Berilmu dari Shilaturrahim 'Iedul Fithri 1443 Hijriyah

Berilmu dari Shilaturrahim 'Iedul Fithri 1443 Hijriyah

BERILMU DARI SHILATURRAHIM 'IEDUL FITHRI 1443 HIJRIYAH

Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag.

Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU JEPARA)


Sungguh sikap santun itu perlu karena hakekatnya tawadlu' di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala, juga agar tidak berlebihan membanggakan diri, hingga disadari dengan kelembutan hati  timbul ilmu dari Shilaturrahim'Iedul Fithri. "Aku akan palingkan (tidak memberikan) ayat-ayat-Ku kepada mereka yang bersikap angkuh di permukaan bumi" (QS Al-A'raf/7: 146).

Untuk menjalankan tugas kemanusiaan di dunia ini hingga berpijak dalam ruang-waktu 'Iedul Fithri, Allah melengkapi kita dengan potensi untuk mengetahui sifat, fungsi dan kegunaan segala eksponen sesama insan maupun sesama makhluk ciptaan-Nya. Tidaklah ringan tanggung jawab orang berilmu. Catatan telah menggoreskan gelar yang menggoda hingga jadi fitnah, karena tidak lain berilmu itu memiliki tuntutan agar membaca apa yang tersurat dan yang tersirat dari Kitab Suci .

Bahkan orang berilmu dari shilaturrahim 'Iedul Fithri diharapkan memiliki kaya hati yang tercermin pada sikap beradab meski hanya berilmu sedikit, pada jiwanya melekat sikap ikhlas meski hanya beramal sedikit, yang tak terhingga senantiasa bersyukur meski memiliki sedikit, bahkan selalu ridla (menerima serta puas apa adanya) meski susah dan menderita. Inilah berilmu yang santun, berperangai halus dan baik budi bahasa maupun tingkah lakunya, tampil sabar dan tenang disertai sopan yang penuh rasa belas kasih hingga suka menolong.

Kita tidak berharap dan tidak berkeinginan berlindung pada hawa nafsu, yaitu berbangga diri, karena hanya membuat diri merugi dan tidak berbobot. Kita perlu menyadari: sikap dan tingkah laku yang tidak berpedoman pada basis kehidupan dan sumber nilai-nilai yang benar-baik-indah sebagai Fithratullah tentu hanya bagaikan "debu-debu yang berserakan".

Berilmu dari shilaturrahim 'Iedul Fithri 1443 Hijriyah adalah langkah hamba Allah merasa dan mengaku salah, berarti telah menemukan ilmu. Hal inilah arti literal taqwa yaitu "menjaga diri sendiri". Wallahu A'lam.

Daftar Sekarang