Bahtsul Masail itu Gerak Cendekia UNISNU

Bahtsul Masail itu Gerak Cendekia UNISNU

Al-Qur'an hingga detik ini tetap masih utuh, tapi bimbingan keagamaan yang otoritatif dan pribadi terputus karena wafatnya Nabi Muhammad. Situasi dan peristiwa terus timbul, bisa diselesaikan dengan cara bijak empat orang khalifah di bawah cahaya Al-Qur'an serta bimbingan dan pelajaran yang mereka terima dan mereka alami hidup bersama Nabi.

Lewat masa empat khalifah bijak (khulafa' rasyidun) mulai sekitar tahun 50-an Hijriyah (670-an) mulai bermunculan aliran teologi (pemikiran Kalam) dan kelahiran fiqh tahap pertama. Pada era ini menarik untuk dicatat adalah gerak cendekia berupa fenomena metodologi keilmuan Islam dalam ketiadaan bimbingan yang hidup dari Nabi Muhammad dan generasi Sahabat Nabi yang paling awal.

Ijtihad memang harus dilakukan, jika tidak ada nash dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Bahkan ijtihad merupakan cara terbaik memuliakan Al-Qur'an lewat menjadikan Kitab Suci ini fungsional dalam menjawab problem (masail). Mengikuti spirit ijtihad, pencurahan potensi daya pikir untuk mendapatkan hukum ataupun kepastian, maka akurasi metodologi keilmuan Islam cenderung jadi madzhab, yang identik dengan jalan pikiran dan teori dalam menggali hukum.

Karena itu madzhab perlu dipelajari dengan mengenali tokoh seperti faqih (ahli fiqih, ahli ilmu tertentu), ahlul-haq  (ahli yang kompeten) maupun mujtahid, yang banyak hal ditemukan di dalam kutub al-turats (kitab warisan ulama salaf dan kompeten). Urgensi madzhab dan "kutub al-turats" justru diperoleh tingkat akurasi ilmiah, karena memuat sandaran (sanad/isnad) dari seorang faqih kepada seorang faqih lainnya, mengacu pada petunjuk (al-dalil berupa nash atau produk ijtihad), menjadikannya prinsip dasar (al-ashl), bisa dikualifikasi sebagai metode (al-manhaj), bisa dipedomani (al-qa'idah), menjadi produk kredibel (al-muttatsiqah), terbuka (al-munfatihah) untuk dikritik, dan merupakan produk hukum yang terjaga karena banyak orang berilmu khidmah (al-makhdumah) terhadap madzhab itu.

Gerak Cendekia UNISNU terlihat pada fenomena Bahtsul Masail. Bahts  adalah membahas, identik dengan kegiatan riset, investigasi dan bukan saja mencari atau membuktikan kebenaran tetapi bagi akademisi yang terpenting "merumuskan teori". Sedang problem atau masalah, tentu karena tantangan dan jarak antara idealitas dengan realitas perlu dipertemukan. Seperti Hadits Nabi mendorong pemuda agar menikah dengan kata "al-ba'ah", bermakna nikah. Ahli Hadits beri komentar, maksudnya adalah "al-mu'nah" yang berarti bahan makanan.

Semestinya insight  pengkaji/periset dalam Bahtsul Masail tidak akan mencermati teks-teks kutub al-turats semata, pastinya justru merespon konteks dan keniscayaan kehidupan masyarakat dewasa ini. Nazhar 'ilali  (menalar motif) dalam bahtsul masail pada komunitas akademisi perlu dikembangkan, sebagai keniscayaan gerak Cendekia.

Allahu A'lamu bish-shawab


Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag.

Rektor Unisnu Jepara