Gus Mus: Generasi Yang Unggul Harus Mampu Mendesokan Orang Kota


UNISNU Jepara (29/10) menyelenggarakan kuliah umum dengan menghadirkan DR KH. Mustofa Bisri yang lebih akrab dipanggil Gus Mus sebagai narasumber dengan tema ‰ÛÏMembangun Atmosfer Akademik dan Generasi yang Unggul Menyongsong Indonesaia Emas 2045‰Û.

Bertempat di gedung Haji MWC NU Kec. Tahunan Jepara, acara tersebut dihadiri oleh Ketua Umum dan segenap pengurus YAPTINU, Staf Ahli Bupati mewakili Bupati Jepara, Rektor dan para wakil Rektor, para dekan Fakultas, Plt. Rois Syuriah dan Ketua PCNU Kab. Jepara, pengurus MWC NU se-Kab. Jepara, Kepala Kantor Kementrian Agama Kab. Jepara dan seluruh Civitas Akademika mulai dari para dosen dan karyawan serta para mahasiswa. Para mahasiswa yang hadir terdiri dari mahasiswa pasca sarjana, para calon wisudawan, para aktivis mahasiswa mulai dari BEM Universitas, DPM, UKM, UKK serta dari BEM masing-masing Fakultas. Para peserta membludak hingga gedung tersebut tidak muat menampung banyaknya hadirin yang menunggu tausyiah dari sastrawan penulis puisi ‰ÛÏPesan Rakyat‰Û tersebut.

Semua hadirin khidmat menyimak kuliah yang disampaikan dimana isinya sarat akan kritikan-kritikan berbau humor yang bersifat membangun. Dalam menyampaikan isi kuliah beliau banyak mengkritik tema yang diajukan dan menurut beliau terkesan malu untuk menjadi orang yang sederhana. Contoh penggunaan kata Atmosfer, ‰ÛÏsetelah saya baca di kamus memiliki tiga makna yang pertama udara yang menyelubungi bumi, kedua satuan tekanan udara dan ketiga perasaan suasana batin dalam sastra‰Û kata beliau mengawali materi kuliah umum.

Kita seolah tidak bangga kalau nggak meniru orang kota. Padahal orang NU yang dikenal sebagai Islam tradisional lebih banyak berada di pedesaan atau lebih dikenal sebagai orang ndeso. Sekarang banyak yang kebalik dimana orang ndeso kepengin meniru budaya orang kota. Padahal tradisi dan nilai-nilai yang dilaksanakan oleh orang-orang ndeso lebih banyak mengamalkan hadis yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Misalnya dalam hal memuliakan tamu dan menghormati tetangga, sangat beda antara orang kota dan orang ndeso. Di desa kalau ada tamu semua suguhan dikeluarkan, dan dengan tetangga memiliki kedekatan dan kenal sangat baik. Beda dengan di kota kalau ada tamu justru dimintai KTP dulu dan hubungan antar tetangga sangat jauh.
Tradisi dan nilai-nilai yang terlaksana di desa tersebut merupakan pengamalan Hadis Nabi Muhammad saw ‰ÛÏman kaana yu‰Ûªminu billahi wal yaumil akhir fal yukrim dloifahu , dan hadits lainnya fal yukrim jaarohu‰Û Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya, dan hadits lainnya maka muliakanlah tetangganya. Dan masih banyak lagi nilai-nilai yang melekat pada orang desa yang perlu dipertahankan antara lain: at ta‰Ûªawun atau tolong menolong dan at tawassut atau kesederhanaan.
Dan ini menjadi tugas generasi muda yang unggul yaitu men‰Ûdeso‰Ûkan kota artinya bisa membuat orang-orang kota mengikuti nilai-nilai sebagaimana tersebut diatas yang ada di pedesaan.

Bahkan tentang nilai kesederhanaan ini Gus Mus secara pribadi minta kepada presiden baru pak Jokowi untuk memperluas tidak hanya dimiliki pribadi presiden saja tetapi juga diberlakukan kepada para pembantu presiden dan para pejabat tinggi lainnya. Saya bahkan menyarankan ke beliau untuk mengadakan Gerakan Kesederhanaan.
Disamping kesederhanaan, bagi seorang pemimpin adalah keteladanan. Sebagaimana Rasulullah mendidik masyarakat dengan keteladananan. Sebelum mengajak orang lain untuk melakukan sholat, haji, memuliakan isteri, menghormat yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta berbuat baik terhadap tetangga maka beliau melaksanakan terlebih dahulu hal-hal tersebut diatas.

Sifat keteladanan ini pernah ditiru oleh Pak Harto ketika menjadi presiden RI selama 32 tahun. Pak Harto ingin jadi orang kaya raya dan ajaran ini melekat bertahun-tahun yang banyak ditiru dan diikuti oleh rakyat Indonesia, akhirnya seluruh lapisan masyarakat cinta pada dunia, bahkan bisa sampai pada tingkat malakah artinya suatu tindakan yang tidak pakai dipikir. Nah itu semua bisa dilawan dengan ‰ÛÏGerakan Kesederhanaan‰Û.

Selanjutnya Gus Mus lebih tertarik membahas tentang pendidikan dan pengajaran. Konsep belajar mengajar yang hendaknya dianut oleh orang Islam khususnya NU adalah konsep pendidikan (tarbiyyah), bukan pengajaran (ta‰Ûªlim) yang hanya sekedar menyampaikan informasi pengetahuan. Ini sesuai dengan jargon UNISNU ‰ÛÏCendekia dan Berakhlakul Karimah‰Û yang memadukan konsep pengajaran dan pendidikan.

Beliau juga menyampaikan agar jangan sampai berhenti belajar, meskipun berhenti bersekolah. ‰ÛÏKita harus membentuk lingkungan yang mencintai ilmu, serta mempraktekkan dari ilmu yang diperoleh dan mempraktekkan akhlakul karimah‰Û. Untuk kemajuan Universitas yang baru berumur tiga semester ini Gus Mus berpesan agar tetap berpegang teguh pada jargonnya.