Beragam Budaya Menyambut Lebaran

Beragam Budaya Menyambut Lebaran

Oleh: Azzah Nor Laila, S.Th.I., M.S.I. I Dosen UNISNU Jepara I Sekretaris PC Muslimat NU Jepara 

 

Banyak cara yang dilakukan umat Islam dalam rangka menyambut bulan Ramadan. Mulai dari tadarus al-Qur’an, shalat tarawih, mendengarkan kultum, dan ibadah lainnya. Namun pada akhir bulan Ramadan ritual ibadah tersebut mulai bergeser pada aktifitas lain dengan dalih untuk mempersiapkan lebaran. Barisan shaf jama’ah tarawih mulai berkurang, lantunan tadarus di masjid atau musholla mulai sepi. Akan tetapi mall, pertokoan, pusat perbelanjaan ramai penuh pengunjung. Masyarakat disibukkan dengan shopping pakaian baru, sandal baru, makanan, kue-kue yang disajikan untuk para tamu, serta beragam perhiasan atau accessoris lainnya. Di satu sisi semua itu menggambarkan tingginya budaya konsumtif masyarakat saat menjelang lebaran. Di lain pihak hal itu juga dianggap sebagai bentuk semangat masyarakat menyambut hari raya dengan berhias dan tampil indah.

 

Makna Berhias dalam Al-Qur’an

 

Dalam al-Qur’an kata yang digunakan untuk menunjukkan makna perhiasan secara umum adalah kata zinah dan hilyah. Kata zinah dengan beragam derivasinya sangat banyak disebutkan dalam al-Qur’an. Diantaranya dalam surat Ali Imran: “Dijadikan terasa indah dalam padangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (Q.S. Ali Imran: 14).  Bila dilihat dari arti ayat tersebut, kata yang digunakan adalah zuyyina yang diartikan dijadikan terasa indah. Sederhananya segala hal yang dijelaskan dalam ayat tersebut merupakan perhiasan dunia, diantaranya perempuan, anak, harta benda, emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang.

 

Selain itu kata hilyah terdapat pada surat an-Nahl ayat 14:

وهو الذي سخر البحر لتأكلوا منه لحما طريا وتستخرجوا منه حلية تلبسونها

“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai” (Q.S. An-Nahl: 14).

 

Lafal yang digunakan untuk menggambarkan memakai perhiasan pada ayat tersebut adalah akar kata libas bukan tsaub. Sebagaimana disebutkan pula dalam surat al-Hajj ayat 23 dan Ad-Dukhan ayat 53. Kata libas pada awalnya berarti penutup. Sehingga kata tersebut kemudian digunakan untuk merujuk pada pakaian sebagai penutup aurat. selanjutnya menurut Quraish Shihab cincin yang menutup sebagian jari juga disebut dengan libas berdasarkan pemahaman pada ayat dari surat An-Nahl di atas.

 

Dari beberapa ayat di atas dapat disimpulkan, hakikatnya berhias, berusaha tampil indah, dan ketertarikan pada perhiasan merupakan fitrah manusia. Akan tetapi semua itu perlu kontrol, agar tidak terjerumus pada israf atau berlebihan dalam menyambut lebaran. Melihat akhir ayat surat Ali Imran tersebut “itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”. Hal itu menjadi spirit mengontrol diri dalam menikmati kesenangan hidup. Hari raya Idul fitri perlu diarahkan pada memaknai kembali pada fitrah kesucian diri untuk meraih ridlo Allah. Melalui silaturahim, bermaaf-maafan, dan semangat menjadi pribadi yang lebih baik setelah menjalani puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan.