Allahush-Shamad

Allahush-Shamad

"Allah Tempat meminta segala sesuatu", surah 112 dengan nama Al-Ikhlash --bernakna tulus ikhlas dalam bertauhid-- ini singkat tapi tegas, adalah tepat sekali dipandang oleh Tradisi Islam (al-Sunnah) sebagai surah yang menunjukkan esensi Al-Qur'an, yang menyebut Allah sebagai al-Shamad . Arti al-Shamad adalah "batu karang kokoh yang tidak dapat digoyahkan atau dihancurkan, tidak mempunyai retak atau pori, dan sebagai tempat berlindung dari terpaan bencana". Jika berlindung kepada selain "al-Shamad" pasti kita merugi.

 

Karena itu pula Allah al-Mujib, yakni Yang Maha Memperkenankan doa atau permohonan hamba-hamba-Nya. Sebagai satu-satu-Nya tempat berlindung, Dia yang menyambut permintaan dengan memberinya bantuan, mengabulkannya.. permohonan yang terpaksa dengan kecukupan, bahkan memberi sebelum dimohonkan. Ini hanya dapat dilakukan oleh Allah al-Mujib, karena hanya Dia yang mengetahui kebutuhan dan hajat setiap makhluk sebelum bermohon.


Sepatutnyalah manusia itu memohon kepada Tuhan-nya. Bahkan berdoa sangat dianjurkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya, doa itu saripati ibadah ( mukhul-'ibadah ), secara tegas Allah menyatakan, "Katakanlah! Tuhan-ku tidak menghiraukan kamu seandainya tidak ada doamu" (QS 25:77). "Berdoalah kepada-Ku niscaya Ku-perkenankan, sesungguhnya orang-orang yang angkuh beribadah kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina" (QS 40:60). Marilah kita sebagai hamba dan makhluk lemah, kebutuhan kepada Allah kita seharusnya tak bosan merunduk berdoa kepada-Nya.

 

Kalau saja tidak ada teks keagamaan yang menyatakan "Allah Maha Memperkenankan", maka ayat itu dan sejenisnya merupakan bukti bahwa Allah sangat memperkenankan doa. Bukan sifat al-Mujib yang disebut di dalam Al-Qur'an tetapi juga kata kerja yang menunjuk kepada sifat tersebut. Firman-Nya, "Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Hai Muhammad) tentang Aku, (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku perkenankan doa seorang yang berdoa --apabila ia berdoa-- maka hendaklah ia memperkenankan (panggilan)-Ku dan percaya kepada-Ku" (QS 2:186).


Orang berdoa itu, utamanya terlebih dulu "memperkenankan panggilan Allah, yakni melaksanakan ajaran agama", karena itu makanan haram jangan dimakan, pakaian haram jangan dikenakan.. agar doanya dikabulkan. Di samping itu Allah berfirman, "Inna Rabbiy Qaribun Mujib ", "Sungguh Tuhan-ku amat dekat dan memperkenankan (doa hamba-hamba-Nya). Karena itu tidak perlu berteriak mengeraskan suara ketika berdoa. "Berdoalah kepada Tuhan-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas" (QS 7:55). "Dan berdzikirlah/sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" ( QS 7:205).

 

Allahu A'lamu.


Dr. H. Sa'dullah Assa'idi, M.Ag.

Rektor Unisnu Jepara