ENERGI CINTA

ENERGI CINTA

ENERGI CINTA

Oleh: Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag.
Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU JEPARA)


"Cinta merupakan daya kosmis yang paling universal dan misterius". Mari kita fahami peranan cinta sebagai faktor dinamis yang mutlak dalam irama kehidupan manusia. Cinta menjadi kunci "penerang" ketika seseorang menyadari, bahwa Allah sumber cinta.

Seorang hamba yang menyesal akan mendapatkan cinta, "Dan mohonlah ampun kepada Tuhan-ku kemudian bertaubatlah (menyesali perbuatannya) kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Penyayang Maha Mencintai (al-Wadud)" (QS 11:90). Juga karena kagum, mendapat cinta, "Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan Dia (pula) menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai (al-Wadud)" (QS 85:12-13).

Cinta itu dalam ranah subjek-objek, mencintai-dicintai dan mengasihi-dikasihi. Itulah sebabnya "cinta harus memuai". "Cinta yang tampak buahnya dalam sikap dan perlakuan, serupa dengan kepatuhan sebagai hasil rasa kagum".

Marilah kita jujur-pastikan pandangan dan langkah kepribadian insani dalam cinta Ilahi. Semua pengalaman keimanan dan amal saleh merupakan tapak dan media menuju ridla-Nya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah Yang Maha Pemurah dan menanamkan cinta (wuddah) kepada mereka (terhadap makhluk-makhluk Allah yang lain) [atau dalam makna lain menanamkan cinta ke dalam hati mereka]" (QS 19:96).

Al-Wadud adalah nama bagi Allah, yang berarti "Dia yang menyenangi atau mencintai kebaikan untuk semua makhluk, sehingga berbuat baik bagi mereka, memuji mereka", demikian ini mirip dengan makna "al-Rahim" hanya saja kepengasihan (rahmat) tertuju kepada yang dirahmati, sedang yang dirahmati itu dalam keadaan butuh.

Tidak membanding antara al-Wadud dan al-Rahim, yang jelas energi cinta bersumber dari Allah. Seperti dalam dunia tasawuf ada doktrin "mahabbah" (cinta), hal ini disebabkan karena cinta tidak dapat dideteksi kecuali melalui gejala-gejala psikologis, sifat-sifat, perilaku dan pengaruh yang diakibatkan pada diri seseorang yang sedang mengalaminya.

Siapakah yang pantas disebut pecinta Allah, seorang sufi al-Junaid menjawab, "Ia adalah seorang hamba yang tidak menoleh pada dirinya lagi, selalu dalam hubungan intim dengan Allah melalui dzikir, senantiasa menunaikan hak-hak-Nya, memandang kepada-Nya dengan matahati, bahkan terbakar hatinya oleh sinar hakekat Ilahi.

Sang Pecinta, meneguk minum dari gelas cinta kasih-Nya, tabir pun tersingkap baginya sehingga sang Maha Kuasa muncul dari tirai-tirai gaib-Nya. Maka tatkala sang Pecinta berbisik, dengan Allah, ia; tatkala diam, bersama Allah, ia.. sungguh, ia.. selalu dengan, demi dan bersama Allah".

Energi cinta akan kita miliki, jika kita menjadi orang yang berkebajikan (muhsin), senantiasa hidup bertaqwa (muttaqin), tergolong orang adil (muqsithin), suka bersuci (mutathahhirin), senantiasa pasrah (mutawakkil) kepada Allah, selalu kembali-taubat (tawwab) kepada Allah, dan punya mental tangguh (shabir).

Karena itu Imam al-Qusyairi melukiskan cinta sebagai maqam (station) terakhir dari "jalan panjang mendaki" (suluk) menuju Allah adalah, "mementingkan kekasih dari sahabat". Artinya, mementingkan hal-hal yang diridlai kekasih --dalam hal ini-- Allah, daripada kepentingan ego diri manusia, jika kepentingan tersebut bertentangan dengan ketentuan Allah.

Setidaknya benar bahwa, "Siapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan sering dan banyak menyebutnya", hingga berarti yang amat dicintai Allah adalah "al-muhsinin", yakni mereka yang berbuat baik terhadap yang berbuat jahat kepadanya, dan atau berbuat lebih baik terhadap orang yang berbuat baik kepadanya.

"Mereka mengutamakan (orang lain), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS 59:9).

Dengan demikian, ia akan menjadi objek sekaligus subjek cinta. Ia akan dicintai serta mencintai, atau dengan kata lain ia menjadi "wadud" dalam batas kemampuannya sebagai makhluk atau hamba. Allahu A'lamu.