Kedamaian Hati Nurani

Kedamaian Hati Nurani

KEDAMAIAN HATI NURANI

Oleh: Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag.
Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU JEPARA)


Kebahagiaan tertinggi dihayati dari makna "salam", yakni rasa damai dan selaras yang dimiliki seorang hamba dalam kesadarannya akan ke-Maha-Agung-an Allah dan sikapnya bersyukur kepada-Nya. Difirmankan, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Tuhan mereka akan memberi mereka petunjuk dengan iman mereka itu, di bawah mereka mengalir sungai-sungai, dalam surga kebahagiaan sejati. Seruan mereka dalam surga itu ialah, "Maha Suci Engkau Ya Allah", dan tegur-sapa mereka di situ ialah "Salam (Damai)", sedangkan penutup seruan mereka ialah, "Segala puji bagi Allah, seru sekalian alam" (QS 10:9-10).

Yang tersirat dari ayat itu ialah, "Sepotong melodi keruhanian yang indah! Mereka bernyanyi dan berseru dengan kebahagian, tetapi kebahagiaan mereka itu ada dalam Keagungan Tuhan! Tegur sapa yang mereka terima dan tegur sapa yang mereka berikan adalah Damai dan Selaras! Dari awal sampai akhir mereka menyadari bahwa Tuhan-lah yang memelihara dan menumbuhkan mereka, dan Sinar-Nya adalah Cahaya mereka".

Damai dan selaras secara ruhani itu buah langsung dari sikap pasrah yang tulus kepada Allah. Meski ayat itu melukiskan pengalaman surgawi --sebagai bentuk kebahagiaan tertinggi-- tapi pengalaman ruhani serupa (walau kualitas lebih rendah), juga dapat dirasakan oleh seorang hamba beriman semasa dalam kehidupan duniawi.

Jadi salam  adalah personal meaning (makna perorangan) sikap keagamaan yang tulus, sebagai lanjutan sikap ridla  kepada-Nya atas segala keputusan-Nya yang dialaminya, juga kelanjutan tawakkal terkait dengan apa yang akan Allah putuskan. Ini semua mengantarkan hamba ke tingkat pribadi radliyah-mardliyyah  (rela dan direlakan), dan merupakan pangkal rasa kedamaian Hati Nurani yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Surga pun disebut sebagai Dar al-Salam (negeri damai-selaras), the Abode of Peace and Harmony, dan karunia kebahagiaan yang paling agung di surga itu untuk seorang hamba yang beriman dan beramal saleh.

Hamba yang menghayati Allah As-Salam, dituntut agar Hati Nuraninya jauh dan terhindar dari segala aib dan kekurangan, dengki dan hasud serta kehendak berbuat jahat. Pesan Imam al-Ghazali, "Siapa pun yang selamat Hati Nuraninya dari hal-hal tersebut, maka akan selamat pula Hati Nuraninya dari al-intikas (kejungkir-balikan) dan al-in'ikas (ketolak-belakangan), dengan demikian hamba tersebut akan datang menghadap Allah dengan qalbun-salim  (Hati Nurani yang damai).

Seorang hamba yang menghayati "Allahus-Salam", paling tidak, jika tidak dapat memberi manfaat kepada selain dirinya, maka jangan sampai dia mencelakakannya. Jika dia tidak dapat memberi rasa gembira ke dalam hatinya, maka paling tidak jangan dia meresahkannya, kalau tidak dapat memujinya, maka paling tidak dia jangan mencelanya.

Spirit kedamaian adalah batas antara harmonis (kedekatan) dan perpisahan, serta batas antara kasih dan siksa. Ini paling wajar atau batas minimal yang diterima seorang jahil dari hamba Allahu-Rahman, atau si jahat dari yang kuasa. Inti penghayatan adalah kesadaran melalui kebersihan hati, laksana  nurani (sinar terang) atau luminous karena taqwa untuk menempuh hidup di dunia. Allahu A'lamu.