Kesalehan Individual dan Sosial dalam Ibadah Puasa

Kesalehan Individual dan Sosial dalam Ibadah Puasa

Oleh : Mahalli Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara   Tujuan utama Allah SWT. mensyari’atkan ibadah puasa adalah supaya manusia bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT dalam teks Al-Qur’an surah Al-Baqarah yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. 2:183) Orang-orang yang bertaqwa memiliki indikator amalan dan sikap yang berdimensi vertikal berupa keimanan kepada yang ghoib dan kesediaan menjalankan shalat, dan dimensi horizontal berupa kesediaan untuk menginfaqkan sebagian hartanya kepada yang berhak (QS. 2:3). Dengan demikian maka ketika seseorang bertaqwa, maka dia harus memiliki kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kesalehan individual kadang disebut juga dengan kesalehan ritual, kenapa? Karena lebih menekankan dan mementingkan pelaksanaan ibadah ritual (Helmiati, 2015). Disebut kesalehan individual karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri. Sementara pada saat yang sama mereka tidak memiliki kepekaan sosial, dan kurang menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupan bermasyarakat. Kesalehan jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba formal, yang hanya mementingkan hablum minallah, tidak disertai hablum minannas. Sedangkan kesalehan sosial merujuk pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai islami yang bersifat sosial. Kesalehan sosial dengan demikian adalah suatu bentuk kesalehan yang tidak hanya ditandai oleh rukuk dan sujud, puasa dan haji, melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya (Helmiati, 2015). Dalam Islam kedua corak kesalehan itu merupakan suatu keniscayaan yang tidak boleh ditawar. Keduanya harus dimiliki seorang muslim. Agama mengajarkan kesalehan dalam Islam haruslah secara total (kaffah), artinya saleh secara individual/ritual juga saleh secara sosial. Karena ibadah ritual selain bertujuan pengabdian diri pada Allah juga bertujuan membentuk kepribadian yang memiliki dampak positif terhadap kehidupan sosial, atau hubungan dengan sesama manusia. Dalam hadis diceritakan, bahwa seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain di depan Nabi. Nabi bertanya, “Mengapa ia kau sebut sangat saleh?” tanya Nabi. Sahabat itu menjawab, “Karena tiap saya masuk masjid ini dia sudah shalat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa.” “Lalu siapa yang memberinya makan dan minum?” tanya Nabi lagi. “Kakaknya,” sahut sahabat tersebut. Lalu kata Nabi, “Kakaknya itulah yang layak disebut saleh.” Sahabat itu diam. Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi dengan kesalehan sosial. Puasa memiliki dimensi garis horizontal yang kental dengan nuansa kehidupan sosial seperti berderma, menyantuni orang dhuafa, sabar dalam menerima cobaan. Karena barometer kebajikan bagi Allah bukan hanya diukur dari banyaknya interaksi pribadi hamba kepadaNya akan tetapi kebajikan yang bersifat holistik, yang dapat menjiwainya dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai sosial pada puasa tidak berhenti pada praktek puasa itu saja. Puasa merupakan salah satu sistem yang jitu untuk dapat menghilangkan sifat angkuh, sombong, bakhil, egois, dan sifat tidak terpuji lainnya. Sebab dengan berpuasa, maka seorang mukmin akan mengetahui dan menyadari betapa lemah dirinya. Kesalehan sosial sebagai perwujudan dari pengaruh puasa ini, bisa dicapai jika kita mampu menanamkan secara teguh kesadaran akan kehadiran orang lain dalam diri kita. Ibadah puasa  akan mampu membuka tabir ruang-ruang pribadi yang masih dibingkai dengan sikap egois dan tidak mampu menyentuh dunia luar. Ini berarti, ibadah puasa menekankan sikap kesetiakawanan sosial dan solidaritas yang tinggi terhadap orang lain sebagai perwujudan tingkat taqwa yang diliputi oleh ketulusan dan keikhlasan. Setiap manusia pada dasarnya memiliki kecintaan terhadap harta benda sebagai bagian dari naluri mempertahankan diri. Kecintaan ini seringkali memicu lahirnya sikap bakhil serta individualis, mementingkan diri sendiri dan enggan berbagi. Dengan ibadah puasa manusia dilatih untuk dapat meminimalisasi sikap bakhil dan individualis dalam dirinya sehingga dia mau berbagi dengan orang lain. Ibadah puasa sarat dengan pesan etika kesalehan sosial yang sangat tinggi, seperti pengendalian diri, kedisiplinan, kejujuran, kesabaran dan solidaritas. Ini merupakan sebuah potret yang mengarah kepada eratnya kesalehan pribadi dengan kesalehan sosial. Oleh karena itu diharapkan bahwa output dari ibadah puasa adalah lahirnya manusia-manusia beriman yang tidak hanya memiliki kesalehan individual akan tetapi juga manusia beriman yang memiliki keselahan sosial. Orang-orang mukmin yang memiliki empati dan kasih sayang pada sesama, bersikap santun pada orang lain, sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, memperhatikan dan menghargai hak sesama dan mampu berpikir berdasarkan perspektif orang lain.