'Iedul Fithri, Keserasian Hidup Surgawi

'Iedul Fithri, Keserasian Hidup Surgawi

'Iedul Fithri, Keserasian Hidup Surgawi

Oleh : Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag. (Rektor Unisnu Jepara)


Assalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat 'Iedul Fithri, 1 Syawal 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah melimpahkan rahmah, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua.

Ja'alanallahu wa iyyakum minal-'aidin wal-faizin… taqabbalallahu minna wa minkum Yaa Karim.

'Iedul Fithri merupakan gabungan dari kata 'ied  berarti kembali, dan kata fithr yang berarti "agama yang benar" atau "kesucian" atau "asal kejadian". Kita lebih suka memahaminya sebagai "agama yang benar", tapi tentunya kita sebagai orang beriman perlu memiliki "keserasian hubungan". Keserasian dikenal juga dengan "keseimbangan" sebagai media renungan beragama yang pasti dialami, yaitu al-hayah/hidup dan al-maut/mati, al-naf'/manfaat dan al-madlarrah/mudarat, al-shalihat/kebajikan dan al-sayyi'ah/keburukan, al-thuma'ninah/ketenangan dan al-dliq/kekesalan, al-rahbah/cemas dan al-raghbah/harap, al-kufr/kufur dan al-iman/iman, dan seterusnya.

Mengupayakan hidup serasi atau berimbang, sama dengan berbanding seperti antara benar-salah, di atas-di bawah, lebih-kurang, ini terjadi bahwa "agama itu saling berhubungan". Karena itu nasihat menasihati dan tenggang rasa termasuk ajaran agama, sehingga wajar siapa pun yang ber-'iedul fithri patut menyadari setiap orang dapat melakukan kesalahan atau kekhilafan, sehingga akan terpuji ia ketika bersedia memberi dan menerima maaf dari siapa pun.

Meramu unsur-unsur pengalaman hidup yang saling berhubungan secara santun dan bijak, akan mewujudkan 'iedul fithri bermuatan keselarasan hidup surgawi. Muatan "harmony of the Heavens" adalah "kesucian" yang berbasis pada benar, baik dan indah. Seseorang beriman yang ber-'iedul fithri dalam arti "kembali kepada kesucian"-nya akan selalu berbuat yang benar, baik dan indah dalam koridor nilai-nilai dan ajaran Ilahi.

Melalui kesucian jiwanya, orang beriman itu akan memandang segalanya dengan penglihatan kebajikan, dan berupaya mencari sisi-sisi yang benar, baik dan indah. Berikhtiar pada seseuatu yang indah melahirkan seni, menyukai suatu kesan yang baik menimbulkan etika, dan menekuni hal yang benar menghasilkan ilmu.

Pada momen kesucian ini adalah sikap maaf memaafkan. Kita Muslim bertaqwa dianjurkan agar mengambil paling tidak satu dari tiga sikap dari seseorang yang melakukan kekeliruan terhadapnya: menahan amarah, memaafkan dan berbuat baik kepadanya (QS Alu 'Imran/3: 134). Ketika ada sahabat bersumpah tidak akan berbuat baik kepada orang yang berbuat salah kepada salah seorang anggota keluarganya, maka Allah menganjurkan agar ia memaafkan dan berbuat "al-shafih" (wa-lya'fu wa-lyashfahu) (QS al-Nur/24: 22).

Kata maaf dari bahasa Al-Qur'an yang berarti "menghapus" karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan, apabila masih ada tersisa bekas luka itu di dalam hatinya, bila masih ada dendam yang membara. Barangkali saat itu apa yang dilakukan baru sampai tahap "menahan amarah". Upayakan agar  menghilangkan segala noda itu, karena dengan begitu baru dikatakan "memaafkan" orang lain.

Di atas sikap memaafkan ada sikap "al-shafhu" (dari wa-lyashfahu) yang awalnya berarti kelapangan, darinya dibentuk shafhat bermakna lembaran atau halaman, dan mushafahat berarti "berjabat tangan". Orang beriman setelah memaafkan, melakukan al-shafhu seperti anjuran ayat di atas, berarti dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung semua ketersinggungan serta menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Inilah ajaran ihsan yang sangat disukai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allahumma inni as'aluKa al-'afwa wal ‘afiyata wal-mu'afatad-daimata fi diniy wa dunyaya wa ahliy wa maliy. Allahumma stur 'auraatiy wa aamin rau'atiy… wa shalla-Llahu 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi wa sallama.

Wallahulmuawaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Allahu A'lamu bish-shawab