya." Unik benar ibadah puasa ini.

Sementara manusia dalam kehidupannya memiliki kebutuhan, yaitu kebutuhan fa'ali [makan, minum dan hubungan seks suami-isteri], kebutuhan akan ketenteraman dan keamanan, kebutuhan akan keterikatan pada kelompok, kebutuhan akan rasa penghormatan, dan kebutuhan mencapai cita-cita [harapan]. Kebutuhan kedua tidak terdesak sebelum kebutuhan pertama terpenuhi. Sangat pasti seseorang mengorbankan kebutuhan berikutnya jika kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi.

Sebaliknya seseorang yang mampu mengendalikan dirinya dalam kebutuhan pertama, akan dengan mudah mengendalikan kebutuhan-kebutuhan berikutnya. Dari sudut fiqih, seorang berpuasa wajib mengendalikan dirinya dari kebutuhan fa'ali , dari sini perlu upaya mengembangkan "peta" Tuhan berdasar Hadis Nabi, "Berakhlaqlah (bersifatlah) kamu semua dengan sifat-sifat Tuhan," tentu menurut batas kemanusiaan. Allah  Subhanahu wa Ta'ala yang kita imani, kita respon ajaran-ajaran-Nya, Tuhan yang kita rasakan adalah makna dari realitas, sebuah makna yang dimanifestasikan, dijelaskan serta dibawakan oleh alam dan, selanjutnya oleh manusia.

Jadi menyambut dan menerima puasa bagi manusia beriman, adalah melingkupkan sifat-sifat Allah ke dalam diri pribadi manusia sekaligus akrab secara harmonis dengan ajaran-ajaran-Nya untuk dijalankan dengan penuh kepuasan. Innallah 'ala kulli syain Qadir, "Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Mahakuasa", itulah setiap sesuatu secara langsung berhubungan dengan Allah, maka setiap sesuatu tentu termasuk manusia mesti melalui dan di dalam hubungannya dengan yang lain-lainnya berhubungan pula dengan Allah. Bahkan tentunya, setiap sesuatu di dalam alam semesta ini adalah "petanda" Tuhan.

Melingkupkan sifat Tuhan ke dalam diri pribadi, adalah usaha diteladani terhadap "Allah memberi makan dan tidak (diberi) makan", dan "Allah tidak memiliki teman wanita". Hal ini terpilih diteladani karena merupakan kebutuhan fa'ali manusia yang terpenting, dan berhasil mengendalikan mengantar berhasilnya pengendalian kebutuhan- kebutuhan lainnya.

Seorang hamba beriman berupaya meneladani Tuhan dalam sifat-sifat-Nya digambarkan oleh Ibnu Sina, "Bagaikan manusia terbebas dari ikatan raganya, dalam dirinya terdapat misteri yang tersembunyi, namun dari diri pribadinya tampak sesuatu yang nyata. Ia akan selalu gembira dan banyak tersenyum, karena hatinya dipenuhi kegembiraan sejak ia mengenal Allah Jalla Jalaluh. Di mana pun ia berada hanya melihat satu saja, melihat kebenaran sebagai al-Haqqu, melihat Yang Mahasuci.

Semua dinilai sama karena semua makhluk Tuhan yang wajar mendapatkan rahmat, baik mereka yang taat maupun mereka yang bergelimang dosa. Ia tidak akan mengintip kelemahan orang orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah atau tersinggung walaupun melihat yang munkar sekalipun, karena jiwanya selalu rahmat kasih sayang, dan karena ia memandang sirr Allah (rahasia Tuhan) terbentang di dalam qodrat-Nya. "Apabila ia mengajak pada kebaikan, mengajak dengan cara lemah lembut, tidak dengan kekerasan, dan tidak pula dengan kecaman atau kritik. Ia selalu menjadi dermawan, karena cintanya pada materi tidak berbekas lagi. Ia akan selalu pemaaf, karena dadanya sangat lapang, sehingga mampu menampung segala kesalahan orang. Ia tidak akan mendendam, karena seluruh ingatannya hanya tertuju kepada Yang Satu, Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Mari kita sambut bulan suci Ramadhan dengan sikap tawadhu' dan khusyu' beribadah puasa, fardlu utama lainnya, dan sunnah-sunnah utama.

Allahu A'lamu bish-shawab


Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag.

Rektor Unisnu Jepara