Empat Pilar Perkawinan yang Sehat, Landasan Terciptanya Keluarga Sakinah

Empat Pilar Perkawinan yang Sehat, Landasan Terciptanya Keluarga Sakinah

Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara mengikuti acara Bimbingan Perkawinan Pra Nikah Remaja Usia Nikah Selasa – Rabu (1-2/10/2019). Bertempat di auditorium gedung perpustakaan lantai 3 Unisnu, Acara ini diselenggarakan oleh seksi Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara bekerjasama dengan Fakultas Syari’ah dan Hukum.

Kegiatan Bimbingan Perkawinan Pra Nikah Remaja Usia Nikah dihadiri juga oleh Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum ibu Mayadina R.M., M.A, dan Ketua Kementrian Agama Jepara Bapak Drs. Noor Rosyid. Dalam sambutannya, Dekan berharap acara ini dapat mencetak trainer  muda yang berkompeten dalam hal bimbingan perkawinan, terlebih dapat menciptakan pusat bimbingan Konseling perkawinan di Fakultas Syariah dan Hukum. Acara dibuka oleh kepala kemenag Drs. Noor Rosyid.

Narasumber H. Badruddin memberikan kiat-kiat yang harus dilalui setiap pasangan suami istri termasuk planning-planning dalam berkeluarga yang dibangun dalam usia pernikahan awal, yakni selama 5 tahun pertama setelah menikah. Tujuannya supaya mahasiswa mampu memahami dan menghayati makna dari pernikahan dan diharapkan setelah menikah nanti mampu mengimplementasikannya dikehidupan rumah tangga.

Hari kedua Bimbingan Perkawinan Pra Nikah Remaja Usia Nikah diisi dengan dua materi yang disampaikan oleh Ibu Mayadina Rohmi Musfiroh dan Bp. Kuswanto. Materi pertama yang disampaikan oleh Bu Mayadina Rohmi Musfiroh membahas tentang dinamika keluarga sakinah. Beliau memaparkan ada 4 pilar perkawinan yang sehat. Yaitu zawaj (berpasangan), mitsaqan ghalidha (janji yang agung), mu’asyaroh bil ma’ruf (relasi suami istri yang baik), dan prinsip musyawaroh. Keempat pilar tersebut akan membantu untuk menjaga hubungan yang kokoh antar pasangan suami istri dan mewujudkan kehidupan perkawinan yang sakinah mawadah warahmah. Selanjutnya, materi yang kedua dismpaikan oleh Bapak Kuswanto yang menjelaskan tentang langkah mengelola konflik keluarga. Dimulai dengan sumber-sumber konflik keluarga, lalu cara untuk mengatasi konflik, setelah itu faktor penghancur ketahanan keluarga.

Latar belakang kegiatan ini adalah fenomena gugat cerai di Jepara yang tinggi, sehingga membuat hilangnya makna pernikahan, terutama untuk pasangan muda yang baru menikah. Maka atas dasar itu Fakultas Syariah dan Hukum Unisnu Jepara berupaya untuk mengurangi permasalahan tersebut dengan menyelenggarakan kegiatan ini. (lpmbursa)