Berinteraksi Lebih Dekat dengan al-Qur’an

Berinteraksi Lebih Dekat dengan al-Qur’an

Oleh: Abdul Wahab Telah menjadi hal yang sangat maklum, bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulya, kemulyaan tersebut semakin terasa manakala terjajar dan terrangkai berbagai aktifitas ibadah dengan beragam bentuknya mewarnai bulan agung ini, mulai dari puasa, qiyamul lail dalam bentuk tarawih, witir dan yang lain, tadarrus al-Qur’an, I’tikaf, dan sebagainya. Seakan-akan para mukmin begitu tergerak unutuk menghias jiwa mereka dengan sifat-sifat “malakiyyah” dan sama sekali mereka tidak merelakan virus-virus “syaithaniyyah” menjangkiti hari-hari mereka. Kehadiran Ramadhan merupakan momentum yang sangat efektif untuk menginspirasi semua umat menuju fitrah mereka. Di sini kita boleh membayangkan, seandainya tanpa kehadiran Ramadhan, apakah tempat-tempat ibadah akan sepenuh itu?, apakah perilaku para mukmin akan seindah itu?, apakah kejujuran, loyalitas, kedisiplinan, akan terlihat serapi itu? jawabannya tentu “belum”. Sehingga wajar apabila banyak yang mengharapkan agar seluruh bulan adalah ramadhan, bukan hanya permasalahan “pahala” yang berlipat ganda, tetapi karena warna dan dinamika ramadhan begitu ideal untuk selalu diimplementasikan dalam setiap detik-detik proses kehidupan. Kemuliaan Ramadhan juga diperkuat dengan peristiwa besar “diturunkannya” al-Qur’an di dalamnya (QS. Al-Baqarah/2: 185), yang mana al-Qur’an merupakan kitab suci teragung yang pernah ada dalam sejarah peradaban, al-Qur’an merupakan sumber asasi multi dimensi, inspirasi paling ideal bagi tatanan kehidupan baik yang menyangkut dimensi ketuhanan, kemanusiaan, maupun kealaman. Al-Qur’an melampaui segala jenis mukjizat yang pernah ada, sekaligus membedakan “kualitas” umat-umat para Nabi. Apabila Nabi-Nabi dahulu memiliki mukjizat tertentu, maka kebanyakan bersifat “hissiyyah” atau indrawi, artinya bisa dilihat dan disaksikan tetapi tidak bias dikaji dan diteliti secara empiris-logis dan setelah Nabi tersebut meninggal dunia, maka mukjizatnya juga musnah, berbeda dengan mukjizat terbesar Nabi Muhammad yang berupa al-Qur’an, tidak bersifat indrawi, tetapi “aqli”, artinya masuk akal, dapat dikaji dan diteliti secara empiris-logis, bahkan sekian juta orang yang mengkaji al-Qur’an dari berbagai sudut pandang, ternyata sumber ilmu dari al-Qur’an tidak habis juga. Keagungan dimensi kemukjizatan al-Qur’an tidak saja mencerminkan kecerdasan Muhammad serta umatnya, tetapi juga sebagai inspirasi bagi sekalian makhluk untuk selalu mengkaji serta memposisikan al-Qur’an sebagai pedoman teragung kehidupan. Abdullah Darraz dalam “an-Naba’ al-Adzim” memberikan permisalan yang indah terhadap al-Qur’an. Di mana ia mengibaratkan al-Qur’an bagaikan mutiara yang selalu memancarkan kilau cahaya indah jika dilihat dari arah dan sisi manapun, bahkan apabila kita mempersilahkan orang lain untuk memandang mutiara itu tadi, maka boleh jadi orang lain tersebut akan menemukan keindahan yang lebih banyak dari yang kita temukan. Sehingga, kita juga tidak heran apabila al-Qur’an dikaji oleh jutaan orang dari berbagai segi dan sudut pandang. Ada yang mengkaji dari sisi ungkapan dan kata-kata, terdapat pula yang mengkaji dari sisi bacaan dan cara bacanya, ada yang mengkaji dari sisi inspirasi ilmiahnya, terdapat pula yang menyoroti sisi model pensyari’atan hukum-hukumnya yang selalu sesuai dengan siapa saja, kapan saja dan di mana saja, bahkan belakangan ini muncul kajian al-Qur’an yang fokus pada itung-itungan matematis, bahkan terdapat yang terkesan diutak-atik mathuk-kan. Sekedar contoh, Dahi kita mungkin mengernyit, ketika membaca ulasan sisi-sisi kei’jazan al-Qur’an, baik I’jaz