KKN UNISNU Diterjunkan, Pusat Studi Ratu Kalinyamat Didirikan

KKN UNISNU Diterjunkan, Pusat Studi Ratu Kalinyamat Didirikan

Jepara - Pengajuan Retno Kencono atau yang kita kenal dengan nama Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional telah dimulai sejak tahun 2006-2007, pemerintah dalam hal ini masih memandang lemah literasi yang digunakan sebagai rujukan untuk menyematkan gelar pahlawan pada sosok istri Sultan Hadlirin tersebut dirasa sebagian orang sebagai mitos yang kurang fakta otentiknya.

Hingga akhirnya Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL) membentuk tim kajian yang terdiri dari unsur arkeologi, ahli sejarah, akademisi, tenaga ahli arsip nasional untuk membuktikan sumber sejarah dari peradaban ratu cantik di kota ukir Jepara tersebut layak dikaji kembali di publik. Sehingga untuk itu, melalui Ketua Tim kajian Ratu Kalinyamat YDBL Prof. Dr. Ratno Lukito dirasa perlu menggandeng kalangan akademisi dan pemerhati sejarah dibawah naungan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara.

Bertepatan dengan penerjunan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNISNU TA. 2018//2019 periode ke-2 di Pendopo Kabupaten Jepara, dilaksanakan juga penandatangan MoU (Memorandum of Understanding) antara UNISNU Jepara dengan Yayasan Dharma Bakti Lestari pada Selasa (23/7) dihadapan ratusan mahasiswa peserta KKN dan tamu undangan.

Turut hadir pada kesempatan ini Plt. Bupati Jepara Andi Kristiandi, Rektor Dr. H. Sa'dullah, Ketua Umum YAPTINU Dr. H. Shodiq, serta Pengurus PCNU Ulul Abshor. Juga beberapa undangan lainnya dari unsur OPD, Camat dan pengurus YDBL & Media Indonesia Group.

Rektor UNISNU Dr. H. Sa'dullah Assa'idi dalam sambutannya merespon baik kerjasama YDBL dengan UNISNU untuk mendirikan Pusat Kajian Ratu Kalinyamat, " Kami rasa para akademisi dan pemerhati sejarah di Jepara sudah saatnya menggeser paradigma mitos dari Ratu Kalinyamat ke arah scientific history yang kuat secara akademis di tengah masyarakat " tegas Sa'dullah. Pusat Kajian Ratu Kalinyamat juga membuka diri untuk menerima masukan dari beberapa tenaga expert berkaitan dengan naskah akademik dan sumber sejarah yang sangat jarang ditemukan di Indonesia, nantinya dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) kajian ini bisa kontinu terus di ulas secara detil dan komprehensif.

Sementara itu Prof. Dr. Ratno Lukito senada dengan rektor, dalam sambutannya sangat senang bisa bekerjasama dengan UNISNU untuk berkolaborasi "mengolah" sejarah yang berkenaan dengan Ratu Kalinyamat yang tersohor hingga seluruh nusantara. Untuk menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan Nasional, kami terus berusaha mencoba dengan berbagai pendekatan histori. " Bahkan ada beberapa naskah akademik yg di rujuk dari beberapa sumber primer di portugis. Kami memilih UNISNU untuk bisa bersama-sama melakukan riset dan kajian secara komprehensif, karena ini adalah satu-satunya Universitas lokal berskala nasional yang bisa mengangkat sejarah dan kearifan lokal mengenai tokoh Jepara tersebut ", terang Lukito. Harapannya tahun depan status pengajuan pahlawan nasional untuk Ratu Kalinyamat dapat terwujud, dan itu bisa dikaji terus menerus secara akademik sebagai bahan buku sejarah kepahlawanan wanita di Indonesia.

Seminar Sejarah Ratu Kalinyamat

Di akhir sesi penerjunan, juga hadir menyampaikan materi seminar bertema "Kepahlawanan Ratu Kalinyamat" oleh Sejarawan UNDIP Dr. Alamsyah, menyatakan bahwa Ratu Kalinyamat sebagai tokoh regional merupakan putri dari penguasa kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni Kerajaan Demak.

Sedangkan dalam kapasitas tokoh nasional, Ratu Kalinyamat juga menjalin hubungan baik dengan Aceh, Johor, dan Hitu Maluku dalam melawan Portugis. Perannya juga sangat penting di beberapa sektor. Baik itu di bidang politik, ekonomi, seni budaya, dan hubungan dengan pihak luar.

“Untuk bidang politik, perannya bisa terlihat dalam dua kali ekspedisi militer yang dilakukannya ke Malaka, tahun 1551 dan 1574. Raja Johor pada 1550 meminta bantuan, dan Ratu Kalinyamat mengirimkan 200 armada laut, 40 kapal di antaranya langsung dari Jepara. Bayangkan seberapa besar kekuatan yang dimiliki Jepara pada masa itu sehingga mampu memenuhi permintaan dari kerajaan sahabat” ujar Alamsyah.

Sementara itu di bidang ekonomi, Ratu Kalinyamat juga mampu membentuk Jepara menjadi sebuah bandar perdagangan dan pelayaran besar hingga seantero nusantara. Ketokohannya juga berperan dalam penyiaran agama Islam, tebukti sebagai persembahan untuk sang suami dibangunnya Masjid Sultan Hadlirin Mantingan yang hingga kini dapat kita lihat keberadaannya. (xpo)