KKN UNISNU Gelar Festival Ikan Asap Dermolo

KKN UNISNU Gelar Festival Ikan Asap Dermolo

KKN UNISNU Jepara Tahun 2019 untuk ketiga kalinya menggelar festival ikan asap di desa Dermolo. Kali ini selain untuk mengangkat potensi desa, ternyata kegiatan ini juga memiliki nilai jual ekonomi yang mayoritas warganya bergerak di bidang produksi ikan asap, meski letaknya jauh dari laut, namun ikan asap menjadi komoditi andalan kampung berpenduduk 5.000 jiwa tersebut. Sutana, Pjs Petinggi Dermolo yang juga selaku Camat Kembang tampak ikut serta memeriahkan kegiatan festival kuliner tersebut bersama istri yang didaulat sebagai juri lomba.  

Hal unik dari desa Dermolo sendiri lokasi pengasapan ikan berada tidak dekat dengan pantai ataupun laut, justru berada di pinggiran hutan. Jika memasuki desa ini dari jalan raya Bangsri-Kembang, pengunjung akan disambut sebuah patung ikan cucut berukuran besar di jalan masuk desa.

Berlanjut menyusuri jalan, deretan pepohonan karet dan jati berjajar sampai menuju perkampungan. Di sela-sela itu, terdapat bedeng-bedeng yang penuh tumpukan kayu dan mengeluarkan bau asap. Beberapa orang perempuan dan laki-laki, nampak sibuk menata potongan-potongan ikan di atas tungku. Sementara yang lain, sibuk mengibaskan kipasnya guna menghalau bibit api membesar mengenai daging ikan agar tak gosong.  

Mbah Sarpan, 60 tahun, seorang produsen ikan asap terlihat sibuk mengkoordinasi pekerja-pekerjanya. Menurutnya, saat ini pesanan dari konsumen agak menurun. "Kan ini habis hari raya kurban, jadi orang-orang masih banyak stok daging, jadinya penjualan ikan asap agak sedikit menurun," tuturnya. Ia mengatakan setiap hari bisa memproduksi sekitar 3000 ikan asap. Ikan yang digunakan bervariasi, mulai dari tongkol, tengkurung hingga belo dan manyung.

Dengan adanya festival ikan asap ini, harapannya kedepan desa Dermolo tetap kuat dengan image sentra produksi ikan asap. Sedangkan untuk memvariasi menu pokok dari ikan asap itu sendiri kali ini ada yang membuat varian nugget, sosis, rolade, ada juga ikan asap bumbu, yang nantinya di harapkan bisa menjadi referensi aneka masakan menu ikan asap.  Ikan-ikan olahan tersebut bahan bakunya diperoleh dari pelabuhan-pelabuhan sekitar Juwana di Kabupaten Pati, Bumiharjo, dan Jepara sendiri. Produksi yang dimulai pada pagi hari, kemudian pada siangnya para penjaja sayur akan datang untuk menjajakan ikan asap ke pasar Kelet dan Bangsri, ataupun ke ibu-ibu rumah tangga yang berbelanja disekitar desa.  

Dari catatan pemerintahan Desa Dermolo, di wilayah tersebut tercatat ada sekitar 25 perajin yang berprofesi sebagai pengasap ikan. Dari jumlah itu, setiap perajin memiliki sebuah bedeng dengan enam hingga sepuluh pekerja. Harapannya dengan festival ini bisa terus dilestarikan dengan beberapa inovasi dan variasi baru yang kekinian, sehingga salah satu ide inovasi desa bisa muncul dari usaha masyarakat yang sudah dijalankan turun temurun itu.

Upaya mempromosikan ikan asap desa Dermolo yang sudah dilakukan dengan menggandeng Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNISNU Jepara telah digelar ke tiga kalinya, dengan event ini mereka ingin mengembangkan potensi desa, memberi alternatif menu olahan ikan asap selain dibikin bumbu manyung dsb.  "Tadi ada yang membuat nugget, sosis, rolade, ada juga ikan asap bumbu Bali, yang nantinya kami harap bisa menjadi referensi masakan ikan asap," tutur Dwika, Koordinator Desa KKN UNISNU Jepara.

Peserta lomba sendiri terdiri dari ibu-ibu PKK perwakilan Rukun Warga (RW) di lingkungan desa Dermolo, serta juga dihibur dengan band akustik sampai akhir acara usai. Tampil sebagai juara lomba, juga diserahkan piala, piagam serta hadiah untuk para ibu-ibu yang sudah menampilkan menu ikan asap terbaiknya. (xpo)