Lailatul Qadar; Puncak Pengalaman Spiritual


Fathur Rohman*
Salah satu momen yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan istimewa adalah adanya Lailatul Qadar. Disebutkan dalam surat al-Qadr, bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa melakukan kebaikan pada malam ini, diyakini nilainya lebih besar daripada melakukannya selama seribu bulan. Sayangnya, Allah dan Rasul tidak pernah mengabarkan secara pasti kapan datangnya momen akbar ini. Rasul hanya memberikan prediksi dan tanda-tanda kedatangannya. Dalam satu hadits Rasul pernah menganjurkan untuk mengintip Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tetapi dalam kesempatan lain, rasul juga pernah mengatakan pada tujuh malam terakhir. Di sisi lain, para sahabat juga memiliki pengalaman yang berbeda-beda dengan Lailatul Qadar . Begitupun para ulama juga bersilang pendapat tentang waktu datangnya Lailatul Qadar . Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar  pada dasarnya adalah pengalaman spiritual yang sifatnya sangat pribadi. Masing-masing orang bisa mengalaminya pada saat yang berbeda-beda. Pengalaman spiritual yang dirasakan satu sama lain juga berbeda-beda. Jika kemudian Rasul menyimpulkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh atau tujuh hari terakhir Ramadhan, itu berdasarkan pengalaman pribadi Rasul atau informasi dari beberapa sahabat. Demikian halnya, dalam cakrawala tasawuf, Lailatul Qadar dipandang oleh para sufi sebagai karunia spiritual tertinggi yang dicapai seseorang. Pada malam itu cahaya ilahi turun menghampiri dan menyatu dengan jiwa-jiwa hamba. Momen inilah, yang oleh Ibnu ‘Arabi, seorang sufi dan filsuf besar, disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Menurutnya, seribu bulan bukanlah hitungan angka, melainkan simbol untuk menjelaskan karunia Allah yang tak terhingga. Kata seribu di sana lebih bersifat kualitatif yang menggambarkan tak terbatasnya kemungkinan pemaknaan di baliknya. Artinya, momen ketika jiwa hamba menyatu dengan cahaya Tuhannya adalah momen yang tak terperi sekaligus karunia yang tak terhingga. Menyatu dengan cahaya Allah yang tak terbatas, tentu memberikan pengalaman yang tak terbatas pula. Kebersatuan cahaya ilahi dan jiwa pada saat Lailatul Qadar itulah yang selanjutnya diharapkan dapat mengejawantah dalam kepribadian dan perilaku keseharian. Manusia yang dalam jiwanya bersemayam cahaya ilahi, pasti tidak akan menampakkan perilaku kecuali sesuai dengan nilai-nilai ilahi. Ringkasnya, Lailatul Qadar adalah sebuah proses spiritual, dan oleh karenanya tidak akan cukup digambarkan dengan kata-kata. Dan setiap proses spiritual yang dialami manusia akan sangat berpengaruh terhadap akhlak dan kepribadiannya. Maka, jika ibadah di malam-malam Ramadhan tidak mampu merubah perilaku kita, berarti Lailatul Qadar  tidak pernah benar-benar mendatangi kita. Wallahu A’lam
* Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara