Loyalitas Santri untuk Negeri

Loyalitas Santri untuk Negeri

Loyalitas Santri untuk Negeri

Oleh: Azzah Nor Laila, S.Th.I., M.S.I. I Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UNISNU Jepara I Sekretaris PC Muslimat NU Jepara

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat mulitikultural. Memiliki potensi rawan terhadap konflik. Baik konflik sosial, ras, agama, dan golongan tertentu yang muncul akibat fanatisme berlebihan terhadap kelompoknya maupun konflik perpecahan akibat meluasnya pemberitaan hoax yang tidak diimbangi dengan kesadaran filter informasi. Oleh karena itu, masyarakat dalam kelompok heterogen tersebut perlu memiliki sikap toleransi, moderat, dan cinta tanah air.

Pesan dan spirit perdamaian menjadi hal penting untuk direalisasikan. Dalam hal itu, umat Islam terlebih para santri perlu menjadi garda terdepan. Santri dengan ciri kesederhanaan yang terlihat dari khas memakai sarung. Karakter sikap moderat, toleran, dan berakhlak mulia yang terbentuk saat belajar atau ngaji dengan para kiai. Dalam hidup di tengah masyarakat, para santri diharapkan mampu menjadi teladan, penebar kedamaian, penengah, serta sosok yang mampu mencegah munculnya konflik di tengah keragaman.

Saat dikukuhkannya tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional, hal itu menjadi berita gembira bagi kaum santri. Peringatan hari Santri merupakan momentum untuk mempertegas eksistensi serta peran besar santri untuk negeri. Berkarya, bekerja, dan berjuang dengan semangat loyalitas untuk negeri.

 Makna Loyalitas

Loyalitas secara bahasa berasal dari kata loyal, yaitu taat, patuh, setia. Dalam bahasa Arab, kata loyal atau taat sering diungkapkan dengan lafal tho’ah. Kata tho’ah dalam bentuk fi’il amar (perintah) disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak lima kali. Dimana semua ayat menunjukkan perintah taat pada Allah dan Rasul. Namun ada satu yang menggambarkan perintah ketaatan pada Allah, Rasul, dan Ulil Amri, yaitu Surat an-Nisa’ ayat 59. Ayat tersebut sering diuraikan mufassir mengandung isyarat pesan pentingnya memiliki loyalitas pada agama dan bangsa.

Pada ayat lain, lafal tho’ah dibarengkan dengan lafal ma’rufah. Diantaranya dalam surat an-Nur ayat 53, yang artinya “Ketaatan yang baik”. Dalam al-Qur’an ada beberapa lafal yang memiliki arti baik selain ma’rufah. Seperti lafal hasan, khoir, thayyib. Tampaknya penggunaan lafal ma’rufah yang dibarengkan dengan tho’ah tersebut memiliki makna tersendiri.

Lafal ma’rufah bila dilihat dari segi bahasa merupakan derivasi dari lafal ‘arafa, artinya mengenal atau mengetahui. Sedangkan lafal ma’ruf secara bahasa artinya yang dikenal atau diketahui. Maka maksud dari pemaknaan ma’ruf sebagai suatu kebaikan, artinya suatu kebaikan yang diketahui oleh banyak orang bahwa hal itu adalah baik. Maka tho’atun ma’rufah adalah ketaatan atau loyalitas yang baik dalam pandangan semua pihak. Bukan loyalitas yang hanya untuk peningkatan pamor, atau kepentingan komunitas belaka.

Selamat hari santri, keberagaman bukan penghalang persatuan, loyalitas untuk negeri menjadi kunci keutuhan, semangat santri sebagai pelopor perdamaian.