Harlah Ke-31, Unisnu Jepara Membina Peradaban

Harlah Ke-31, Unisnu Jepara Membina Peradaban

HARLAH KE-31, UNISNU JEPARA MEMBINA PERADABAN

Oleh: Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag.
Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU JEPARA)


Mindset merintis pendirian Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) dibangun dengan diskusi pada tanggal 20 Desember 1987, bertepatan pada Ahad Legi, 28 Robi'ul Akhir 1408 Hijriah di kediaman Drs. H. Ahmad Sya’roni Bantrung, Batealit, Jepara. Diskusi tersebut mengangkat tema “Rintisan Membangun Perguruan Tinggi” dengan Drs. Sa’dullah Assa’idi sebagai narasumber atau pemakalah. Forum diskusi tersebut diikuti oleh KH. Mahfudz Asymawi, Drs. H. Ahmad Sya’roni, Drs. Sa’dullah Assa’idi, Drs. Ahmad Asy’ari Sajid, Ir. H. Noor Fuad, dan Mustain, SH.

Alhamdulillah,  pada tanggal 7 Agustus 1991 mendapatkan izin operasional bagi Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara dengan tiga Fakultas, yakni Fakultas Syariah, Tarbiyah dan Dakwah. Dari legalitas operasional ini, dalam perkembangannya setelah menjadi Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU JEPARA) diperingati sampai pada tahun ke-31.

Marilah kita membangun perspektif berkemajuan menjadikan UNISNU JEPARA, yang didukung oleh warga Nahdliyyin, Pemerintah dan masyarakat luas, mampu secara kreatif berkontribusi untuk peradaban dan penetapan budaya modern. UNISNU JEPARA membina peradaban Ahlussunah wal-jama'ah an-Nahdliyyah, jelas hendak meningkatkan kapasitas keilmuan dari para intelektual. Bahkan secara mendasar dari cita-ideal UNISNU Cendekia dan Berakhlaqul Karimah menyeimbangkan misi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan tradisi dan warisan kearifan lokal, untuk memperoleh bahan yang lebih banyak bagi derap langkah dan menelisik kekayaan budaya, yang meskipun (atau harus) modern namun tetap konsisten dengan semangat ajaran Islam Ahlussunah wal-jama'ah an-Nahdliyyah.

Cara mengembangkan paradigma kehidupan Islam rahmatan lil-'alamin sebagai bentuk responsi terhadap tantangan dan tuntutan zaman, maka mau tidak mau eksponen UNISNU JEPARA harus membina bangunan keberagamaan dan intelektual yang utuh serta memiliki relevansi kuat dengan perkembangan zaman. Ekspresinya ialah suatu bangunan keberagamaan intelektual yang memiliki persambungan dengan warisan keberagamaan intelektual masa lalu, akan tetapi secara kreatif diterjemahkan ke dalam hal-hal yang relevan dengan tuntutan zaman.

Al-Muhafazhatu 'alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik) ini asas persambungan atau sanad  sebagai wujud kontinuitas yang bertanggungjawab. Nilai dan ajaran apa pun yang baik ialah yang memiliki pangkal yang kukuh, yang akarnya tidak tercerabut dari muka bumi, dan terus produktif, menghasilkan manfaat untuk masyarakat.

Tentu peradaban kita ke depan berpeluang membuat responsi dan kemudian inisiatif:

  1. UNISNU JEPARA menyadari dan berkohesi secara dinamis dengan kedewasaan zaman serta segala tuntutannya,
  2. Sivitas akademika UNISNU JEPARA harus merasa sebagai bagian dari kehidupan cendekia dan berakhlaqul karimah,
  3. Bersama warga Nahdliyyin dan masyarakat luas, warga kampus menjadikan UNISNU JEPARA sebagai lambang modernitas,
  4. Bermodal morality accent dan intellectuality accent  untuk kehidupan tsaqafah dan hadlarah, kehidupan yang berbudaya dan berperadaban,
  5. Gerak menumbuhkan dinamika dan mobilitas umat yang efektif, meski sangat temporal sangatlah perlu untuk memenuhi nafas budaya yang jujur.

Jelas sekali kita sangat memerlukan penguasaan yang memadai atas masalah kekinian yang terdekat, umat Islam amat mendesak untuk bebas belajar secara jujur dan bertanggung jawab untuk memperoleh banyak pengalaman. Retorika-retorika perbedaan dan perdebatan dalam Islam maupun tafsir Ahlussunah wal-jama'ah an-Nahdliyyah secara keseluruhan harus dilingkupkan dalam konstruksi akademik. Bertekad membangun sebuah civic society (masyarakat berperadaban), maka kehadiran Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara terkait erat dengan fungsi kesarjanaan atau ke-'ulama`-an.

Mari kita menggunakan segala macam bahan yang disediakan oleh pengalaman manusia dalam berbudaya dan berperadaban, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Inilah simpulan eskatologis Islam yang berkaitan masalah pemikiran dan ilmu pengetahuan, yang tersirat dalam firman Allah: "Akan Kami (Allah) perlihatkan kepada mereka (umat manusia) tanda-tanda kebesaran (ayat) Kami di seluruh cakrawala (makro kosmos) dan dalam diri mereka sendiri (mikro kosmos) sehingga menjadi jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar adanya" (QS. Fushshilat/41: 53).

Selamat dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mencurahkan rahmah dan barakah untuk UNISNU Jepara.