Gelar Pekerti 2017, UNISNU Gandeng Kopertis VI Jateng

Gelar Pekerti 2017, UNISNU Gandeng Kopertis VI Jateng

Jepara – Sebagai seorang tenaga pendidik, dosen dituntut memiliki kompetensi profesional, pedagodik, kepribadian dan sosial. Kompetensi profesional itu di antaranya harus memiliki kemampuan merancang program pembelajaran dalam jangka pendek dan jangka satu semester.

Untuk itu Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara bekerjasama dengan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah VI Jawa Tengah menggelar pelatihan Pekerti selama 5 hari yang bertempat di kampus UNISNU Jl. Taman Siswa pekeng Tahunan Jepara.

Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) merupakan program pelatihan yang dirancang Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk meningkatkan kompetensi pedagogik para dosen yang diikuti oleh 57 peserta. Pelatihan ini dilaksanakan mulai 20 – 24 Februari 2017, direncanakan hadir dalam pembukaan ini Prof. Dr. DYP Sugiharto selaku Koordinator Kopertis VI Jawa Tengah, Ketua YAPTINU KH. Ali Irfan BA dan Rektor Dr. Sa'dullah Assaidi, M.Ag.

Hadir sebagai pemateri dalam pelatihan Pekerti diantaranya Prof. Dr. Sunandar, M.Pd., Prof. Dr. Hardani Widhiastuti, M.M, Psi., Dr. Lamijan, SH. M.Si., Dr. Katharina Ruspita, M.Pd. serta Sunardi S.S, M.Pd. Semua berada dibawah komando Kopertis, termasuk petunjuk teknis instruktur pelatihan yang di berikan selama 5 hari.

" Selain harus menguasai dasar komunikasi dan keterampilan mengajar, melaksanakan pembelajaran berdasar paradigma baru di perguruan tinggi, merancang dan melaksanakan evaluasi hasil belajar mahasiswa, serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran ". Demikian diungkapkan Nur Rohman, S.Pd. M.Si. selaku Biro Akademik sekaligus ketua panitia.

57 dosen peserta Di akhir pelatihan, para dosen peserta juga diwajibkan membuat sebuah tugas yang digunakan sebagai syarat untuk mendapatkan sertifikat Pekerti dari Kopertis. Sertifikat pekerti dan AA nantinya bisa dikata sebagai pengganti akta V. Fungsinya seperti layaknya SIM guna mengajar di perguruan tinggi. Saat ini akta IV dan V sudah tidak ada lagi, akta IV sendiri digantikan dengan akta mengajar sedangkan pekerti dan A sebagai pengganti akta V.

Selanjutnya model-model pembelajaran inovatif, metode pembelajaran, media dan sumber belajar, penilaian hasil belajar, dan praktek mengajar (praktikum). Di akhir pelatihan, peserta melakukan simulasi mengajar dan diberi penilaian oleh teman sejawat dan instruktur untuk mengevaluasi apa yang sudah dipelajari selama pelatihan. (xpo/humas)