9 Alasan Mengapa Mahasiswa NU Harus Gabung PMII

9 Alasan Mengapa Mahasiswa NU Harus Gabung PMII

Menjelang tahun akademik baru di lingkungan kampus, Maba-Miba (sebutan untuk mahasiswa baru) biasanya disuguhi pelbagai tawaran untuk bergabung dengan organisasi kemahasiswaan. Salah satu organ ekstra kampus yang "recommended" untuk diikuti adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Setidaknya terdapat sembilan alasan sebagai berikut:

  1. PMII adalah sayap organisasi NU di bidang kemahasiswaan  

Dengan aktif di PMII, sanad ke-NU-an mahasiswa tidak terputus. Membesarkan PMII sama juga dengan membesarkan NU sebagaimana kita berhidmat di IPNU-IPPNU, GP. Ansor, dan Banom NU lainnya.

  2. Mengasah kemampuan akademik  

PMII menyediakan ruang-ruang mediasi intelektual sesuai dengan kualifikasi akademik mahasiswa di masing-masing program studi. Berbeda dengan proses perkuliahan di kelas, belajar di PMII tidak dibatasi sks tertentu. Bahkan, disamping mendalami disiplin ilmu pengetahuan berbasis jurusan, PMII juga membekali kadernya untuk mempelajari materi-materi lintas keilmuan (inter-multidisipliner). Semuanya bertujuan untuk membangun nalar kritis (critical thinking).

  3. Mempertajam skill non-akademik  

Selain faktor kecerdasan akademik, kesuksesan mahasiswa ditopang oleh kecakapan non-akademik yang bisa diperoleh dari luar kampus. Di PMII, semuanya ada. Misalnya, skill kepemimpinan (leadership), bicara di depan publik (public speaking), teknik lobi (lobbying), orasi, metode fasilitasi forum, jurnalistik, manajemen organisasi, dan masih banyak lagi. Kita mustahil menemukan materi-materi mahal tersebut di dalam kelas.

  4. Belajar berjejaring  

Sampai sekarang, usia PMII memasuki 60 tahun (lahir 17 April 1960). Bagi organisasi kemahasiswaan, tentu capaian ini mengandung prestasi. Di antaranya, PMII banyak melahirkan alumni yang memegang lini-lini strategis dalam struktur sosial. Mulai dari Kiai, akademisi, politisi, enterpreneur, teknokrat, pegawai negeri, menteri, hingga guru ngaji. Mereka saling berjejaring dalam Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII. Kapanpun dan di manapun, mahasiswa bisa memanfaatkan luasnya jaringan PMII yang bersifat nasional.

  5. Belajar adaptasi dengan kultur perguruan tinggi  

PMII menyiapkan mahasiswa untuk cepat beradaptasi dengan budaya akademik kampus. Kultur persekolahan berbeda dengan iklim perguruan tinggi. Mahasiswa tak lagi menjadi obyek pasif yang pasrah begitu mendengar ceramah dari para dosennya. Mahasiswa dianggap sebagai orang dewasa yang punya peran penting dalam mewarnai kualitas perkuliahan. Dengan banyak diskusi, membaca, dan menulis, mahasiswa bisa bebas bertukar gagasan tanpa harus diselimuti perasaan canggung. PMII mengajarkan itu semua.

  6. Belajar tanggung jawab sosial  

Dengan jargon zikir, pikir, dan amal saleh, PMII mendidik kadernya untuk responsif terhadap isu-isu krusial yang sedang "in" di tengah masyarakat. Berbaju mahasiswa, bagi banyak orang, adalah status yang prestisius. Akan tetapi, kita tak boleh hidup di menara gading yang jauh dari realitas sosial. Mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial memerangi kemiskinan, kesenjangan pendidikan, korupsi, narkoba, dan aneka jenis penyakit masyarakat lainnya.

  7. Belajar menjadi agen perubahan  

Mahasiswa adalah agen perubahan sosial (agent social of change). Melalui sistem kaderisasi yang matang, PMII mencetak kadernya untuk menjadi orang yang solutif di lingkungannya. Sebagai kaum cerdik-cendekia, tidak elok ketika mahasiswa hanya melontarkan kritik tanpa aksi konkret.

  8. Belajar menjadi muslim moderat  

PMII seperti juga NU berpaham moderat yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, keseimbangan, dan keadilan. Kader PMII dilatih secara terus menerus agar mengusung ideologi Islam yang santun dan ramah. Bukan sebaliknya, Islam yang keras dan marah. Tak pernah ada ceritanya, alumni PMII terlibat dalam tindak kejahatan terorisme.

  9. Belajar menjadi insan ulul albab  

Visi PMII sebagaimana termaktub dalam Anggaran Dasar (AD PMII) BAB IV pasal 4 ialah "Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia". Tujuan ini bisa disederhanakan dengan istilah insan ulul albab, yakni profil manusia yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah.

Jadi, segera temukan PMII di UNISNU JEPARA dan selamat bergabung dalam organisasi pergerakan berpaham Aswaja An-Nahdliyyah.


Ahmad Saefudin, M.Pd.I.

Alumni PMII Jepara, Dosen Unisnu Jepara