lughawi (bahasa), I’jaz ilmi (inspirasi ilmiah), maupun I’jaz tasyri’I (model pensyari’atan), tergambar begitu rigid dan menawan, dalam sisi lughawi misalnya, kata-kata dalam al-Qur’an disebutkan dengan jumlah yang sepadan dengan antonimnya, kata “al-hayyu” yang berarti hidup disebutkan sebanyak 145 kali, persis sama dengan kata “al-mawtu” yang bermakna mati. Begitu pula dengan kata “al-harru” (panas) dan “al-baradu” (dingin) yang sama-sama disebutkan 4 kali. Dan masih banyak contoh yang lain, baik yang berkaitan dengan sinonim, suku kata dengan akibatnya, kata dengan penyebabnya, dan keseimbangan-keseimbangan lain, bahkan keseimbangan khusus, semisal kata “al-yawm” (hari) dalam bentuk mufrad (tunggal), disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 365 kali, seimbang dengan jumlah rata-rata hari dalam setahun, kemudian kata “al-yawm” dalam bentuk tasniyah atau jama’ (yawmaini/ayyam), disebutkan sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah rata-rata hari dalam sebulan, kemudian kata “syahr” yang berarti bulan, hanya disebutkan 12 kali dalam al-Qur’an, sama dengan jumlah bulan dalam waktu setahun. Tentu masih terlalu banyak contoh lain yang terkait dengan sisi lughawi, belum lagi mengenai inspirasi ilmiah yang bahkan belakangan ini menjadi inspirasi utama bahan penelitian para pakar sains dan teknologi di berbagai belahan dunia. Mungkin kita juga masih ingat peristiwa teror yang menimpa gedung WTC (World Trade Center) di Amerika yang terjadi pada tanggal 11 September 2001, bahkan mengenai masalah semacam itu saja, dulu terdapat seorang ilmuan yang menganalisis dengan paradigma utak-atik mathuk tersebut. Katanya, terdapat ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa bangunan yang dibangun atas dasar taqwa tentu lebih baik daripada bangunan yang dibangun atas dasar kecongkakan (di tepi jurang yang runtuh) yang akhirnya membawa mereka ke neraka jahannam. Dan ternyata ayat tersebut tepat berada di Juz 11 (sesuai tanggal kejadian), surat ke 9/at-Taubah (sesuai bulan kejadian), dan di ayat 109 (sesuai jumlah lantai gedung), kemudian kebetulan lagi dalam ayat tersebut terdapat redaksi “jurufin harin” yang berarti “jurang yang runtuh”, sementara konon, jalan menuju WTC itu namanya “Jarvin Harr Street”. Apakah ini kebetulan, tentu jawabannya wallahu a’lam, akan tetapi point-nya adalah bahwa al-Qur’an selalu menarik untuk dikaji bahkan dari sisi yang tak terduga sekalipun. Kemudian yang tidak kalah pentingnya dari peristiwa nuzul al-Qur’an adalah bukan hanya bagaimana model perayaannya, tetapi bagaimana kita juga bisa berinteraksi lebih dekat dan lebih dalam dengan al-Qur’an itu sendiri. Hal ini bisa kita lakukan dengan meningkatkan intensitas membaca, memahami, serta berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan apa yang menjadi ajaran serta tuntunan dari al-Qur’an. Hal ini penting untuk ditekankan, mengingat belakangan ini terlampau banyak orang yang menjadikan mushaf al-Qur’an sebagai hiasan almari dan jarang sekali dibaca, banyak pula orang yang memegang, bahkan membaca al-Qur’an, tetapi perilakunya tidak mencerminkan nilai-nilai agung yang diajarkan oleh al-Qur’an. Al-Qur’an mengajarkan kedamaian, kesetaraan, keadilan, dan berbagai tuntunan hidup dan kehidupan ideal yang apabila diikuti maka akan membawa kita menuju kebahagiaan dunia-akhirat, maka sudah saatnya kita kembali pada al-Qur’an dan menghiasi kehidupan ini dengan akhlaq al-Qur’an. Al-Qur’an adalah perjamuan Allah, sangat rugi orang-orang yang tidak datang di perjamuan Allah, dan lebih rugi lagi orang-orang yang datang di perjamuan Allah akan tetapi tidak bisa menikmati apa-apa dari perjamuan tersebut. Wallahu A’lam.